KAMAJAYA Scholarship / Coretan Mahasiswa  / Coretan Mahasiswa: Belajarku Tak Sama, tapi Bukan Berarti Aku Tertinggal

Coretan Mahasiswa: Belajarku Tak Sama, tapi Bukan Berarti Aku Tertinggal

Dalam ruang kelas, kita semua duduk di barisan yang sama, mendengarkan dosen yang sama, dan mengerjakan tugas yang sama. Tapi sesungguhnya, tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar belajar dengan cara yang sama. Sebagai mahasiswa, saya sering merasa kecil hati ketika melihat teman-teman yang tampaknya dengan mudah menguasai materi kuliah. Mereka bisa menjawab pertanyaan dosen dengan percaya diri, aktif presentasi, nilai tugasnya bagus, bahkan masih sempat ikut organisasi atau kerja part time. Sementara saya, bahkan untuk memahami satu topik, saya harus membaca berulang kali, mencari video penjelasan, mencatat ulang, dan kadang tetap merasa tidak cukup paham. Rasanya seperti berlari di lintasan yang sama, tapi kaki saya lebih berat, dan napas saya lebih pendek.

Awalnya saya mengira, mungkin saya tidak cukup pintar. Atau mungkin saya memang salah jurusan. Tapi semakin lama saya belajar, saya menyadari kalau bukan saya yang salah, tapi cara pandang saya yang keliru. Saya terbiasa membandingkan proses saya dengan hasil akhir orang lain, tanpa tahu perjuangan di baliknya. Saya lupa bahwa setiap orang punya jalan belajarnya sendiri, dan semua proses itu sah. Ada teman yang belajar paling efektif di malam hari, ada yang harus diskusi langsung agar paham, ada yang butuh ruang sunyi total, ada yang sambil dengerin musik. Bahkan ada yang baru bisa belajar dengan tenang setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga atau shift kerja. Proses belajar itu personal, dan sangat tergantung pada ritme hidup serta kondisi mental masing-masing. Tidak bisa dipukul rata.

Yang sering kita lupa, belajar bukan hanya soal hasil ujian atau angka di transkrip nilai. Belajar adalah soal melatih konsistensi, mengasah pemahaman, dan membangun ketahanan diri dalam menghadapi kesulitan. Ada yang cepat, ada yang pelan. Tapi semua berproses, dan semua valid. Di era media sosial, kita makin mudah melihat pencapaian orang lain seperti IPK tinggi, lolos magang di perusahaan besar, menang lomba, jadi ketua organisasi. Tapi yang tidak terlihat adalah jam-jam panjang mereka begadang, kegagalan mereka yang tak dipublikasikan, atau perjuangan emosional yang mereka sembunyikan rapat-rapat. Maka, membandingkan proses kita dengan pencapaian orang lain hanya akan mencuri ketenangan kita. Saya percaya, tidak semua orang dilahirkan untuk paham sesuatu dalam sekali dengar. Tapi setiap orang punya potensi untuk berkembang jika diberi waktu dan kesempatan. Tidak apa-apa jika proses kita lebih lama. Tidak masalah kalau kita harus mengulang. Yang penting, kita tidak berhenti.

Kepada teman-teman mahasiswa yang mungkin merasa lebih lambat, ingatlah bahwa kamu tidak gagal hanya karena kamu butuh waktu lebih lama dari orang lain. Belajarmu tak sama, tapi bukan berarti kamu tertinggal. Setiap langkahmu tetap berarti, selama kamu memilih untuk terus maju. Dan kalau suatu hari kamu merasa kecil karena melihat pencapaian temanmu, berhentilah sejenak. Lihat ke dalam diri. Lihat betapa jauh kamu sudah berjalan. Kamu sedang bertumbuh dengan cara dan waktu yang unik. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Image by Jan Vašek from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA