KAMAJAYA Scholarship / Coretan Mahasiswa  / Coretan Mahasiswa: Pertanggungjawaban di Perantauan

Coretan Mahasiswa: Pertanggungjawaban di Perantauan

Kota Pelajar adalah sebutan yang sudah melekat pada Yogyakarta. Faktanya, memang banyak sekali pilihan tempat untuk menuntut ilmu terutama pada jenjang pekuliahan. Tiap tahunnya, banyak sekali mahasiswa baru yang berdatangan ke kota ini untuk menempuh pendidikan. Asal mereka juga beragam, mulai dari luar kota, luar provinsi, hingga luar pulau.

Rata-rata mereka berkeinginan untuk merantau supaya bisa mendapatkan akses dan kualitas pendidikan yang lebih baik, sembari melatih kemandirian katanya. Memang merantau untuk menempuh pendidikan dapat menjadi salah satu opsi dalam memulai kemandirian. Semua hal dikerjakan dan dilakukan sendiri, sepenuhnya dalam kendali diri sendiri. Namun fenomena yang sering terjadi justru sebaliknya, niat melatih kemandirian melenceng menjadi kebebasan.

Senang rasanya bisa hidup dengan bebas tanpa pengawasan langsung dari orang tua. Di perantauan, orang tua dan keluarga hanya dapat memantau mereka sebatas dari telepon dan video call. Mirisnya, banyak dari mereka yang beranggapan bahwa ini merupakan momen balas dendam setelah hidup yang sebelumnya penuh aturan dari orang tua.

Ke orang tua sih bilangnya belajar, namun mirisnya omongan itu adalah kebohongan. Kewajiban belajar justru dikesampingkan, jauh dari tujuan awal mereka memutuskan untuk merantau. Kuliah dengan semangat yang seadanya, datang ke kelas tanpa persiapan yang serius. Mengerjakan tugas juga sebisanya saja tanpa usaha yang maksimal. Hal-hal kecil yang awalnya disepelekan ini lama-kelamaan mulai tumbuh menjadi kebiasaan yang buruk.

Tumbuhnya kebiasaan ini juga diperparah dengan pertemanan yang memiliki sifat yang tidak berbeda jauh, mereka sama-sama malas-malasan berkuliah dan tidak serius memperjuangkan pendidikannya. Sudah datang ke kelas mepet, saat pembelajaran malah tidur. Semangatnya hanya terbatas pada menunggu waktu istirahat untuk segera pergi ke kantin untuk makan. Pertemanan seperti ini sangat berbahaya, karena dapat mempengaruhi diri dan pola pikir. Jika tidak memiliki keimanan dan kesadaran yang kuat, pasti akan terbawa arus untuk ikut serta menjadi mahasiswa yang malas.

Tidak berhenti di situ saja, tantangan di sepanjang jalan menempuh pendidikan juga diwarnai dengan banyaknya ”godaan” yang tidak henti-hentinya mengguncang diri. Lewat sosial media, semua destinasi dan tempat hiburan yang menarik dengan mudah dapat kita temukan nyaris tanpa usaha. Hal-hal seperti ini tentunya jelas lebih menarik daripada belajar.

Pada akhirnya, belajar menjadi mandiri memang bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak tantangan di sepanjang jalan perjuangan kita, namun janganlah kita kalah terhadap tantangan itu. Sudah seharusnya kita memperjuangkan kewajiban belajar sebagai mahasiswa apalagi di tanah perantauan. Kita perlu sadar bahwa kesempatan berkuliah merupakan kesempatan yang luar biasa, di mana masih banyak orang yang belum mampu untuk mendapatkan jenjang pendidikan hingga setinggi ini. Juga sudah sewajarnya bahwa berjuang adalah hal yang tidak mudah, oleh karena itu kita harus kuat dan teguh di sepanjang perjalanan kita.

Image by wal_172619 from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA