Opini: Bencana Alam Atau Ulah Manusia?

Setiap hari kita disuguhi berita tentang bencana: banjir, longsor, gempa, hingga kebakaran hutan. Informasi datang begitu cepat melalui media sosial, membuat kita seakan tidak pernah lepas dari kabar duka. Namun di balik rasa prihatin itu, ada pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: apakah semua bencana benar-benar murni karena alam, atau ada campur tangan manusia yang memperburuk keadaannya?
Setiap kali membuka media sosial, rasanya kita semakin sering melihat berita tentang bencana. Hari ini banjir, besok tanah longsor, lalu gempa di daerah lain. Di balik layar, kita melihat rumah yang terendam, jalan yang tertutup lumpur, orang-orang yang kehilangan tempat tinggal, bahkan ada yang harus kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. Kita kemudian menyebut semua itu sebagai “bencana alam”. Memang, alam punya caranya sendiri untuk menunjukkan kekuatannya. Kita tidak bisa menghentikan hujan, mencegah gempa, atau meminta gunung untuk tidak meletus. Namun, di tengah semua kejadian itu, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak untuk kita pikirkan: apakah semua bencana benar-benar hanya tentang alam?
Sebab terkadang, yang membuat sebuah bencana menjadi jauh lebih parah bukan hanya apa yang dilakukan alam, tetapi juga apa yang sebelumnya kita lakukan terhadap alam. Mungkin kita terlalu sering menyalahkan hujan ketika banjir datang, tanpa mengingat ke mana sampah yang kita buang berakhir. Kita menyalahkan tanah ketika longsor terjadi, tanpa bertanya berapa banyak pohon yang sudah hilang dari lereng-lereng tersebut. Kita menyebutnya bencana alam, tetapi mungkin ada bagian dari bencana itu yang sebenarnya merupakan hasil dari pilihan manusia sendiri.
Contoh paling dekat adalah banjir. Hujan deras memang bisa menjadi penyebab terjadinya banjir. Tetapi ketika sungai dipenuhi sampah, daerah resapan air semakin sedikit, pohon-pohon ditebang, dan lahan terbuka terus berubah menjadi bangunan, bukankah kita juga ikut membuat keadaan menjadi lebih buruk? Hujan mungkin tidak bisa kita hentikan. Tetapi membuang sampah ke sungai adalah pilihan manusia. Menebang pohon tanpa memikirkan dampaknya juga merupakan pilihan manusia. Membangun di daerah yang seharusnya menjadi resapan air pun merupakan keputusan manusia. Hal yang sama terjadi pada tanah longsor. Hujan dengan intensitas tinggi memang dapat membuat tanah lebih mudah longsor. Namun, ketika pepohonan yang seharusnya membantu menahan tanah semakin berkurang, risiko longsor tentu menjadi lebih besar.
Dari situ saya mulai berpikir bahwa istilah “bencana alam” terkadang membuat kita terlalu mudah melepaskan diri dari tanggung jawab. Seolah-olah semuanya adalah kesalahan alam dan manusia hanya bisa menerima akibatnya. Padahal, masalahnya bukan hanya tentang apa yang dilakukan alam kepada manusia, tetapi juga tentang apa yang selama ini dilakukan manusia terhadap alam. Kita sering baru peduli terhadap lingkungan ketika bencana sudah terjadi. Saat banjir datang, kita mulai membicarakan sampah dan saluran air. Saat longsor terjadi, kita mempertanyakan kondisi hutan. Saat kekeringan melanda, kita kembali membicarakan ketersediaan air. Pertanyaannya: mengapa kita harus menunggu bencana terlebih dahulu untuk mulai peduli?
Menjaga lingkungan seharusnya tidak dilakukan hanya karena sedang ada bencana atau karena isu lingkungan sedang ramai dibicarakan. Hal-hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menjaga pohon dan ruang hijau, hingga ikut menjaga kebersihan lingkungan sekitar memang terlihat kecil. Tetapi jika dilakukan bersama-sama, dampaknya tentu tidak kecil. Di sisi lain, tanggung jawab ini juga tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat. Pemerintah memiliki peran besar dalam menentukan bagaimana sebuah wilayah dibangun dan dikelola. Pembangunan memang penting, tetapi pembangunan juga seharusnya mempertimbangkan kondisi lingkungan dan risiko bencana. Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun sesuatu sampai lupa bertanya: “Apakah tempat ini memang aman untuk dibangun?”
Masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi mengenai kebencanaan. Kita tidak hanya perlu tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga memahami bagaimana bencana bisa terjadi dan apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi risikonya. Terlebih sebagai generasi muda, kita punya peran besar. Kita hidup di zaman ketika informasi bisa menyebar hanya dalam hitungan detik. Ketika sebuah bencana terjadi, kita bisa dengan mudah membagikan berita, foto, atau video mengenai kejadian tersebut. Namun, kepedulian seharusnya tidak berhenti pada membagikan informasi. Kita juga perlu bertanya: “Setelah ini apa?” Apakah kita hanya akan merasa sedih selama beberapa hari, kemudian kembali menjalani kehidupan seperti biasa? Atau kita mau belajar dari kejadian tersebut dan mulai melakukan sesuatu dari lingkungan kita sendiri?
Bagi saya, bencana adalah pengingat bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Kita membutuhkan air, tanah, udara, hutan, dan berbagai sumber daya yang diberikan oleh alam. Karena itu, rasanya tidak adil jika kita hanya menganggap alam sebagai sesuatu yang bisa terus digunakan tanpa perlu dijaga. Tentu saja, kita tidak bisa mengendalikan semuanya. Kita tidak bisa meminta gempa untuk tidak terjadi atau menyuruh hujan berhenti turun. Tetapi kita masih bisa mengurangi risiko dan dampaknya.
Jadi, apakah bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana alam atau bencana yang diperparah oleh manusia? Mungkin jawabannya tidak selalu sederhana. Namun, satu hal yang jelas: alam memang memiliki perannya, tetapi manusia juga memiliki tanggung jawab. Bencana seharusnya tidak hanya membuat kita takut, tetapi juga membuat kita belajar. Belajar untuk lebih siap, belajar menjaga lingkungan, dan belajar bahwa setiap keputusan yang kita ambil hari ini bisa memberikan dampak bagi kehidupan di masa depan. Karena pada akhirnya, kita mungkin tidak bisa mencegah semua bencana. Tetapi kita masih punya kesempatan untuk mencegah kelalaian kita sendiri menjadi alasan mengapa sebuah bencana terasa jauh lebih buruk.
Penutup
Tulisan ini bukan sekadar refleksi, melainkan ajakan. Bencana memang tidak bisa kita hentikan, tetapi sikap abai bisa kita cegah. Mari mulai dari hal kecil: menjaga kebersihan, menanam pohon, mengurangi sampah plastik, dan mengingatkan orang di sekitar kita. Karena setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini adalah investasi untuk masa depan yang lebih aman dan lebih lestari.
Yogyakarta, 16 September 2026
Yesa Adellia Putri
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum UAJY Angkatan 2024
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-10
Gambar oleh Adrian Malec dari Pixabay











No Comments