Kisah: Sembilan Tahun KAMAJAYA Scholarship: Menyalakan Harapan, Menggerakkan Kepedulian
Sembilan tahun bukan sekadar penanda waktu bagi KAMAJAYA Scholarship. Usia ini adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan, mensyukuri setiap pertolongan yang telah menjadi jalan bagi banyak mahasiswa, sekaligus meneguhkan kembali arah perjuangan ke depan. KAMAJAYA Scholarship lahir dari keprihatinan yang sederhana, tetapi sangat nyata: bagi anak dari keluarga kurang mampu, bertahan hidup saja merupakan perjuangan; apalagi melanjutkan pendidikan tinggi. Di tengah banyaknya beasiswa yang terutama menitikberatkan prestasi akademik, KAMAJAYA hadir memberi ruang bagi mereka yang berpotensi, memiliki daya juang, namun terancam menghentikan kuliah karena persoalan ekonomi.
Gagasan tersebut bertumbuh melalui komunikasi antara R. Maryatmo, Hadisantono, dan Hutomo Mugi Santoso, lalu diwujudkan bersama para penggerak KAMAJAYA. Pada 31 Juli 2017, berdirilah KAMAJAYA Scholarship di bawah lindungan Santo Ignasius dari Loyola. Sejak awal, program ini mengambil langkah yang berani: memprioritaskan mahasiswa yang terancam putus kuliah akibat keterbatasan finansial tanpa menjadikan nilai akademik sebagai satu-satunya ukuran kelayakan. Pilihan ini berangkat dari keyakinan bahwa masa depan seseorang tidak semestinya ditentukan hanya oleh angka, melainkan juga oleh kesempatan, ketekunan, dan kemauan untuk bertumbuh.
Perjalanan sembilan tahun ini memperlihatkan bahwa kepedulian yang dikelola dengan sungguh-sungguh dapat menghasilkan dampak nyata. Hingga tahun akademik 2025/2026, KAMAJAYA telah membantu 202 mahasiswa, dengan 132 di antaranya telah lulus dan diwisuda. Program ini juga berkembang secara kelembagaan menjadi Yayasan Bakti KAMAJAYA Indonesia pada tahun 2020. Perubahan tersebut bukan hanya soal bentuk organisasi, melainkan ikhtiar untuk menjaga pelayanan agar semakin tertib, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Arah itu selaras dengan visi KAMAJAYA Scholarship: menjadi komunitas pemberi dan penerima beasiswa yang unggul, inklusif, dan humanis, serta mampu memberi kontribusi nyata kepada nusa dan bangsa melalui pelayanan dalam cahaya kebenaran. Visi tersebut diterjemahkan ke dalam tiga misi: membuka akses pendidikan sarjana di UAJY bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu; mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang berkarakter dan kompeten; serta menjadikan beasiswa ini sebagai gerakan abadi melalui semangat Pay it Forward.
Di sinilah letak kekhasan KAMAJAYA Scholarship. KAMAJAYA bukan hanya memberikan bantuan biaya, melainkan mendampingi manusia secara utuh. Beasiswa penuh yang diberikan mencakup biaya kuliah, KKN, wisuda, serta bantuan biaya kuliah lainnya (biaya hidup, tempat tinggal, buku, laptop, hingga kerja praktik atau penelitian). Dengan demikian, penerima beasiswa tidak hanya dibantu untuk masuk dan bertahan di bangku kuliah, tetapi juga diberi ruang untuk belajar dengan lebih tenang dan bermartabat.
Lebih dari itu, KAMAJAYA memahami bahwa kesulitan ekonomi sering kali hadir bersama persoalan keluarga, relasi sosial, kepercayaan diri, dan kecemasan akan masa depan. Karena itu, pendampingan rohani dan bimbingan konseling menjadi unsur penting dari program beasiswa ini. Melalui pendampingan rutin, mahasiswa diajak mengenali diri, mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap hidup, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. KAMAJAYA tidak hanya ingin melahirkan sarjana, melainkan pribadi utuh yang siap bekerja, memimpin, melayani, dan memberi pengaruh baik di tengah masyarakat.
Sebagai program yang berdiri di bawah lindungan Santo Ignasius dari Loyola, KAMAJAYA Scholarship dapat memaknai pendampingannya dalam terang spiritualitas Ignasian. Spiritualitas ini mengajak setiap penerima beasiswa untuk menyadari bahwa hidup adalah proses menemukan makna, mengenali panggilan, dan menghadirkan kebaikan Tuhan dalam tindakan nyata. Keterbatasan ekonomi, kesulitan keluarga, maupun kegagalan tidak dilihat semata-mata sebagai hambatan, melainkan sebagai pengalaman yang dapat diolah menjadi sumber keteguhan, rasa syukur, dan kepedulian.
Bagi penerima beasiswa, semangat Ignasian dapat diwujudkan melalui kebiasaan refleksi: melihat kembali pengalaman hidup, mengenali kekuatan serta kelemahan diri, lalu mengambil langkah yang lebih baik bagi diri sendiri dan sesama. Pendampingan KAMAJAYA yang menaruh perhatian pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap hidup selaras dengan cita-cita pembentukan manusia yang utuh. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya didorong untuk berhasil secara akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang mampu membedakan pilihan yang membawa kehidupan, berani melayani, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam semangat menjadi manusia bagi sesama, penerima KAMAJAYA dipanggil untuk tidak berhenti pada rasa syukur karena telah menerima bantuan. Rasa syukur itu perlu bertumbuh menjadi tindakan: belajar dengan sungguh-sungguh, menghargai kesempatan, terlibat dalam pelayanan, serta kelak meneruskan kebaikan kepada orang lain. Di sinilah spiritualitas Ignasian bertemu dengan semangat Pay it Forward, kebaikan yang diterima diolah menjadi tanggung jawab untuk menghadirkan harapan bagi sesama.
Dampak KAMAJAYA Scholarship paling nyata terlihat dalam kisah para penerimanya. Amelberga Bening Gayatri (Angkatan ke-9), mahasiswa Sistem Informasi UAJY, tumbuh dalam keluarga sederhana dengan ayah yang bekerja sebagai penjual koran. Dari keterbatasan itu, ia belajar tentang kerja keras, rasa syukur, keteguhan hati, serta keberanian untuk membuka diri. Ia aktif dalam organisasi dan pelayanan, sembari memelihara mimpi untuk mengembangkan solusi digital bagi masyarakat desa, UMKM, dan komunitas kecil. Kisah Bening menunjukkan bahwa pendidikan yang disertai kepedulian dapat melahirkan keberanian untuk kembali memberi manfaat kepada sesama.
Semangat serupa tampak dalam perjalanan Juandri Tansi Dendo (Angkatan ke-8), mahasiswa Akuntansi asal Nusa Tenggara Timur. Setelah kehilangan ayah sejak masa SMP, ia menyaksikan ibunya berjuang menopang keluarga melalui usaha kecil di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah. Juandri tetap melanjutkan pendidikan, aktif dalam kegiatan kampus dan pelayanan gereja, serta berusaha menjalani hidup dengan hemat dan penuh tanggung jawab. Kisahnya mengingatkan bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan biaya; beasiswa adalah kepercayaan yang memungkinkan seorang anak muda tetap terbang menuju masa depan, meski hidup tidak selalu memberinya “kedua sayap” yang lengkap.
Kesaksian alumni pun memperkuat makna itu. Sarah Yoelsadai, alumni penerima Beasiswa KAMAJAYA, pernah merasakan kesulitan membayar SPP hingga terancam tidak dapat mengikuti ujian. Ia memaknai KAMAJAYA Scholarship sebagai “ladang” tempat ia bertumbuh. Setelah menerima berkat tersebut, Sarah bertekad menyisihkan rezekinya bagi mahasiswa lain yang memiliki mimpi besar, tetapi terhambat masalah finansial. Kesaksiannya menjadi wujud nyata semangat Pay it Forward: penerima kebaikan bertumbuh menjadi penerus kebaikan.
Sementara itu, Yenny Indra, alumni Teknik Sipil UAJY, menilai KAMAJAYA Scholarship layak didukung karena para penerimanya menunjukkan usaha dan daya juang di tengah keterbatasan. Pandangan mereka menegaskan bahwa keberhasilan tidak hadir secara instan, melainkan lahir dari ketekunan serta kesempatan yang diberikan secara adil. Dukungan terhadap KAMAJAYA Scholarship, karena itu, bukan hanya bantuan finansial, melainkan kepercayaan terhadap kemampuan mahasiswa untuk bertahan, menyelesaikan studi, dan menjadi pribadi yang memberi dampak positif.
Keberlanjutan program ini bertumpu pada semangat The Power of Small dan Pay it Forward. Alumni UAJY mengambil peran sebagai donatur atau orang tua asuh melalui kontribusi sukarela sesuai kemampuan. Ketika penerima beasiswa kemudian lulus dan bekerja, mereka diharapkan meneruskan kebaikan itu bagi adik-adik penerima berikutnya. Dengan demikian, bantuan tidak berhenti pada satu orang, satu angkatan, atau satu masa. Ia berubah menjadi lingkaran kasih yang terus bergerak, dari alumni kepada mahasiswa, dari mahasiswa kepada masyarakat, dan dari generasi ke generasi.
Memasuki usia ke-9, KAMAJAYA Scholarship patut dirayakan bukan semata karena telah bertahan, melainkan karena tetap setia pada alasan kelahirannya: memastikan keterbatasan ekonomi tidak mematikan cita-cita. Tantangan ke depan tentu tidak kecil. Kebutuhan mahasiswa semakin meningkat, situasi ekonomi keluarga dapat berubah, dan pengelolaan program perlu terus diperkuat. Namun, selama komunitas ini menjaga integritas, keterbukaan, pendampingan yang manusiawi, spiritualitas pelayanan, dan semangat berbagi, KAMAJAYA Scholarship akan terus menjadi rumah harapan.
Selamat ulang tahun ke-9, KAMAJAYA Scholarship. Semoga setiap bantuan yang diberikan menjadi cahaya bagi masa depan, setiap pendampingan menjadi kekuatan dalam perjuangan, dan setiap alumnus yang kembali berbagi menjadi bukti bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya untuk bertumbuh.
Yogyakarta, 31 Juli 2026
Hadisantono
Konseptor dan Pendiri KAMAJAYA Scholarship











No Comments