KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Berdiri di Atas Batu Karang, Menjaga Fondasi Bangsa

Lentera Atma: Berdiri di Atas Batu Karang, Menjaga Fondasi Bangsa

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:25)

Di tengah riuhnya dinamika zaman, kita sering menyaksikan betapa mudahnya sebuah tatanan goyah ketika diterpa ujian. Sebagai mahasiswa, tantangan yang kita hadapi hari ini bukan hanya tumpukan tugas atau persoalan karier pribadi, melainkan juga perpecahan, gesekan akibat perbedaan, dan isu sosial yang tak jarang memicu kehebohan. Pada saat-saat seperti itu, wajar jika kita kadang merasa cemas dan mempertanyakan apakah negeri ini masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bertahan.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila hadir bukan sekadar sebagai ritual tahunan di kalender, melainkan sebagai pengingat tentang daya tahan bangsa ini. Kesaktian Pancasila bukanlah cerita gaib, melainkan bukti nyata keberlangsungan bangsa yang didirikan di atas batu karang nilai-nilai luhur. Sepanjang perjalanan sejarah, Indonesia telah berulang kali dihantam badai krisis, perbedaan ideologi, dan ancaman disintegrasi. Namun, karena bangsa ini berpegang pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial, rumah besar bernama Indonesia ini tidak runtuh.

Sebagai generasi muda yang hidup di era serba cepat, kita sering bersikap sinis terhadap keadaan sekitar. Kita merasa bahwa kontribusi satu orang tidak dapat mengubah situasi nasional yang kompleks. Padahal, kekokohan sebuah bangunan ditentukan oleh setiap bagian kecil yang saling menopang. Ketika kita memilih untuk berlaku jujur dalam perkuliahan, merawat toleransi di ruang-ruang diskusi, membela yang lemah, dan mengutamakan kebersamaan di atas ego pribadi, saat itulah kita sedang aktif menjaga fondasi bangsa agar tidak retak.

Kita tidak dibebani kewajiban untuk menyelesaikan permasalahan negara ini secara instan. Yang perlu kita lakukan adalah tetap setia mengerjakan bagian kita hari ini dengan penuh tanggung jawab, sembari percaya bahwa Tuhan akan selalu menuntun langkah bangsa ini dan tidak pernah diam. Jangan biarkan kekecewaan atau rasa takut akan masa depan melemahkan kepedulian kita.

Maka, marilah kita berhenti sejenak dan merenung. Ayat tentang rumah di atas batu mengajak kita bertanya bukan hanya tentang bangsa, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Sebelum badai datang, kita perlu memeriksa di atas apa hidup kita didirikan.

Untuk direnungkan:

  1. Di tengah kecemasan dan rasa sinis, apa yang selama ini paling sering saya jadikan pegangan: opini yang ramai atau nilai yang kokoh?
  2. Dari kelima sila Pancasila, nilai manakah yang paling perlu saya hidupi lebih sungguh-sungguh dalam keseharian saya sebagai mahasiswa?
  3. Tindakan kecil apa yang dapat saya lakukan minggu ini untuk menopang kebersamaan di lingkungan saya?
  4. Sudahkah saya menjadikan Tuhan sebagai tumpuan harapan, atau hanya mengingat-Nya ketika badai datang?

Doa:
Tuhan, terima kasih Engkau telah menjaga bangsa kami sampai hari ini. Ajarlah kami mendirikan hidup di atas dasar yang teguh, setia menghidupi nilai-nilai luhur dalam tindakan nyata, dan tidak menyerah pada kecemasan. Tuntunlah langkah kami dan bangsa ini agar tetap berdiri tegak menghadapi badai apa pun. Amin.

Gambar oleh Frank Winkler dari Pixabay

No Comments

Post a Comment