Coretan Mahasiswa: Mahasiswa Semester Akhir
Menjadi mahasiswa semester akhir sering kali terdengar membanggakan. Di atas kertas, status ini identik dengan kata “sebentar lagi lulus”, “tinggal skripsi”, atau “sudah hampir selesai”. Namun di balik itu semua, ada kegundahan yang sulit dijelaskan, kegelisahan yang datang silih berganti, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak jarang membuat kepala penuh bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
Sebagai mahasiswa semester akhir, hari-hari tak lagi sekadar soal jadwal bimbingan. Yang hadir justru tenggat skripsi, revisi yang tak kunjung usai, serta rasa bersalah setiap kali merasa produktif belum maksimal. Ada hari-hari ketika membuka laptop saja rasanya berat, bukan karena tidak mau berusaha, tapi karena pikiran sudah terlalu lelah oleh ekspektasi, baik dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar.
Pertanyaan klasik mulai sering terdengar mulai dari, “Kapan lulus?” atau, “Abis ini mau ke mana?” Pertanyaan sederhana yang bagi penanya mungkin sekadar basa-basi. Namun bagi mahasiswa semester akhir, bisa terasa seperti beban tambahan. Di titik ini, masa depan terasa kabur. Ada yang sudah punya rencana matang, ada pula yang masih mencoba memahami ke mana arah langkahnya setelah toga benar-benar dikenakan.
Kegelisahan itu tidak hanya soal akademik, tetapi juga hadir dalam bentuk perbandingan sosial. Melihat teman-teman yang sudah lulus lebih dulu, bekerja di perusahaan ternama, atau melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, sering kali menimbulkan rasa tertinggal. Padahal, setiap orang berjalan dengan ritme dan jalannya masing-masing. Namun, memahami hal tersebut secara logika tidak selalu berarti mampu menenangkannya secara emosional.
Di sisi lain, mahasiswa semester akhir juga berada di persimpangan identitas. Tidak lagi sepenuhnya mahasiswa yang sibuk dengan organisasi dan kegiatan kampus, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi bagian dari dunia profesional. Ada rasa kehilangan terhadap kehidupan kampus yang perlahan akan ditinggalkan, sekaligus ketakutan menghadapi dunia setelahnya yang terasa begitu nyata dan menuntut. Meski begitu, kegundahan ini sejatinya adalah tanda bahwa proses sedang berjalan. Rasa gelisah menunjukkan bahwa ada harapan, ada tujuan, dan ada kepedulian terhadap masa depan. Tidak semua orang berani memikirkan langkah berikutnya dengan serius.
Menjadi mahasiswa semester akhir memang tidak mudah. Namun di balik segala kegundahan, ada proses pendewasaan yang sedang berlangsung. Pelan-pelan, kita belajar bahwa tidak apa-apa merasa lelah, tidak apa-apa merasa ragu, dan tidak apa-apa berjalan sedikit lebih lambat. Yang terpenting adalah tetap melangkah, sekecil apa pun langkah itu.












No Comments