KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Doa yang Tak Pernah Padam

Lentera Atma: Doa yang Tak Pernah Padam

Dalam setiap doa yang terucap, tersimpan keyakinan bahwa kasih Tuhan tidak berhenti pada batas kematian. Kita mungkin tidak bisa lagI menyentuh ataupun berbicara dengan mereka yang telah pergi. Namun melalui doa kita percaya bahwa kasih itu tetap berlanjut dan menembus waktu, jarak, dan dunia.

Dalam bacaan Roma 14:7-9 mengatakan “Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.”

Dalam bacaan di atas menegaskan bahwa kehidupan manusia sepenuhnya berakar pada kasih Allah. Kematian bukanlah akhir, melainkan keberlanjutan perjalanan menuju kedamaian kekal. Dalam terang iman inilah, doa bagi arwah menjadi simbol kasih yang tetap menyala.

Doa yang kita panjatkan bukan sekadar ungkapan duka, melainkan tanda kesetiaan iman. Kita berdoa bukan karena ingin mengubah masa lalu melainkan karena percaya bahwa setiap jiwa berharga di hadapan Tuhan. Doa juga menjadikan wujud cinta yang tidak mengenal batas. Ketika kita berdoa bagi arwah, kita sesungguhnya sedang menghidupkan kembali hubungan yang dibangun atas kasih. Doa menghubungkan kita dengan mereka dalam cara yang misterius namun nyata. Dalam ketenangan hati, kedamaian batin, dan keyakinan bahwa mereka kini berada dalam pelukan kasih Tuhan.

Doa juga berbicara tentang kita yang masih berjalan di bumi ini. Dalam setiap lilin yang kita nyalakan dan setiap nama yang kita sebut dalam doa, kita diingatkan akan keterbatasan hidup manusia dan betapa berharganya waktu yang kita miliki. Hidup ini singkat dan karena itu setiap kebaikan, setiap kasih, dan setiap doa yang tulus merupakan cahaya yang akan tetap menyala, bahkan setelah kita tiada.

Hari peringatan arwah menjadi saat di mana kita berhenti sejenak, bukan untuk berduka melainkan untuk merenung. Hari tersebut mengingatkan kita bahwa hidup ini bukan milik kita sendiri melainkan milik Tuhan yang memberi dan mengambil kasih. Maka, biarkan doa kita menjadi persembahan kecil dari hati. Sebuah nyala yang tak pernah padam merupakan tanda bahwa cinta yang sejati tidak akan pernah hilang.

Doa yang tak pernah padam juga mengajarkan kita tentang kesetiaan dalam kasih. Ketika seseorang yang kita sayangi telah meninggalkan dunia ini, sering kali hati manusia diliputi rasa kehilangan dan hampa. Namun keheningan dalam doa membuat kita belajar untuk menyerahkan segalanya kembali ke Tuhan. Kita percaya bahwa kasih sejati tidak berhenti di makam atau sebatas kehidupan duniawi, melainkan menemukan bentuk baru di dalam keabadian. Dengan berdoa kita tidak hanya mengenang mereka tetapi juga memelihara kasih yang dulu pernah hidup bersama kita. Kasih itu tidak memudar melainkan terus tumbuh dalam keyakinan bahwa mereka kini beristirahat dalam damai Tuhan yang penuh belas kasih.

Jadi, doa yang tak pernah padam adalah wujud iman yang hidup. Ia tidak berhenti hanya sebatas kata-kata melainkan menjadi tindakan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Saat kita menolong sesama, mengampuni, atau berbagi dengan yang membutuhkan, di sanalah doa itu hidup dan bekerja. Peringatan arwah ini mengingatkan kita bahwa cinta sejati tidak hanya diucapkan dalam doa, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan. Maka setiap doa yang kita panjatkan, setiap lilin yang kita nyalakan, menjadi tanda bahwa kasih Tuhan terus bekerja melalui kita.

Image by Andreas Lischka from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA