KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Natal di Tanah Rantau

Opini: Natal di Tanah Rantau

Natal selalu identik dengan tawa keluarga, meja makan yang penuh cerita, dan terutama pelukan Mama yang selalu lebih hangat daripada udara dingin Desember. Namun tahun ini berbeda. Ada jarak yang memisahkan, dan tidak ada cara untuk menyangkal bahwa Natal kali ini terasa lebih berat, lebih sunyi, dan lebih kosong dari biasanya. Biasanya di kampung halaman, mulai bulan November hingga Desember, harum kue Natal memenuhi udara dan bunyi petasan mewarnai suasana penuh suka cita menyambut kelahiran Yesus Kristus yang luar biasa. Namun tahun ini, semua itu terasa jauh.

Justru dalam kesunyian inilah makna Natal yang sejati tampil dengan lebih jelas, sebab inti Natal bukan hanya kehangatan keluarga, tetapi inkarnasi Kristus bahwa Allah sendiri memilih turun ke tengah pengalaman manusia, termasuk pengalaman jauh dari rumah dan kerinduan yang menyakitkan. Ketika aku merasakan jarak ini, aku diingatkan bahwa Yesus sendiri lahir dalam keadaan terasing, jauh dari kenyamanan, bahkan tidak mendapatkan tempat di penginapan (Lukas 2:7). Dengan demikian, kesunyian dan jarak bukanlah keadaan yang asing bagi-Nya. Natal kali ini mungkin sepi, tetapi tidak pernah tanpa kehadiran Kristus, Sang Immanuel Allah beserta kita (Matius 1:23).

Karena itu, meskipun hati terasa berat, aku percaya bahwa dalam rindu yang paling dalam sekalipun, ada Allah yang hadir. Ia masuk ke dalam gelap malam manusia agar kita tidak berjalan sendirian. Justru dari ruang sunyi inilah aku belajar memaknai Natal bukan sebagai kembalinya aku kepada keluarga, tetapi sebagai Allah yang terlebih dahulu kembali mendekat kepada manusia.

Dalam keheningan yang baru ini, aku berusaha mengingat kembali pesan Yesus dalam Matius 5:13–16, bahwa kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang. Baru kali ini aku merasakan bahwa menjadi garam dan terang tidak selalu mudah ketika hati sedang rindu, ketika tubuh lelah, dan ketika Natal justru harus dijalani jauh dari orang yang paling berarti, terutama Mama. Rindu kepada Mama memang tidak akan hilang begitu saja, tetapi rindu itu juga mengajariku sesuatu: bahwa cinta yang pernah kuterima begitu besar hingga ketidakhadirannya sekarang sangat terasa.

Kesunyian Natal ini juga mengingatkanku pada kisah kelahiran Yesus sendiri. Ia lahir jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan, bahkan jauh dari tempat yang seharusnya layak. Namun malaikat berkata kepada para gembala, “Jangan takut… hari ini telah lahir bagimu Juruselamat…” (Lukas 2:10–11). Dan itulah Natal terang yang lahir di tengah keadaan yang sama sekali tidak ideal.

Natal tahun ini, meski berat, mengajariku untuk menemukan terang bukan dari keramaian, tetapi dari kesederhanaan. Bukan dari pesta, tetapi dari doa. Bukan dari rumah yang penuh orang, tetapi dari pengharapan bahwa Tuhan hadir di mana pun aku berada. Yesaya 41:10 berkata, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau… Aku akan meneguhkan, membantu dan memegang engkau.” Ayat ini seperti bisikan lembut yang menenangkan bahwa meski aku tidak bersama Mama, aku tetap tidak berjalan sendiri.

Rindu ini tidak akan hilang. Tapi aku belajar menerimanya sebagai bagian dari kasih. Mungkin justru dalam rindu, aku menemukan kembali makna Natal bahwa Kristus datang untuk menyertai manusia di mana pun mereka berada, bahkan ketika mereka merasa sendirian. Natal kali ini berat, iya. Tapi tidak sia-sia. Karena dalam berat itu, Tuhan sedang membentukku, mengubah pandanganku bahwa Natal tidak hanya identik dengan kue dan bunyi petasan, tetapi tentang menyambut kelahiran Tuhan Yesus yang tetap memberi rasa dan terang yang tetap bertahan.

Dan aku percaya, suatu hari aku akan pulang lagi. Pulang ke rumah, ke meja makan sederhana, ke pelukan Mama yang selalu kutunggu dengan hati yang sudah ditempa oleh Natal-Natal yang pernah kujalani sendirian.

Yogyakarta, 27 November 2025

Juandri Tansi Dendo
Mahasiswa Program Studi Akuntansi UAJY Angkatan 2022
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-8

Image by Sabine Kroschel from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA