Lentera Atma: Cahaya Yang Cukup Untuk Satu Langkah
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
(Yeremia 17:7)
Pernahkah kita merencanakan sesuatu dengan matang, berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasilnya tetap meleset dari bayangan? Saya pernah, bahkan lebih dari sekali. Rasanya campur aduk antara kecewa dan bingung, sampai muncul pertanyaan sederhana: “Kalau rencana saya sendiri saja bisa berantakan, sebenarnya saya harus bersandar pada siapa?”
Sebagai mahasiswa, saya terbiasa berpikir bahwa selama saya cukup berusaha, semuanya akan baik-baik saja. Mengejar nilai bagus, ikut organisasi, membangun relasi, menyiapkan rencana masa depan—semua itu penting dan memang harus dilakukan. Namun, ada titik di mana usaha saja ternyata belum cukup. Ada hal-hal yang berada di luar kendali saya, dan di situlah saya mulai benar-benar memahami arti mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah.
Yeremia 17:7 bagi saya bukan janji bahwa hidup akan otomatis menjadi mudah begitu kita percaya. Mengandalkan Tuhan bukan berarti berhenti berusaha lalu duduk diam menunggu keajaiban. Kita tetap perlu belajar, mencoba, berani mengambil kesempatan, dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Bedanya hanya satu: bagaimana kita menyikapi hasilnya.
Sering kali kita terlalu fokus pada hasil sampai lupa menikmati proses. Kita ingin semuanya cepat dan sesuai keinginan. Begitu meleset sedikit, langsung merasa gagal. Padahal, bisa jadi ada pelajaran yang justru sedang Tuhan ajarkan lewat proses itu, bukan lewat hasil akhirnya.
Melihat teman sudah mencapai sesuatu, sudah tahu arah karier, atau mendapat kesempatan bagus, kadang membuat saya bertanya-tanya, “Mengapa saya belum sampai di titik itu?” Wajar memiliki pikiran seperti itu. Namun, dari ayat ini saya belajar bahwa setiap orang punya jalan dan waktunya sendiri. Apa yang terlihat baik di kehidupan orang lain belum tentu jalan yang harus saya tempuh.
Mengandalkan Tuhan bagi saya seperti membawa lentera di jalan yang gelap. Cahayanya tidak langsung menerangi seluruh jalan, hanya cukup untuk beberapa langkah di depan. Tetapi justru dengan cahaya secukup itu, saya berani terus melangkah. Kita memang tidak perlu tahu seluruh masa depan untuk bisa berjalan. Cukup lakukan yang bisa dilakukan hari ini: belajar saat waktunya belajar, berusaha saat ada kesempatan, memperbaiki diri saat gagal, dan tetap berdoa saat menghadapi hal yang di luar kendali.
Mungkin ada doa yang terasa belum terjawab, atau usaha yang sudah diulang berkali-kali tetapi hasilnya tetap sama. Bukan berarti Tuhan tidak mendengar. Bisa jadi jawabannya datang dengan cara berbeda dari yang saya bayangkan, dan maksudnya baru akan terlihat jelas nanti, bukan sekarang.
Karena itu, saya ingin belajar untuk tidak hanya mengandalkan diri sendiri. Cita-cita tetap saya susun, rencana tetap saya buat, usaha tetap saya jalankan, tetapi saya juga mau memberi ruang bagi Tuhan untuk menuntun arahnya. Sebab yang saya butuhkan bukan jawaban atas semua pertanyaan tentang masa depan, melainkan keberanian untuk mengambil langkah berikutnya, dengan percaya bahwa saya tidak berjalan sendirian.
Hari ini saya mungkin belum tahu ke mana semua ini akan bermuara. Tapi tidak apa-apa. Yang terpenting adalah terus berjalan, terus berusaha, dan percaya bahwa Tuhan menerangi setiap langkah satu per satu, secukupnya—seperti cahaya lentera di tengah gelap.
Ditulis oleh: Bonaventura Yoga Cahya Nugraha
Gambar oleh Ralf Ruppert dari Pixabay











No Comments