KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Mencintai Diri Sendiri

Opini: Mencintai Diri Sendiri

Saat ini kita semua hidup pada era di mana dunia dipenuhi dengan perubahan dan inovasi yang tidak ada habisnya. Semuanya berjalan dengan tempo yang cepat, yang seakan tidak pernah ada ruang untuk berhenti sejenak. Tidak hanya berhenti di situ saja, kita selalu dituntut untuk menjadi sempurna dalam segala hal. Mulai dari pekerjaan, hubungan pertemanan, hingga cara kita mem-branding diri sendiri. Pencapaian seakan menjadi ukuran dalam melihat ”nilai” seseorang, membuat banyak dari kita terus berlari tanpa henti. Berusaha memenuhi ekspektasi yang sering kali bukan datang dari diri sendiri.

Kita semua sering mendengar bahwa pengalaman dan kegagalan adalah guru terbaik, sama seperti kita menyadari bahwa dibutuhkan dedikasi dan pengorbanan besar untuk meraih impian yang kita cita-citakan. Namun, sering kali semangat perjuangan itu yang membuat kita terluka, semangat dari diri kita sendiri. Saat apa yang kita usahakan ternyata tidak sesuai harapan, kita sering kali mudah merasa gagal dan kecewa. Seakan kegagalan adalah hal yang paling buruk dan tidak layak untuk dihargai. Padahal, memang banyak faktor di luar kendali kita yang membuat usaha kita tidak berbuah manis.

Budaya yang menuntut kesempurnaan ini membuat kegagalan dianggap buruk. Padahal, justru dalam kegagalan itulah kita belajar tentang ketahanan, kesabaran, dan cara untuk bangkit kembali. Tapi alih-alih menerima proses itu, banyak dari kita justru memilih untuk menyalahkan diri sendiri. Lama-kelamaan, pola pikir ini menumbuhkan tekanan yang berat, kita merasa harus selalu kuat, harus selalu benar, dan tidak boleh kecewa. Tanpa sadar, kita sedang memaksakan diri untuk menjadi versi ideal yang diciptakan oleh standar orang lain.

Konsep self love sering dijadikan solusi, banyak yang mengajak kita untuk “mencintai diri sendiri”. Di media sosial, kata-kata ini bahkan sudah jadi mantra populer, sering muncul dalam video motivasi. Namun, praktiknya tidak semudah itu. Mencintai diri sendiri berarti menerima bahwa kita tidak akan selalu sempurna, bahwa ada saat-saat di mana kita boleh lemah, gagal, dan merasa tidak baik-baik saja. Tapi di era yang mengagungkan kesuksesan, hal seperti itu sering dianggap kelemahan.

Mungkin, mencintai diri sendiri tidak hanya sebatas tentang memberi afirmasi positif setiap hari, melainkan berani memaafkan diri ketika kita tidak sesuai ekspektasi. Tidak masalah jika belum berhasil, tidak apa-apa jika masih belajar. Karena pada akhirnya, Tuhan memang menciptakan kita semua ”tidak sempurna”. Tuhan menghendaki manusia seperti ini agar bisa saling melengkapi, saling membantu, menjadi berkat bagi orang lain. Jangan pernah lupa untuk berterima kasih pada diri kita, ketidaksempurnaan membuat kita untuk menjadi pribadi yang terus belajar.

Yogyakarta, 16 Oktober 2025

Franciscus Xaverius Jodhiawan Wicaksono
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAJY Angkatan 2024
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9

Image by Ylanite Koppens from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA