Coretan Mahasiswa: Produktivitas Beracun: Saat “Sibuk” Dijadikan Ukuran Harga Diri Mahasiswa
Ada masa ketika kata “sibuk” menjadi semacam lencana kehormatan bagi mahasiswa. Kita mengucapkannya dengan bangga, seolah itu menandai bahwa hidup kita berjalan dengan baik. Kita sibuk kuliah, organisasi, kerja sambilan, mengejar mimpi sibuk dengan apa pun yang dapat membuat kita terlihat “cukup”. Namun tanpa disadari, perlahan kesibukan itu berubah menjadi beban samar yang menekan dada, tetapi tetap kita pikul agar terlihat tegar. Inilah yang disebut produktivitas beracun.
Produktivitas beracun bukan sekadar bekerja keras, melainkan perasaan bahwa kita harus selalu bergerak. Seakan-akan diam adalah dosa, dan istirahat adalah kemunduran. Kita mulai menilai diri dari seberapa banyak hal yang kita selesaikan hari itu, bukan dari bagaimana kita menjaga diri. Kita menatap daftar tugas yang tak pernah habis dan berpikir, “Jika aku berhenti, aku tertinggal.” Pelan-pelan, tanpa kita sadari, kita bekerja bukan lagi untuk berkembang, tetapi karena takut dianggap tidak cukup.
Fenomena ini seperti udara yang kita hirup setiap hari. Ada teman yang aktif di beberapa organisasi sekaligus. Ada yang bangga tidur dua jam karena lembur tugas. Ada yang memamerkan jadwal padatnya, seolah itu bukti bahwa ia layak diperhitungkan. Melihat semua itu membuat kita tak ingin kalah, ikut berlari, kut menumpuk kegiatan. Kita ingin menjadi seseorang yang tampak “bernilai”.
Namun ada hal yang jarang dibicarakan, kelelahan yang tidak selalu terlihat. Ada mahasiswa yang datang ke kelas dengan senyum, padahal dadanya terasa sesak. Ada yang duduk dalam rapat, tetapi pikirannya kosong karena kurang tidur. Ada yang tampak produktif, tetapi diam-diam merasa hampa. Di balik pencapaian dan aktivitas itu, ada tubuh yang kelelahan dan pikiran yang mulai retak.
Dan ketika semuanya mulai terlalu berat, produktivitas itu berubah menjadi racun. Kita kehilangan waktu untuk diri sendiri. Kita lupa bagaimana rasanya tidur nyenyak. Kita makan sekadarnya, bukan dengan sadar. Kita menunda istirahat sampai tubuh memberi peringatan dengan sakit, burn out, atau air mata yang jatuh tanpa alasan. Dan anehnya, di tengah semua itu, kita tetap berkata pada diri sendiri, “Aku harus maju. Semua orang juga sedang berusaha keras.”
Padahal, menjadi sibuk bukan ukuran berharga. Nilai diri tidak pernah ditentukan oleh seberapa padat jadwal kita atau seberapa banyak hal yang bisa kita banggakan. Nilai diri tumbuh dari bagaimana kita mencintai diri sendiri, menjaga hidup tetap utuh, dan memperlakukan tubuh yang setia menemani setiap langkah.
Kadang, keberanian terbesar seorang mahasiswa bukanlah menambah aktivitas, tetapi menguranginya. Berani berkata “cukup”, meski orang lain terlihat terus berlari. Berani memilih tidur yang layak daripada memaksa lembur hingga pagi. Berani mengevaluasi diri, apakah aku melakukan ini untuk berkembang, atau hanya agar terlihat berhasil?
Mungkin pada akhirnya kita akan sampai pada kesadaran bahwa istirahat bukan musuh produktivitas, tetapi bagian penting dari hidup yang sehat. Bahwa menjadi manusia bukan berarti selalu bergerak, melainkan mampu mendengarkan tubuh dan hati. Bahwa kita tidak harus selalu “baik-baik saja” agar dianggap mampu.
Dan ketika suatu hari kamu merasa lelah, ingatlah, hidup bukan perlombaan. Tidak ada hadiah untuk mereka yang paling sibuk. Tetapi ada kedamaian untuk mereka yang berani merawat diri di tengah hiruk-pikuk dunia. Karena pada akhirnya, kesehatan baik fisik maupun mental adalah rumah pertama yang harus selalu kita jaga.
“Hidup bukan tentang berlari tanpa henti, tapi tentang mengenali kapan harus berhenti”.












No Comments