Opini: Kebijakan Gentengisasi

Kebijakan gentengisasi merupakan salah satu program pembangunan yang pernah dijalankan pemerintah dengan tujuan meningkatkan kualitas hunian masyarakat. Gentengisasi pada dasarnya adalah upaya mengganti atap rumah masyarakat yang sebelumnya menggunakan bahan tradisional seperti rumbia atau seng menjadi genteng yang dianggap lebih layak, kuat, dan sehat. Jika dilihat sekilas, program ini tampak sederhana karena hanya berkaitan dengan perubahan material bangunan. Namun, dari sudut pandang manajemen, kebijakan gentengisasi sebenarnya menyimpan makna yang lebih luas karena menyangkut proses pengelolaan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya di tingkat masyarakat.
Menurut saya, memandang gentengisasi bukan sekadar program pembangunan fisik, tetapi juga bentuk kebijakan publik yang membutuhkan strategi implementasi yang tepat. Dalam ilmu manajemen, sebuah program tidak hanya dinilai dari niat baiknya, tetapi juga dari bagaimana program tersebut direncanakan, dijalankan, serta dievaluasi. Gentengisasi menjadi contoh bahwa pembangunan infrastruktur selalu melibatkan manusia sebagai aktor utama, sehingga keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh penerimaan masyarakat dan kemampuan pemerintah dalam mengelola proses perubahan tersebut.
Tujuan utama gentengisasi adalah menciptakan rumah yang lebih layak dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Rumah bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga simbol kesejahteraan dan keamanan. Ketika masyarakat tinggal di rumah yang lebih kuat dan sehat, maka dampaknya tidak hanya dirasakan pada aspek fisik, tetapi juga pada aspek psikologis dan sosial. Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, lingkungan hidup yang baik dapat meningkatkan produktivitas individu karena masyarakat merasa lebih nyaman dan aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, gentengisasi dapat dipahami sebagai investasi sosial jangka panjang.
Namun, tantangan terbesar dari kebijakan seperti gentengisasi terletak pada implementasinya. Dalam manajemen operasional, kita belajar bahwa kebijakan yang baik di atas kertas belum tentu berjalan efektif di lapangan. Gentengisasi sering kali menghadapi berbagai hambatan, mulai dari distribusi bantuan yang tidak merata, keterbatasan ekonomi masyarakat untuk melanjutkan perawatan rumah, hingga perbedaan kebutuhan lokal yang tidak selalu sama antardaerah. Dalam konteks ini, kebijakan gentengisasi dapat menjadi contoh bahwa pendekatan pembangunan yang seragam belum tentu cocok diterapkan pada masyarakat yang sangat beragam.
Dalam manajemen modern, keberhasilan suatu program sangat bergantung pada keterlibatan pihak-pihak yang terdampak oleh program tersebut. Masyarakat seharusnya tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mitra dalam proses perubahan. Jika gentengisasi dilakukan tanpa komunikasi yang baik dan tanpa melibatkan masyarakat dalam perencanaan, maka program ini berpotensi dianggap sebagai proyek pemerintah semata, bukan sebagai kebutuhan bersama. Hal ini dapat memunculkan resistensi atau bahkan ketidakpedulian masyarakat terhadap program tersebut.
Gentengisasi juga membawa pertanyaan mengenai keberlanjutan kebijakan. Genteng memang lebih tahan lama, tetapi biaya produksi dan distribusinya tidak kecil. Jika program hanya berorientasi pada hasil cepat tanpa sistem pendukung jangka panjang, masyarakat bisa kembali menggunakan material lama karena keterbatasan ekonomi. Dalam manajemen keuangan, keberlanjutan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai efektivitas program. Kebijakan publik seharusnya tidak berhenti pada pembangunan awal, tetapi juga memastikan masyarakat mampu mempertahankan hasil pembangunan tersebut.
Pada akhirnya, gentengisasi merupakan contoh nyata bahwa pembangunan fisik selalu membawa dimensi sosial dan manajerial. Kebijakan ini bukan hanya soal mengganti atap rumah, tetapi juga tentang bagaimana pemerintah mengelola perubahan, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta menciptakan program yang adaptif terhadap kebutuhan lokal. Dari sudut pandang manajemen, kebijakan seperti gentengisasi membutuhkan perencanaan strategis, pengelolaan stakeholder, serta evaluasi yang berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat.
Gentengisasi mengajarkan bahwa kebijakan publik yang baik bukan hanya yang terlihat rapi secara fisik, tetapi yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara nyata. Sebagai generasi muda dan mahasiswa manajemen, kita dapat melihat bahwa pembangunan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan proses panjang dalam membangun kesejahteraan yang memerlukan manajemen yang efektif dan partisipasi bersama.
Yogyakarta, 5 Februari 2026
Avrilla Putri Indraprasta
Mahasiswa Program Studi Manajemen UAJY Angkatan 2022
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-7












No Comments