Konsep Bimbingan Konseling

KAMAJAYA Scholarship / Konsep Bimbingan Konseling

Konsep Bimbingan Konseling

Latar Belakang

Pendidikan (formal) merupakan salah satu faktor penting bagi kualitas pribadi seseorang, masyarakat, dan bangsa atau negara. Aman Sharma, dalam tulisannya yang berjudul What are the functions of education towards individual, society and country?,1 menyatakan bahwa bagi individu pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan potensi bawaan, untuk mengubah perilaku melalui pembiasaan dan keteladanan, untuk mengembangkan secara integral baik fisik, mental, maupun spiritual, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik, untuk mengembangkan kepribadian, dan untuk meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap berbagai macam situasi dan lingkungan. Sementara itu, bagi masyarakat, pendidikan berperan untuk mendorong perubahan dan kontrol sosial, untuk merekonstruksi pengalaman sepanjang proses kehidupan, untuk mengembangkan dan menginternalisasikan nilai-nilai sosial dan moral, dan untuk menyediakan peluang serta kesetaraan hidup. Sedangkan bagi bangsa dan negara, pendidikan mempunyai fungsi strategis untuk meningkatkan semangat nasionalisme dan tanggung jawab sosial, untuk melatih kemampuan dan keterampilan kepemimpinan, untuk mewujudkan dan memelihara kesatuan bangsa, dan untuk mewujudkan perkembangan bangsa secara keseluruhan.

Mengingat peran penting pendidikan tersebut, kita perlu mendorong dan membantu generasi muda kita untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin, paling tidak sampai tingkat perguruan tinggi. Mengapa perguruan tinggi? Sebab, pendidikan tinggi mempunyai kaitan, peranan, dan tanggung jawab langsung, baik terhadap individu maupun masyarakat dan negara. Para mahasiswa yang dididik di perguruan tinggi adalah orang-orang yang sudah terpenuhi kebutuhannya akan pendidikan dasar dan secara bebas memilih untuk mengembangkan dan memperdalam potensinya dalam bidang keahlian tertentu agar semakin menjadi pribadi yang berkualitas dan siap untuk berkiprah dalam masyarakat.2 Mereka bukanlah sekedar generasi penerus – sebab banyak hal tidak baik, misalnya praktik korupsi, suap-menyuap, ketidakjujuran, ketidakadilan, dan lain-lain, yang justru harus dihentikan – melainkan generasi masa depan dan generasi pembaru bagi masyarakat kita. Mereka sangat diharapkan dapat menjadi future leaders yang mampu merekonstruksi dan merenovasi bangsa kita.

Sebagian generasi muda kita tidak ada yang kesulitan untuk mengenyam pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi. Namun, cukup banyak juga di antara mereka yang kesulitan, bukan pertama-tama pada motivasi dan kemampuan intelektual, melainkan lebih pada pembiayaan. Oleh karena itu, kita menyambut baik keberadaan KAMAJAYA Scholarship yang mempunyai perhatian besar terhadap pendidikan generasi muda kita, khususnya melalui beasiswa pendidikan.

Arah Pendampingan

Kita menyadari bahwa para mahasiswa yang mengalami kesulitan secara finansial, seringkali mengalami juga permasalahan-permasalahan lain, misalnya berkaitan dengan keluarga, kepribadian, dan relasi sosial. Oleh karena itu, mereka tidak cukup hanya dibantu secara finansial saja, tetapi juga bimbingan atau pendampingan. Pendampingan ini diarahkan untuk membantu mereka semakin mengenal diri, semakin mempunyai konsep diri yang positif (= semakin mampu bersyukur), dan semakin antusias untuk merintis dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Selain itu, melalui pendampingan ini, mereka juga diharapkan dalam tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang integral dan seimbang dalam berbagai aspek hidupnya, baik knowledges (pengetahuan, intelektualitas), skills (keterampilan untuk menerapkan pengetahuan dan ilmunya dalam karya dan pekerjaan) maupun attitude (sikap hidup yang baik, yang meliputi kehidupan spiritualitas, emosional, dan sosial-relasional dalam hidup sehari-hari).

Lebih lanjut lagi pendampingan juga diharapkan membentuk mereka untuk memiliki rasa peduli kepada sesama yang kurang beruntung dan aktif melayani sesama sesuai dengan talenta masing-masing di dalam cahaya kebenaran. Dengan demikian program KAMAJAYA Scholarship akan menjadi program beasiswa abadi karena alumni dari program ini terus berkembang dengan menjadi donatur bagi adik-adik penerima Beasiswa KAMAJAYA selanjutnya. Pay it Forward!

Praksis Pendampingan

Ibarat sebuah pohon buah, para mahasiswa penerima beasiswa tentunya pernah dan sedang tumbuh dalam jenis tanah tertentu. Saat ini, mereka sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Kelak, mereka diharapkan mampu menghasilkan buah yang berkualitas dan berguna bagi banyak orang. Oleh karena itu, praksis pendampingan dilaksanakan dengan membantu anak-anak untuk mengenali jenis tanah mereka kemudian membantu mengolahnya supaya menjadi lebih subur bagi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam segala aspeknya secara seimbang.

Secara konkret, masing-masing anak diwajibkan melakukan konseling kepada para konselor sebelum mereka secara resmi menerima beasiswa dari KAMAJAYA dan kemudian melakukannya secara rutin, minimal satu semester satu kali. Dalam kesempatan konseling itu, diharapkan konselor membantu masing-masing anak untuk “mencangkul dan menggali” pengalaman hidup anak, baik di masa lalu maupun di masa kini. Kemudian, secara kontinyu membantunya untuk “menyirami, menggemburkan, menyuburkan dan memupuk” serta sejauh perlu juga “memangkas dan membuang” hal-hal yang sekiranya justru mengganggu pertumbuhan dan perkembangan si anak.

Beberapa aspek yang sekiranya baik untuk digali dan dicangkul dalam diri setiap anak adalah:

1. Data diri anak, yang meliputi nama lengkap, nama panggilan, paraban (kalau ada), tempat dan tanggal lahir. Kalau anak mempunyai nama paraban, baik untuk digali sejarah dan maknanya, mengapa nama itu muncul. Biasanya, nama paraban berkaitan dengan ciri fisik, sifat atau karakter khas, dan kebiasaan tertentu yang bisa bernada positif atau negatif. Oleh karena itu, anak perlu dibantu untuk semakin mengenal dirinya dan gejolak-gejolak yang muncul dalam dirinya: Apakah ia menerima dengan senang hati paraban itu; apakah ketika anak sudah berubah, paraban itu tetap; dan lain-lain.

2. Keluarga, di mana anak lahir, tumbuh dan berkembang. Anak diminta untuk bercerita mengenai keluarganya sejak ia kecil sampai sekarang. Siapa saja yang tinggal di rumah? Pernah atau seberapa sering pindah-pindah rumah dan mengapa? Apakah ada peristiwa-perintiwa penting dan signifikan yang terjadi dalam keluarga? Apa yang dibuat atau dilakukan anak dalam keluarga selain belajar? Bagaimana keluarga, terutama orangtuanya, menghayati hidup spiritual-keagamaan dan sosial-kemasyarakatan? Bagaimana perasaan, sikap dan penilaian anak terhadap kedua orangtua dan keluarganya (bangga, sayang, marah, jengkel, benci)? Secara khusus, perlu digali kondisi ekonomi keluarga karena hal ini yang merupakan salah satu penyebab anak perlu dibantu dalam biaya perkuliahan: bagaimana kondisi ekonomi keluarga dari waktu ke waktu sampai sekarang (ada yang sebelumnya berkecukupan, tapi karena bangkrut, tertipu atau adanya masalah lain, menjadi kesulitan); bagaimana keluarga, khususnya bapak dan ibu, menanggapi perubahan dan kesulitan ekonomi tersebut; apa usaha konkret yang dilakukan untuk bangkit, dan lain-lain.

3. Analisis SWOT pribadi anak. Untuk membantu anak-anak semakin mengenal diri mereka, kiranya perlu dilakukan Analisis SWOT sederhana yang dilakukan oleh anak sendiri dalam bimbingan pendamping (konselor). Anak-anak diminta untuk mengenali situasi dirinya dengan membuat daftar tentang apa saja yang menjadi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats). Setelah masing-masing anak membuatnya, mereka diajak untuk mencermati masing-masing item sehingga mereka sungguh-sungguh semakin mengenal diri mereka. Berkaitan dengan aspek kekuatan dan kelemahan, kiranya yang perlu diperhatikan adalah tiga aspek ini, yaitu: knowledges, skills, dan attitude: apa kekuatan dan kelemahan masing-masing aspek tersebut. Setelah itu, anak diajak untuk mensyukuri semua hal positif baik yang ada dalam dirinya (kekuatan) maupun di luar dirinya (peluang) serta menerima atau berdamai dengan hal-hal negatif baik yang ada dalam dirinya (kelemahan) maupun di luar dirinya (ancaman). Akhirnya, mereka diajak untuk menggunakan hasil Analisis SWOT pribadi ini sebagai bahan untuk menyusun strategi dalam belajar, berinteraksi sosial, dan menjalani hidup sehari-hari demi perkembangan diri yang lebih baik dan demi masa depan yang dicita-citakan.

4. Lingkungan hidup anak, baik secara sosial maupun geografis. Anak diminta untuk bercerita mengenai lingkungan hidupnya. Di daerah mana ia tinggal (perkotaan, perdesaan, pegunungan)? Mayoritas penduduk bekerja sebagai apa? Seperti apa karakteristik teman-teman sepergaulan anak? Apa saja keterlibatan anak dalam kehidupan bersama di masyarakat?

5. Riwayat pendidikan anak. Anak diminta untuk bercerita mengenai sekolahnya dari waktu ke waktu. Di nama saja anak mengenyam pendidikan sejak TK sampai SMA? Bagaimana prestasi anak baik formal (nilai raport) maupun informal (ekstrakurikuler dan kegiatan di luar sekolah)? Adakah hal-hal yang membuat anak merasa bangga atau kecewa dengan dirinya (prestasinya)? Siapa yang membiayai sekolah?

6. Masa sekarang anak. Anak diminta untuk menceritakan hidupnya saat ini. Bagaimana kuliahnya? Bagaimana kehidupan spiritual-keagamaannya? Bagaimana kehidupan sosial-relasional anak? Apakah anak punya relasi khusus dengan lain jenis (pacaran)? Jika “ya” bagaimana gaya pacarannya dan apa pengaruhnya? Seperti apa karakteristik teman-teman sepergaulan anak, lebih-lebih teman/kelompok yang dekat, “group/gank”nya? Apakah anak mempunyai kegiatan atau bakat khusus yang sedang dikembangkan? Apakah saat ini sedang mengalami permasalahan/persoalan tertentu? Bagaimana sikap dan penilaian anak terhadap hidupnya saat ini?

7. Masa depan anak. Apa mimpi anak akan masa depannya? Ingin menjadi orang seperti apakah dia di kemudian hari? Untuk mewujudkan impiannya tersebut, modal apa yang saat ini sudah dimiliki dan modal tambahan apa yang harus dimiliki atau dirintis sejak sekarang?

8. Lain-lain.

Beberapa poin pertanyaan di atas hanya sekedar alat bantu saja. Sangat dimungkinkan – dan hendaknya memang demikian – pembicaraan mengalir sesuai dengan situasi yang ada. Namun, paling tidak pada akhir konseling, pendamping mendapatkan data-data pokok mengenai pribadi anak (hal-hal positif dan negatif, serta pergulatannya) keluarga, lingkungan hidup, pendidikan, situasi masa kini dan impian masa depan anak. Setelah itu, kemudian ditarik kesimpulan mengenai knowledges, skills dan attitude anak. Bagaimana masing-masing aspek tersebut dan bagaimana kesemimbangannya?

Hal lain yang sangat membantu proses konseling adalah anak diminta untuk mempersiapkan atau membuat tulisan mengenai dirinya. Secara bebas, anak diminta untuk mempresentasikan atau meperkenalkan dirinya terkait dengan poin-poin di atas. Kemudian, pada saat konseling, konselor tinggal melakukan pendalaman dan penajaman. Untuk anak-anak yang sudah lama (bukan anak baru) tentunya data dan tulisan mereka sudah ada, maka mereka cukup menuliskan pengalamannya untuk saat ini saja (no. 6), impian masa depan (No. 7), dan hasil pengolahannya pada bidang kepribadian berkaitan dengan Analisis SWOT pribadinya (No. 3), ditambah dengan hal-hal khusus (kalau ada) yang sedang menjadi fokus hidup atau pergulatannya yang aktual.

Tindak Lanjut Konseling

Tindak lanjut konseling untuk setiap anak tentunya berbeda-beda sesuai dengan situasi masing-masing anak. Untuk itu, tindak lanjut konseling tergantung pada proses dan ditentukan bersama antara konselor dengan anak yang bersangkutan untuk bersama-sama “menyirami, menggemburkan, menyuburkan dan memupuk” dan sejauh perlu “memangkas dan membuang” serta mengobati penyakit/masalah yang ada.

Format Laporan Konseling

Untuk Format Laporan, terdiri dari 4 bagian. Bagian pertama berupa data pelaksanaan konseling (nama konselor, nama penerima beasiswa, tanggal konseling, dan semester/tahun akademik). Bagian kedua berisi latar belakang kehidupan penerima beasiswa yang meliputi kondisi keluarga, lingkungan, pendidikan, masa sekarang dan masa depan. Bagian ketiga berisi Analasis SWOT pribadi yang digali bersama-sama (konselor dan konseli). Sedangkan bagian terakhir merupakan hasil kesimpulan yang berhasil digali dari konseling tersebut berupa perkembangan knowledges, skills dan attitude. Laporan ditutup dengan rekomendasi dari konselor. Laporan konseling diinput oleh konselor secara online melalui ASOKA. Laporan konseling pada dasarnya bersifat rahasia, hanya bisa diakses oleh Konselor, Konseli (yang bersangkutan/mahasiswa penerima beasiswa dan otoritas yang berwenang (dalam hal ini adalah pengurus Beasiswa KAMAJAYA).

Penutup

Demikian gagasan saya mengenai konseling bagi para mahasiswa yang menerima Beasiswa KAMAJAYA. Tentu saja gagasan ini sangat tidak sempurna dan membutuhkan masukan dari banyak pihak, terutama teman-teman konselor. Maka, masukan sangat diharapkan demi lebih baiknya pendampingan kita pada anak-anak.

Yogyakarta, 31 Januari 2018
Salam dan doa,
Rm. Ag. Agus Widodo, Pr

1 http://www.preservearticles.com/201102244178/what-are-the-functions-of-education-towards-individual-society-and-country.html
2 Melani Walker, Higher Education Pedagogies (Maidenhead, Open University Press/Society for Research into Higher Education, 2006), 45-46.

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA