KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Ketika Tuhan Mengangkat Kepalaku

Lentera Atma: Ketika Tuhan Mengangkat Kepalaku

Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.” — Mazmur 3:4

Dalam kehidupan, ada kalanya kita merasa semuanya berjalan begitu berat. Tugas yang menumpuk, hasil yang tidak sesuai harapan, masalah dengan orang lain, atau kekhawatiran tentang masa depan dapat membuat kita kehilangan semangat. Sebagai mahasiswa, kita juga sering merasa harus mampu melakukan banyak hal sekaligus. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, kita mudah menyalahkan diri sendiri dan merasa bahwa kita tidak cukup baik.

Di tengah keadaan seperti itu, Mazmur 3:4 mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian. Ayat ini ditulis Daud ketika ia sedang menghadapi keadaan yang tidak mudah. Banyak orang menentangnya, tetapi Daud tetap menaruh kepercayaannya kepada Tuhan. Ia menyebut Tuhan sebagai “perisai yang melindungi aku”. Perisai berfungsi melindungi seseorang dari serangan. Demikian juga Tuhan menjadi perlindungan bagi kita ketika berbagai persoalan datang. Tuhan tidak selalu menghilangkan masalah yang kita hadapi, tetapi Ia memberikan kekuatan agar kita mampu melewatinya. Ada kalanya kita tetap harus menghadapi kegagalan dan kesulitan, tetapi kita tidak menghadapinya seorang diri.

Daud juga berkata, “Engkaulah kemuliaanku.” Perkataan ini mengingatkan bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh pencapaian kita. Kita sering mengukur diri dari nilai, prestasi, jabatan, jumlah teman, atau keberhasilan yang dimiliki orang lain. Ketika melihat orang lain lebih berhasil, kita bisa merasa tertinggal. Padahal, Tuhan tidak pernah meminta kita menjalani kehidupan dengan membandingkan diri dengan orang lain. Di hadapan Tuhan, kita tetap berharga. Keberhasilan boleh menjadi sesuatu yang kita syukuri, tetapi kegagalan tidak membuat kita menjadi pribadi yang kurang berharga.

Yang paling menguatkan dari ayat ini adalah bahwa Tuhan adalah Dia “yang mengangkat kepalaku”. Ketika gagal, kita mungkin menundukkan kepala karena malu dan kecewa. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, kita bisa kehilangan keberanian untuk mencoba kembali. Namun, Tuhan tidak ingin kita terus tinggal dalam kegagalan. Ia mengangkat kepala kita agar kita kembali melihat ke depan. Tuhan memberikan kesempatan untuk bangkit, belajar dari kesalahan, dan melanjutkan perjalanan.

Mungkin saat ini ada di antara kita yang sedang berada dalam keadaan seperti itu. Ada yang sedang berjuang dengan perkuliahan, memikirkan keluarga, mengejar cita-cita, atau menghadapi sesuatu yang tidak bisa diceritakan kepada banyak orang. Jika hari ini terasa berat, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak dan datang kepada Tuhan. Ceritakan kepada-Nya apa yang membuat kita takut, kecewa, dan lelah. Kita tidak harus selalu terlihat kuat di hadapan Tuhan. Ia mengenal hati kita dan tetap hadir dalam setiap keadaan.

Karena itu, mari belajar menjalani setiap proses dengan percaya kepada Tuhan. Ketika kita merasa terancam oleh berbagai masalah, ingatlah bahwa Tuhan adalah perisai kita. Ketika kita merasa tidak cukup baik, ingatlah bahwa Tuhan adalah kemuliaan kita. Dan ketika kita merasa jatuh, ingatlah bahwa Tuhan adalah Dia yang mengangkat kepala kita. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi kita dapat percaya bahwa Tuhan menyertai langkah kita hari ini. Jadi, jangan berhenti melangkah. Angkat kepala, kuatkan hati, dan percayalah bahwa bersama Tuhan, selalu ada kekuatan untuk bangkit kembali.

Tuhan adalah perisaiku, kemuliaanku, dan Dia yang mengangkat kepalaku.

Image by Pexels from Pixabay

No Comments

Post a Comment