Lentera Atma: Belajar Mengatakan Cukup
“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.” (Amsal 16:3).
Ada masa dalam hidup saya ketika kata “cukup” terasa asing. Bukan karena hidup terlalu penuh, tetapi karena saya terlalu lelah untuk merasa cukup. Beberapa waktu lalu saya berada di titik kehabisan energi dan harapan. Setiap hari terasa seperti tuntutan yang harus dipenuhi, sementara saya sendiri sudah tidak lagi sanggup berdiri dengan utuh. Saya ingin semuanya selesai, ingin semuanya baik, tetapi saya tidak punya daya untuk mengusahakannya.
Di tengah kondisi itu, saya menerima Amsal 16:3 saat perjamuan kudus. Ayat ini datang bukan sebagai perintah dan pengingat, melainkan sebagai kalimat yang menenangkan. Tuhan seolah mendengar dan berkata bahwa saya tidak harus memikul semuanya sendirian, bahwa ada bagian yang bisa dan seharusnya saya delegasikan kepada-Nya. Saat itu saya mulai menyadari bahwa mungkin selama ini yang saya butuhkan bukan jawaban atas semua masalah, melainkan keberanian untuk berkata, “cukup.”
Menyerahkan perbuatan kepada Tuhan tidak berarti saya berhenti melakukan apa pun. Justru sebaliknya, saya bisa tetap melangkah dengan kesadaran bahwa saya memiliki keterbatasan. Menyerahkan berarti mengakui bahwa saya tidak mampu melakukan semuanya sendiri. Ini seperti mendelegasikan kepada Pribadi yang paling mampu. Tuhan yang tidak pernah kehabisan kekuatan. Ketika saya menyerahkan, saya tidak kehilangan kendali, tetapi justru menempatkan hidup saya di tangan yang tepat.
Dari ayat ini pula saya belajar tentang hidup di present moment. Di masa keterpurukan itu, pikiran saya sering terjebak antara penyesalan akan masa lalu dan ketakutan akan masa depan. Saya terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, sampai lupa bahwa Tuhan hadir dan bekerja di hari ini dan besok. Amsal 16:3 menolong saya untuk kembali hidup di “hari ini” melakukan apa yang bisa saya lakukan dan mempercayakan sisanya kepada Tuhan.
“Cukup hari ini” menjadi sebuah pengakuan iman bagi saya. Saya tidak harus kuat untuk esok hari yang belum datang. Saya tidak harus menyelesaikan seluruh rencana hidup saya sekarang juga. Cukup bagi saya untuk taat dan setia hari ini. Cukup bagi saya untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan kemampuan terbaik, tanpa memaksakan diri. Cukup bagi saya untuk percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan ketika saya merasa tidak sanggup.
Dalam penyerahan itu, saya menemukan damai dan rasa tenang yang sebelumnya tidak saya miliki. Damai karena saya tidak lagi menuntut diri saya untuk sempurna. Damai karena saya tahu bahwa hidup saya tidak ditopang oleh kekuatan saya sendiri, melainkan oleh Dia yang setia. Ketika saya belajar berkata “cukup hari ini,” saya juga belajar untuk berhenti memegang kendali atas hal-hal yang memang tidak bisa saya kendalikan.
Amsal 16:3 akhirnya menjadi pengingat harian bagi saya. Ayat ini mengajarkan bahwa hidup bukan tentang seberapa kuat saya bertahan, tetapi seberapa dalam saya percaya bahwa di tengah lelah dan keterbatasan, saya selalu punya pilihan untuk berserah. Hari ini ya hanya hari ini dan itu sudah cukup.












No Comments