Opini: Lampion Yang Masih Tertinggal dan Makna yang Masih Menyala

Beberapa minggu setelah Imlek, suasana di kawasan Jalan Gajah Mada hingga Titik Nol Kota Denpasar masih menyisakan nuansa perayaan. Lampion-lampion merah tampak belum dilepas, menggantung tenang di atas jalan, seolah enggan buru-buru mengakhiri suasana tahun baru. Biasanya ketika Imlek berlangsung, Jalan Gajah Mada biasanya berubah menjadi ruang perayaan. Warga berdatangan, keluarga berjalan santai menikmati suasana, anak-anak berfoto di bawah lampion, dan para pedagang merasakan peningkatan pembeli. Imlek bukan hanya momen spiritual bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga peristiwa budaya yang menghidupkan ruang kota.
Namun setelah hari raya usai, suasana perlahan kembali normal. Toko-toko buka seperti biasa, kendaraan melintas tanpa henti, dan percakapan warga kembali pada rutinitas harian. Di tengah ritme kota yang cepat itu, lampion-lampion yang belum diturunkan menjadi semacam jeda visual—sebuah sisa perayaan yang belum sepenuhnya menghilang.
Di tengah rutinitas itu, lampion-lampion yang masih terpasang menjadi penanda bahwa perayaan baru saja lewat. Ia seperti jejak visual dari kebersamaan, doa, dan harapan yang dipanjatkan saat malam pergantian tahun. Warna merah yang identik dengan keberuntungan dan sukacita tetap memberi sentuhan hangat di ruang publik. Pemandangan ini menarik untuk direnungkan. Kadang, semangat perayaan memang mereda, tetapi maknanya tidak harus ikut padam. Lampion yang belum dilepas seakan mengingatkan bahwa harapan tidak berhenti hanya karena kalender sudah berganti halaman.
Di kawasan Titik Nol Kota Denpasar—ruang yang kerap menjadi titik temu warga dan wisatawan—keberadaan lampion juga memperlihatkan bagaimana kota ini merawat keberagamannya. Denpasar bukan hanya ruang administratif, tetapi ruang hidup berbagai identitas budaya. Imlek, dengan segala atributnya, menjadi bagian dari wajah kota yang inklusif.
Dalam konteks ruang publik, dekorasi yang belum dilepas bisa dibaca sebagai simbol bahwa budaya tidak selalu berhenti tepat waktu sesuai jadwal. Ada ingatan kolektif yang menetap lebih lama. Warna merah yang masih menghiasi Jalan Gajah Mada seolah memperpanjang rasa hangat yang sempat mengisi kota.
Mungkin dalam waktu dekat lampion-lampion itu akan diturunkan, disimpan hingga perayaan berikutnya. Namun selama masih menggantung di atas jalan, ia menjadi pengingat bahwa pergantian tahun bukan sekadar seremoni satu hari. Ia adalah proses panjang untuk menjaga harapan tetap hidup—di tengah kesibukan, di antara rutinitas, dan di ruang-ruang kota yang terus bergerak, dan di Denpasar, setidaknya untuk beberapa minggu setelah Imlek, lampion-lampion itu masih berbicara dalam diam.
Denpasar, 26 Februari 2026
Kadek Dian Dwiyanti Hapsari
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UAJY Angkatan 2023
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-8












No Comments