Kisah Penerima Beasiswa: Bukan Perjalanan yang Mudah, tetapi Tak Pernah Sendirian
Saya masih ingat betul bagaimana rasa terkejut sekaligus bahagia yang saya rasakan ketika dinyatakan diterima kuliah. Rasanya seperti mimpi yang akhirnya menjadi nyata, dan saya bersyukur bisa memulai babak baru dalam hidup saya sebagai seorang mahasiswa. Dengan semangat yang menggebu, saya melangkah masuk ke dunia perkuliahan dengan harapan besar untuk dapat menyelesaikannya dengan baik.
Selama menjalani perkuliahan, saya berusaha untuk selalu rajin mengikuti kelas dan aktif dalam berbagai kegiatan maupun organisasi kampus. Awalnya, keikutsertaan dalam organisasi memang menjadi salah satu syarat kelulusan yang harus dipenuhi. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa aktif berorganisasi justru membawa banyak manfaat bagi diri saya. Saya menjadi pribadi yang lebih terbuka, lebih berani mengambil peran, dan yang paling berkesan, saya mendapatkan banyak teman serta relasi baru selama masa perkuliahan. Koneksi-koneksi yang saya bangun ini menjadi salah satu kekayaan tersendiri yang saya bawa hingga saat ini.
Di balik kesibukan dan dinamika kampus, ada satu tantangan yang mulai terasa berat, yaitu kondisi finansial keluarga saya yang semakin menipis untuk membiayai perkuliahan. Saya dan keluarga merasakan bahwa dukungan finansial tidak lagi semudah di awal. Dari situlah saya memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan mendaftar Beasiswa KAMAJAYA. Harapan saya sederhana: jika diterima, saya bisa lebih fokus menjalani kuliah tanpa terlalu terbebani oleh persoalan biaya, karena ada uluran tangan dari KAMAJAYA Scholarship yang membantu meringankan jalan saya menuntut ilmu.
Tentu saja, perjalanan kuliah tidak selalu berjalan mulus. Ada dinamika kecil yang mewarnai hari-hari perkuliahan, misalnya ketika mendapatkan kelompok tugas dengan anggota yang kurang bertanggung jawab. Hal-hal semacam ini mungkin terlihat sepele, tetapi cukup menguji kesabaran dan kemampuan saya untuk tetap profesional dalam bekerja sama.
Tantangan terbesar datang ketika saya memasuki masa penyusunan skripsi. Awalnya saya sangat percaya diri dengan judul penelitian yang saya bawa saat sidang proposal. Namun kenyataannya, saya harus merelakan beberapa variabel penelitian diganti, yang berarti saya harus memulai proses dari awal lagi, termasuk mencari objek penelitian baru yang ternyata tidak mudah. Ada masa-masa di mana bimbingan dilakukan berkali-kali, tetapi pembahasan hanya berputar pada persoalan yang sama tanpa kemajuan berarti. Saya sempat merasa sangat lelah, bahkan hampir menyerah karena merasa seperti berjalan di tempat.
Namun setiap kali ingin berhenti, saya selalu mengingat kembali betapa banyak dukungan yang sudah saya terima, termasuk dari KAMAJAYA Scholarship yang telah mempercayai saya. Saya berdoa kepada Tuhan dan Bunda Maria, memohon petunjuk serta kekuatan agar bisa melanjutkan penyusunan skripsi dengan baik. Doa saya dijawab: saya merasakan semangat baru yang membuat saya kembali bangkit dan melanjutkan perjuangan.
Meski begitu, ujian tidak berhenti sampai di situ. Ekspektasi memang tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Saya kembali menemui kesulitan dalam mencari responden penelitian. Banyak warga enggan membantu mengisi data, sehingga jumlah data yang terkumpul sempat jauh dari target. Namun, di tengah kesulitan itu, saya berusaha tetap yakin dan percaya bahwa saya pasti bisa menyelesaikannya, sepelan apa pun prosesnya.
Hingga akhirnya tiba masanya menghadapi sidang pendadaran, tahap akhir yang menentukan kelulusan. Rasa takut dan cemas jelas menyelimuti hari-hari sebelum sidang, terutama karena khawatir hasilnya tidak sesuai harapan. Setiap hari saya berdoa memohon ketenangan hati dan kelancaran. Saya juga memohon doa serta restu dari konselor beasiswa yang selama ini mendukung dan mendampingi saya. Saat berada di ruang sidang, saya sangat gugup, tetapi saya percaya bahwa doa dari keluarga, teman-teman, dan seluruh keluarga besar KAMAJAYA Scholarship turut menyertai serta menguatkan saya.
Ketika hasil sidang pendadaran diumumkan dan saya dinyatakan lulus, rasa syukur yang begitu besar memenuhi hati saya. Saya sungguh berterima kasih kepada Tuhan karena telah membimbing saya melewati setiap proses, dari titik awal penuh keraguan hingga akhirnya bisa berdiri di titik ini sebagai seorang lulusan.
Perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal: hasil yang baik tidak pernah datang tanpa proses berliku. Ada air mata, rasa lelah, dan keraguan, tetapi selalu ada jalan keluar bagi mereka yang tidak menyerah dan terus berusaha sambil menyerahkan segalanya dalam doa.
Pada akhirnya, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada KAMAJAYA Scholarship. Terima kasih telah percaya kepada saya dan memberikan kesempatan berharga untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus terlalu terbebani persoalan finansial. Dukungan yang diberikan bukan hanya berupa bantuan materi, tetapi juga menjadi sumber semangat dan motivasi bagi saya untuk terus berjuang menyelesaikan studi dengan sebaik-baiknya. Semoga kebaikan yang telah diberikan senantiasa dibalas dengan berkat berlimpah, dan semoga KAMAJAYA Scholarship terus hadir membantu generasi penerus bangsa lainnya.
Yogyakarta, 8 September 2026
Valentina Dyah Kristanti
Mahasiswa Program Studi Akuntansi UAJY Angkatan 2022
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-8











No Comments