KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Berani Memulai Kembali

Lentera Atma: Berani Memulai Kembali

Jeda panjang dalam kehidupan sering kali membuat kita ragu untuk memulai kembali sesuatu. Apalagi jika harus memulainya dari awal lagi. Bukan karena malas, melainkan karena ada hal-hal yang tak terucap namun justru paling berpengaruh. Mungkin kegagalan di masa lalu masih membekas sebagai ketakutan, mungkin ada rasa takut dihakimi atas perubahan diri, atau bahkan muncul perasaan tidak layak untuk mencoba lagi.  

Jeda panjang itu tidak selalu berarti kemalasan, keinginan untuk vakum, atau sekadar masalah mood. Ada kalanya berbagai pengalaman traumatis yang datang bertubi-tubi membuat semangat dan kepercayaan diri perlahan terkikis. Ketika sebagian orang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang “berlebihan”, bagi sebagian lainnya justru semakin sulit untuk berbagi cerita dan membuka diri. Akibatnya, kita terbiasa—bahkan merasa nyaman—berada dalam zona itu.  

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab di dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
(2 Korintus 12:9)  

Ayat singkat ini menyimpan makna yang dalam. Kelemahan bukan hanya tentang hal-hal yang tidak mampu kita lakukan, tetapi juga tentang batas-batas dalam diri yang menghalangi kita melakukan atau memperbaiki sesuatu yang sebenarnya sangat kita inginkan. Kelemahan itu wajar, karena kita hanyalah manusia yang baru pertama kali menjalani hidup. Namun justru melalui kelemahan itulah kuasa Tuhan bekerja dan menjadikannya sempurna.  

Kesadaran yang seharusnya tumbuh dalam diri kita adalah bahwa kita layak, kita pantas, dan ketidaksempurnaan kita telah disempurnakan oleh kasih karunia-Nya. Maka tidak ada lagi alasan untuk tidak memulai kembali, memperbaiki, mengulang, atau bahkan mencoba pertama kali sesuatu yang sudah lama kita pikirkan tetapi terlalu takut untuk memulai.  

Ketidaksempurnaan seperti kegagalan atau keterlambatan bukanlah penghalang, melainkan bagian dari proses yang telah disempurnakan. Kita hanya perlu satu langkah kecil untuk kembali menumbuhkan kepercayaan diri, sebelum melangkah lebih jauh. Karena penyempurnaan itu, tidak ada lagi kata “tertinggal.” Yang ada hanyalah saya dan jalan cerita hidup saya sendiri—berbeda, unik, dan terlalu berharga untuk dibandingkan dengan kisah orang lain.  



Gambar oleh Roy Harryman dari Pixabay

No Comments

Post a Comment