Kisah Penerima Beasiswa: Dari Weetabula Ke Yogyakarta: Skripsi, Air Mata, dan Syukur
Tahun 2022 menjadi awal dari sebuah perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya dinyatakan lulus dari SMA St. Thomas Aquinas Weetabula. Setelah lulus, saya sebenarnya tidak memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat itu, saya lebih berpikir untuk langsung bekerja. Namun, orang tua saya memiliki pandangan berbeda. Mereka mendorong saya untuk tetap melanjutkan pendidikan dan memberi kesempatan untuk menempuh kuliah.
Awalnya, saya ingin mengambil jurusan Hukum. Namun, dalam perjalanan mencari pilihan yang tepat, saya akhirnya memilih jurusan Akuntansi. Pilihan tersebut muncul karena pengalaman lebih dari enam tahun tinggal bersama seorang pebisnis di Sumba. Dari sana, saya melihat bagaimana seorang profesional di bidang perpajakan dapat membantu mengurus kewajiban pajak suatu bisnis. Pengalaman itu menumbuhkan ketertarikan dalam diri saya untuk suatu hari menjadi konsultan pajak. Akuntansi saya anggap sebagai langkah awal untuk memahami perpajakan lebih dalam.
Saya mencoba mendaftar di beberapa perguruan tinggi negeri, tetapi belum berhasil diterima. Dua kali saya mendaftar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dan diterima. Namun, kesempatan pertama saya lepaskan karena biaya kuliah yang cukup besar, sementara saya masih menunggu hasil seleksi dari perguruan tinggi negeri. Sayangnya, saya kembali gagal. Dalam kebimbangan itu, saya menceritakan semuanya kepada Mama. Beliau menyarankan agar saya tetap kuliah di Atma Jaya daripada menunggu satu tahun lagi. Dukungan Mama membuat saya kembali mendaftar, mengikuti proses, dan akhirnya resmi menjadi mahasiswa UAJY. Mama pun berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan saya dengan membayar biaya kuliah di awal perjalanan ini.
Semester pertama berjalan cukup baik, tetapi memasuki semester kedua nilai saya menurun. Kekhawatiran muncul: apakah saya mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu? Di tengah kegelisahan itu, saya mendaftar KAMAJAYA Scholarship. Puji Tuhan, saya diterima. Sejak saat itu, kondisi akademik saya membaik. Nilai-nilai meningkat, meski ada beberapa mata kuliah dengan hasil kurang memuaskan yang tidak saya ulangi karena masih memenuhi syarat kelulusan.
Bagi saya, KAMAJAYA Scholarship bukan sekadar bantuan finansial. KAMAJAYA Scholarship menjadi penolong penting dalam perjalanan pendidikan saya. Melalui kegiatan yang diselenggarakan, saya bertemu banyak orang, membangun relasi, dan mendapat teman baru. Saya juga mengikuti konseling setiap semester, yang sangat membantu ketika menghadapi persoalan kuliah. Konseling memberi ruang untuk berdiskusi dan menerima masukan dari Romo maupun dosen pembimbing.
Selain kuliah, saya aktif dalam kegiatan kerohanian. Saya pernah menjadi pengurus PMK Melisia Christi, Persekutuan Mahasiswa Kristen di UAJY. Komunitas ini memberi saya banyak teman sekaligus membantu pertumbuhan iman. Saya belajar arti pelayanan dalam komunitas kecil kampus. Saya juga melayani di Gereja Kristen Nazarene Filadelfia sejak semester kedua. Pelayanan bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi bagian penting yang membentuk pribadi saya. Dari pengalaman itu, saya semakin memahami bahwa apa yang saya terima harus menjadi berkat bagi orang lain.
Tantangan finansial tetap ada. Ada masa ketika kondisi keuangan sangat terbatas. Karena itu, menerima Beasiswa KAMAJAYA menjadi pertolongan besar. Saya bersyukur, karena KAMAJAYA Scholarship bukan hanya meringankan beban finansial, tetapi juga mengajarkan arti menerima dan memberi. Saya belajar bahwa suatu saat nanti saya harus mampu menjadi berkat bagi orang lain, sebagaimana saya telah menerima kebaikan.
Perjalanan skripsi menjadi bagian paling berwarna. Awalnya saya bersyukur mendapat dosen pembimbing yang banyak diinginkan mahasiswa. Beliau hanya membimbing empat orang, dan saya salah satunya. Bimbingan pertama berjalan baik, tetapi kesulitan muncul saat penelitian. Saya kesulitan mendapatkan responden di KPP Pratama Wonosari. Berulang kali saya pulang-pergi Yogyakarta–Wonosari, bahkan door to door mencari responden. Banyak penolakan saya terima, tetapi saya sadar bahwa judul penelitian adalah tanggung jawab saya.
Pertolongan datang tak terduga. Dalam ibadah PMK, saya bertemu Ibu Pdt. Kristin. Beliau menyarankan saya ikut pelayanan di Lapas Wonosari dan memperkenalkan saya kepada mantan anak binaannya yang sudah menjadi pengusaha. Dari sana, saya mendapat bantuan menyebarkan kuesioner hingga jumlah responden terpenuhi. Skripsi pun berlanjut hingga Bab 5. Namun, sebelum revisi terakhir, dosen pembimbing saya meninggal dunia karena serangan jantung. Kesedihan mendalam saya rasakan, bukan hanya karena sidang tertunda, tetapi karena kehilangan sosok yang sabar membimbing saya.
Setelah pergantian dosen pembimbing, saya kembali melanjutkan proses. Puji Tuhan, skripsi saya akhirnya disetujui untuk sidang. Saya menjadi mahasiswa pertama yang mendaftar pada periode tersebut. Meski takut, saya terus berdoa agar Tuhan memberi kelancaran. Pada hari sidang, dari empat mahasiswa, tiga dinyatakan lulus, termasuk saya. Rasa syukur luar biasa saya rasakan. Perjalanan ini penuh tantangan: gagal masuk perguruan tinggi negeri, nilai menurun, keterbatasan finansial, kesulitan penelitian, penolakan responden, bahkan kehilangan dosen pembimbing. Namun, semua itu mengajarkan bahwa perjalanan tidak harus mudah untuk menjadi berarti.
Saya percaya setiap proses memiliki tujuan, dan setiap pertolongan adalah bagian dari penyertaan Tuhan. Karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai, membimbing, dan memberi kekuatan hingga saya menyelesaikan pendidikan. Saya juga berterima kasih kepada KAMAJAYA Scholarship atas kepercayaan dan kesempatan berharga ini. Dukungan yang diberikan bukan hanya materi, tetapi juga perhatian, konseling, relasi, dan semangat yang membuat saya bertahan. KAMAJAYA Scholarship mengingatkan saya bahwa menerima bantuan bukan berarti berhenti pada diri sendiri, melainkan menjadi pengingat untuk suatu hari memberi kembali dan menjadi berkat bagi orang lain.



Yogyakarta, 8 September 2026
Juandri Tansi Dendo
Mahasiswa Program Studi Akuntansi UAJY Angkatan 2022
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-8











No Comments