KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Sarjana Pertama dalam Keluarga

Kisah Penerima Beasiswa: Sarjana Pertama dalam Keluarga

Nama saya Sekar Galuh Pramesthi, mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-8. Dalam tulisan ini, saya ingin membagikan perjalanan saya selama berkuliah, sebuah kisah yang penuh tantangan, namun juga dipenuhi rasa syukur dan harapan.

Perjalanan kuliah saya dimulai dari sebuah harapan sederhana: bisa masuk ke perguruan tinggi negeri. Sejak awal, saya bercita-cita melanjutkan pendidikan di kampus negeri karena dianggap lebih terjangkau dan menjadi dambaan banyak siswa SMA. Namun, takdir membawa saya ke jalan yang berbeda. Saya diterima di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), sebuah kampus swasta yang tentu memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi biaya pendidikan. Saat itu, saya dan keluarga tidak menyangka bahwa total biaya kuliah akan sebesar itu. Namun, ayah saya selalu menguatkan saya dengan berkata, “Rizki sudah ada yang mengatur.” Kalimat itu menjadi pegangan dan penyemangat saya untuk terus melangkah, meski dengan banyak pertimbangan dan keterbatasan.

Sejak semester 1 hingga semester 5, saya menjalani kuliah tanpa bantuan beasiswa apa pun. Orang tua saya masih berupaya mencukupi semua kebutuhan saya, meskipun harus bekerja keras. Namun, memasuki semester 6, kondisi ekonomi keluarga mulai menurun. Saat itu saya mulai berpikir untuk berhenti sejenak dari kuliah mengambil cuti selama satu tahun, bekerja, lalu melanjutkan kembali ketika sudah memiliki tabungan.

Di tengah kebimbangan itu, saya menyampaikan niat tersebut kepada keluarga, dan secara mengejutkan om saya yang bekerja sebagai driver di UAJY memberikan informasi beasiswa. Om saya berkata, “Di keluarga kita belum ada yang sarjana. Kamu yang pertama bisa kuliah. Om bantu dulu satu semester, tapi kamu harus cari beasiswa. Coba daftar di KAMAJAYA Scholarship.” Kata-kata dan tindakan om saya sangat membekas dalam hati saya. Dengan penghasilannya yang tidak besar, beliau tetap berusaha agar saya tidak berhenti kuliah. Dengan bantuan dan dorongan dari beliau, saya pun mulai mencari informasi dan mendaftar ke Beasiswa KAMAJAYA.

Singkat cerita, saya lolos sebagai penerima Beasiswa KAMAJAYA. Ketika mendapat pengumuman tersebut, saya menangis bukan hanya karena senang, tetapi karena merasa sangat terbantu. Beasiswa ini menjadi titik balik dalam perjalanan pendidikan saya. Saya kembali mendapatkan harapan dan semangat baru untuk menyelesaikan kuliah. Sejak semester 4, saya juga mulai bekerja sambil kuliah. Awalnya saya mengalami kesulitan dalam membagi waktu. Jadwal kuliah dan pekerjaan sering bentrok, dan saya belum bisa mengatur prioritas dengan baik. Hal itu berdampak pada nilai saya yang sempat turun di semester 4. Namun, lambat laun saya belajar membagi waktu dan bertanggung jawab atas pilihan yang saya ambil. Saya sadar bahwa saya harus kuat, karena saya memilih jalan ini demi meringankan beban orang tua saya.

Dengan bekerja, saya bisa memenuhi kebutuhan pribadi saya tanpa harus terlalu bergantung pada orang tua. Biasanya, saya hanya meminta uang bulanan sebesar Rp200.000–Rp300.000 saja. Bahkan tak jarang saya tidak meminta sama sekali, karena sudah memiliki penghasilan sendiri, meskipun tidak besar. Gaji dari pekerjaan paruh waktu saya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan saya juga bisa menabung untuk kebutuhan lain seperti membeli HP sendiri. Ketika saya harus mengikuti remedial untuk dua mata kuliah dan dikenakan biaya Rp500.000, saya membayar sendiri dari tabungan. Saya tahu itu adalah tanggung jawab saya atas kesalahan saya sendiri.

Menjadi penerima beasiswa bukan berarti hidup menjadi mudah. Saya tetap harus bekerja keras dan berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dalam kesibukan antara kuliah dan bekerja, saya tetap berusaha mengikuti kegiatan KAMAJAYA Scholarship Saya ingin berkontribusi dan hadir sebagai bagian dari keluarga besar beasiswa ini, karena saya tahu bahwa banyak orang di balik layar yang terus mendoakan dan mendukung kami para penerima Beasiswa KAMAJAYA.

Hingga akhirnya, pada tanggal 13 Juni 2025, saya menjalani ujian pendadaran. Saya dinyatakan LULUS, dan itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup saya. Saat itu, saya merasa perjuangan saya selama ini tidak sia-sia. Saya berhasil menyelesaikan studi saya, dan menjadi sarjana pertama dalam keluarga. Hal ini bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang harapan, perjuangan, dan keteladanan yang ingin saya wariskan pada generasi berikutnya di keluarga saya.

Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya yang selalu mendukung saya dengan penuh cinta, kepada om saya yang tulus membantu di masa sulit saya, dan kepada semua pihak di KAMAJAYA Scholarship yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada diri saya sendiri—yang sudah berjuang, tidak menyerah, dan terus bertahan dalam setiap tantangan. Terima kasih telah bertanggung jawab, tidak egois, dan mau berkorban demi masa depan yang lebih baik. Ke depan, saya ingin menjadi seseorang yang tidak hanya sukses untuk diri sendiri, tetapi juga bisa memberi kembali kepada masyarakat. Saya ingin menjadi pribadi yang bisa membantu adik-adik tingkat yang juga sedang mengalami kesulitan dalam pendidikan, sebagaimana dulu saya pernah dibantu.

Saya percaya, pendidikan adalah salah satu cara untuk mengubah hidup. Dan saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan saya. Semua ini bisa terjadi karena campur tangan banyak orang baik, dan saya berdoa semoga saya juga bisa menjadi “orang baik” itu untuk orang lain di masa depan.

Yogyakarta, 16 Juni 2025

Sekar Galuh Pramesthi
Mahasiswa Program Studi Akuntansi UAJY Angkatan 2021
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-8

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA