KAMAJAYA Scholarship / Coretan Mahasiswa  / Coretan Mahasiswa: Takut Menyongsong Hari Esok

Coretan Mahasiswa: Takut Menyongsong Hari Esok

Ada satu hal yang belakangan ini semakin sulit aku kendalikan, rasa cemas tentang masa depan. Bukan sekadar cemas biasa yang datang lalu pergi, tapi kecemasan yang menempel erat di dada, menekan, membuat napas terasa berat, membuat malam-malam terasa seperti pertarungan yang panjang dengan pikiran sendiri.

Aku sering bertanya-tanya, sejak kapan masa depan menjadi sesuatu yang begitu menakutkan? Mungkin karena semakin jauh melangkah, aku semakin sadar bahwa dunia tidak menunggu siapa pun. Dunia terus berputar, sementara aku merasa seperti berdiri di tempat yang sama, tidak yakin harus melangkah ke mana.

Aku lihat orang-orang di sekitarku begitu percaya diri dengan arah hidup mereka. Ada yang sudah punya rencana karier, mengikuti kelas-kelas praktisi, magang, bahkan ada yang sudah memiliki target lima tahun ke depan. Aku mengamati mereka dari kejauhan kagum, tapi juga tercekik oleh rasa takut. Senyum mereka terlihat stabil, langkah mereka tampak mantap, seolah seluruh dunia sudah disusun rapi dalam kepala mereka.

Sedangkan aku? Aku masih sering terjaga di jam tiga pagi, menatap layar laptop yang terbuka tanpa tahu apa sebenarnya yang sedang aku cari. Mencoba menulis CV berkali-kali lalu menghapusnya kembali. Bukan karena aku tidak ingin mencoba, tapi karena aku terlalu takut gagal.

Ada ketakutan mendasar yang tidak pernah bisa kuucapkan pada siapa pun:

Bagaimana kalau aku tidak pernah cukup baik?

Bagaimana kalau aku kalah sebelum mulai?

Bagaimana kalau aku tidak punya tempat di dunia kerja nanti?

Semua pertanyaan itu hanya berkumpul di dalam kepala, menumpuk tanpa arah. Aku jarang bercerita kepada siapa pun terutama keluarga. Aku tumbuh sebagai seseorang yang terbiasa menahan cerita sendiri. Bukan karena aku tidak punya orang untuk diajak bicara, tapi karena aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang kurasakan tanpa terdengar berlebihan atau lemah. Kadang rasanya lebih mudah pura-pura kuat daripada mencoba menjelaskan perasaan yang bahkan sulit kupahami.

Tidak ada yang tahu bahwa ada malam ketika aku begitu lelah sampai rasanya ingin hilang sejenak dari semuanya. Bukan hilang untuk selamanya tapi hilang dari tekanan, dari ekspektasi, dari suara-suara di kepala yang tidak pernah berhenti berkata bahwa aku tertinggal.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku begitu takut pada masa depan?

Menurutku, karena masa depan terasa seperti ruang kosong yang luas, gelap, dan aku tidak tahu apa yang menunggu di sana. Dunia orang dewasa terdengar seperti medan tempur yang keras, di mana yang lemah tidak punya kesempatan. Dunia kerja digambarkan seperti arena kompetisi tak berujung, di mana semua orang saling berlomba untuk menjadi yang terbaik.

Aku mencoba mengikuti ritme teman-teman yang terlihat produktif dan penuh energi. Ikut seminar karier, membaca artikel tentang pengembangan diri. Tapi setiap kali aku selesai mengikuti itu semua, aku justru merasa semakin terbebani. Seolah-olah semua pembicara sukses itu sedang berkata, “Kalau kamu tidak bergerak cepat, kamu akan tertinggal sangat jauh.”

Aku mulai membandingkan diriku dengan orang lain hal yang selalu dibilang orang tidak boleh dilakukan, tapi kenyataannya sangat sulit dihindari. Aku melihat teman-teman yang sudah bekerja paruh waktu, yang punya usaha kecil, yang sudah punya prestasi akademik yang membanggakan. Sementara aku hanya bisa menatap layar kosong dan bertanya, “Aku ini sebenarnya sudah melakukan apa saja?”

Di tengah perjalanan pulang aku berpikir tentang pilihan hidup, tentang arah masa depan, tentang apa sebenarnya arti kesuksesan. Dunia selalu berkata bahwa sukses adalah punya karier besar, gaji tinggi, prestasi gemilang. Tapi apakah benar begitu? Kenapa tidak ada yang menjelaskan bahwa untuk sampai ke sana orang-orang harus melewati banyak malam menangis diam-diam? Kenapa tidak ada yang berkata bahwa cemas dan bingung juga bagian dari proses?

Di balik setiap pencapaian besar, selalu ada cerita yang tidak pernah ditampilkan: kegagalan, ketakutan, keraguan, rasa ingin menyerah. Tapi aku tidak melihat semua itu. Yang aku lihat hanya hasil akhirnya. Dan itu membuatku merasa semakin kecil.

Namun pelan-pelan, aku mulai mencoba berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar bahwa hidup bukan perlombaan sprint. Aku belajar bahwa tidak semua orang memiliki garis start yang sama. Dan tidak apa-apa jika langkahku tidak secepat orang lain.

Aku belajar menghargai hal kecil,

mampu bangun pagi meski semalam gelisah,

mampu menyelesaikan satu tugas meski rasanya tidak sanggup,

mampu bertahan satu hari lagi meski kepala penuh keraguan.

Pelan-pelan aku mulai mengerti bahwa perjalanan setiap orang berbeda. Bahwa tidak apa-apa jika aku belum tahu tujuan akhirnya. Bahwa tidak apa-apa jika aku masih belajar mengenali diriku sendiri.

Image by PDPics from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA