KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Yang Tidak Terlihat Bukan Berarti Tidak Bertumbuh

Lentera Atma: Yang Tidak Terlihat Bukan Berarti Tidak Bertumbuh

Ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar kita tanyakan ke diri sendiri: sebenarnya, aku sudah sejauh apa? Bukan soal pencapaian atau target yang berhasil dicapai, tapi pertanyaan yang lebih jujur dari itu. Pertanyaan yang hadir tanpa buru-buru mencari jawaban.

Masalahnya, kebanyakan dari kita tidak pernah benar-benar berhenti untuk mendengarnya. Begitu pertanyaan itu muncul, kita malah sibuk membandingkan dan melihat hidup orang lain hanya dari apa yang tampak di permukaan. Tanpa sadar, yang tertinggal akhirnya cuma rasa sesak karena merasa selalu terlambat dan tertinggal dari kehidupan yang “seharusnya” sudah kita punya.

Entah sejak kapan kita percaya bahwa hidup punya jadwal yang wajib diikuti. Bahwa di usia tertentu kita harus sudah menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Seolah diri kita yang sekarang hanyalah versi sementara yang belum pantas diterima sepenuhnya. Akhirnya kita mulai menunda banyak hal dalam hidup. Menunda bahagia sampai semuanya terasa sempurna, menunda bersyukur sampai hidup terasa lebih mudah, dan menunda merasa cukup sampai berhasil menjadi seseorang yang kita bayangkan. Padahal kalau dipikir lagi, kapan rasa “selesai” itu benar-benar datang?

Setiap kali kita mencapai sesuatu, selalu ada hal lain yang terasa lebih penting. Setelah satu tujuan tercapai, muncul tujuan berikutnya yang membuat kita kembali merasa belum cukup. Seolah garis akhir itu terus bergeser sementara kita terus berlari tanpa pernah benar-benar tiba. Mungkin memang hidup bukan tentang mencapai titik selesai. Mungkin hidup memang bukan sesuatu yang harus diselesaikan, tapi dijalani sepenuhnya. Dan proses yang selama ini kita anggap hanya sebagai ruang tunggu sebelum hidup dimulai, ternyata justru itulah hidupnya.

Kamu yang sekarang, yang masih bingung, masih belajar, dan masih mencoba memahami arah hidup, bukan versi gagal dari dirimu di masa depan. Kamu tetap berharga bahkan di fase yang belum sepenuhnya jelas ini. Karena justru di masa-masa seperti inilah seseorang paling banyak dibentuk.

Ada hal-hal yang memang tumbuh dalam diam. Seperti akar pohon yang tidak terlihat dari permukaan, tapi diam-diam menguatkan segalanya dari bawah. Dari luar mungkin hidupmu tampak biasa saja, tapi bukan berarti kamu tidak bertumbuh.

Kadang kamu hanya sedang mengakar. Akar memang tidak pernah menarik untuk dipamerkan, tapi tanpa akar tidak ada yang bisa berdiri tegak. Tidak semua proses harus terlihat agar tetap punya arti.

Tuhan pun tidak menunggu kamu sempurna untuk tetap dekat. Justru sering kali, di momen paling berantakan ketika kamu lelah, bingung, dan mulai mempertanyakan semuanya, di situlah kamu paling banyak ditopang. Bukan karena kamu sudah layak, tapi karena kasih memang tidak bekerja dengan cara seperti itu.

Jadi pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Kenapa aku belum sejauh mereka?” Melainkan, “Kalau dibandingkan diriku yang dulu, sebenarnya aku sudah bertumbuh sejauh apa?”

Karena ada banyak hal yang dulu terasa mustahil, tapi nyatanya berhasil kamu lewati juga. Dan setelah semua yang terjadi, kamu masih ada di sini. Masih mencoba menjalani hari-hari yang kadang terasa berat, meski tidak selalu tahu semuanya akan mengarah ke mana. Itu bukan hal kecil, karena bertahan sejauh ini pun adalah bentuk keberanian yang sering kali tidak kita sadari.

Image by PublicDomainPictures from Pixabay

No Comments

Post a Comment