KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Belajar Mendengar dengan Cara yang Berbeda

Kisah Penerima Beasiswa: Belajar Mendengar dengan Cara yang Berbeda

Sejak awal kuliah, saya selalu membayangkan dunia Teknik Sipil sebagai dunia yang dekat dengan jembatan, gedung, dan jalan. Sebagai mahasiswa Teknik Sipil, saya berpikir bahwa sebagian besar pembelajaran akan berkaitan dengan perhitungan, desain, dan pembangunan infrastruktur. Namun, saya tidak pernah menyangka bahwa salah satu pelajaran paling berharga selama masa perkuliahan justru datang dari pengalaman yang sama sekali berbeda, yaitu saat menjadi student staff dan mendampingi teman tuli dalam kegiatan perkuliahan.

Awalnya, saya mendaftar sebagai student staff karena ingin memperoleh pengalaman di luar kelas sekaligus belajar mengatur waktu dengan lebih baik. Saya juga ingin mengembangkan keterampilan yang tidak selalu diajarkan dalam perkuliahan, seperti komunikasi, tanggung jawab, dan kerja sama. Kesempatan tersebut saya lihat sebagai sarana untuk bertumbuh, baik secara akademik maupun pribadi.

Ketika mendapat tugas untuk mendampingi mahasiswa tuli, saya sempat merasa ragu. Saya belum pernah berinteraksi secara langsung dengan teman tuli dan tidak memiliki pengalaman menggunakan bahasa isyarat. Dalam pikiran saya muncul banyak pertanyaan tentang bagaimana cara berkomunikasi yang tepat, bagaimana membantu mereka memahami materi kuliah, dan apakah saya dapat menjalankan tugas tersebut dengan baik. Kekhawatiran itu membuat saya merasa tidak percaya diri pada awalnya.

Pelajaran Pertama: Mengenal BISINDO
Hari pertama pendampingan menjadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Saat itu saya duduk di samping seorang teman tuli sambil membawa buku catatan dan berusaha memulai percakapan. Dengan sedikit gugup, saya menulis pertanyaan sederhana, “Kamu menggunakan bahasa isyarat apa?”

Ia tersenyum dan menjawab melalui tulisan, “BISINDO, Bahasa Isyarat Indonesia.” Saya mengangguk, walaupun sebenarnya saya belum memahami apa itu BISINDO. Melihat kebingungan saya, ia justru tertawa kecil dan dengan ramah menawarkan diri untuk mengajarkan beberapa dasar bahasa isyarat. Sikap terbuka dan hangat yang ia tunjukkan membuat rasa canggung saya perlahan menghilang.

Pelajaran pertama yang saya terima dimulai dari hal-hal sederhana. Ia mengajarkan isyarat untuk kata “halo”, “terima kasih”, “maaf”, dan “tolong”. Setelah itu, ia memperkenalkan isyarat namanya dan meminta saya membuat isyarat untuk nama saya sendiri. Saya beberapa kali salah menirukan gerakan tangannya. Jari-jari saya terasa kaku dan sulit mengikuti bentuk yang benar, sehingga ia harus berkali-kali membetulkan posisi tangan saya dengan sabar.

Setiap kesalahan yang saya lakukan justru menjadi bahan tawa bersama. Kami tertawa ketika saya salah memperagakan isyarat sehingga maknanya berubah atau terlihat lucu. Tidak sedikit pun saya merasakan kesan bahwa ia merasa terganggu oleh ketidaktahuan saya. Sebaliknya, ia tampak senang dapat memperkenalkan bahasanya dan berbagi pengalaman kepada orang lain.

Dari pertemuan pertama itu, saya menyadari sesuatu yang penting. Saya datang dengan tujuan membantu, tetapi justru saya yang banyak belajar. Saya belajar bahwa memahami orang lain membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak selalu tahu segalanya. Saya juga belajar bahwa proses belajar dapat berlangsung dari siapa saja, termasuk dari orang yang awalnya kita kira akan kita bantu.

Belajar tentang Komunikasi dan Empati
Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami ritme pendampingan yang saya jalani. Saya membantu mencatat materi yang disampaikan dosen, menyampaikan informasi penting melalui tulisan maupun isyarat yang telah saya pelajari, serta memastikan teman tuli tidak tertinggal selama proses perkuliahan. Tugas-tugas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya terdapat proses belajar yang sangat berarti bagi saya.

Melalui pengalaman ini, saya mulai memperhatikan berbagai hal kecil yang sebelumnya sering luput dari perhatian. Saya belajar memilih posisi duduk yang memungkinkan teman tuli melihat dosen dan layar presentasi secara bersamaan. Saya juga memahami pentingnya memastikan dosen berbicara sambil menghadap ke arah kelas agar proses komunikasi berlangsung lebih efektif. Hal-hal yang tampak sepele ternyata memiliki dampak besar terhadap aksesibilitas dan kenyamanan belajar.

Pengalaman tersebut membuka mata saya bahwa komunikasi tidak selalu bergantung pada suara. Komunikasi yang baik lahir dari kemauan untuk memahami dan dipahami. Ketika kita bersedia menyesuaikan diri dengan kebutuhan orang lain, hambatan komunikasi dapat berkurang dengan sendirinya. Dari situlah saya belajar bahwa empati bukan sekadar memahami kondisi orang lain, tetapi juga mengambil tindakan nyata agar mereka merasa dihargai dan dilibatkan.

Saya juga semakin menyadari bahwa teman tuli memiliki semangat belajar, kemampuan, dan cita-cita yang sama besarnya dengan mahasiswa lainnya. Mereka mampu mengikuti perkuliahan dengan baik dan menyelesaikan berbagai tugas akademik ketika memperoleh akses yang setara. Yang mereka butuhkan bukanlah perlakuan istimewa, melainkan kesempatan yang adil untuk berkembang dan menunjukkan potensi mereka.

Setiap kali teman yang saya dampingi berhasil memahami materi perkuliahan atau menyelesaikan tugas dengan baik, saya turut merasa bangga. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat hasil dari usaha yang kami lakukan bersama. Rasanya seperti sedang membangun sesuatu yang bermakna, meskipun bukan bangunan fisik seperti yang saya pelajari di Teknik Sipil. Yang kami bangun adalah jembatan pemahaman, kerja sama, dan kepercayaan.

Yang Saya Bawa Pulang
Menjadi student staff tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga melatih saya untuk lebih bertanggung jawab dalam mengelola waktu. Saya harus menyeimbangkan berbagai tuntutan antara kuliah, tugas, dan pekerjaan. Melalui proses tersebut, saya belajar menetapkan prioritas dan menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan sebaik mungkin.

Honor yang saya terima memang tidak besar, tetapi cukup membantu memenuhi kebutuhan selama perkuliahan. Namun, nilai terbesar dari pengalaman ini sama sekali tidak dapat diukur dengan nominal. Saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu orang-orang baru, memahami perspektif yang berbeda, serta belajar menjadi pribadi yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar.

Lebih dari itu, pengalaman mendampingi teman tuli mengajarkan saya bahwa makna membantu tidak selalu berarti menjadi pihak yang lebih mampu atau lebih tahu. Terkadang, justru dalam proses membantu orang lain, kita mendapatkan pelajaran yang jauh lebih besar daripada yang kita berikan. Pengalaman tersebut membuat saya memahami pentingnya menghargai perbedaan dan membangun lingkungan yang inklusif bagi semua orang.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau melalui buku-buku perkuliahan. Banyak pelajaran hidup yang hadir melalui perjumpaan dengan orang lain dan pengalaman yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya. Dari pengalaman mendampingi teman tuli, saya belajar tentang kesabaran, empati, dan pentingnya memberikan ruang yang setara bagi setiap orang untuk berkembang.

Sebagai mahasiswa Teknik Sipil, saya belajar membangun jembatan, gedung, dan berbagai infrastruktur lainnya. Namun melalui pengalaman ini, saya belajar membangun sesuatu yang tidak kalah penting, yaitu jembatan pemahaman antarmanusia. Dari sanalah saya memahami bahwa mendengar tidak selalu harus menggunakan telinga. Terkadang, kita dapat mendengar dengan hati, melalui perhatian, penghargaan, dan kemauan untuk memahami satu sama lain.



Yogyakarta, 28 Oktober 2026

Gabrielle Valentina Endrawati Sukardi
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UAJY Angkatan 2024
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9

No Comments

Post a Comment