Opini: Natal dan Kehadiran yang Sederhana

Di tengah hiruk pikuk persiapan Natal tahun ini, kita sering kali terjebak dalam kesibukan yang justru membuat kita lupa akan makna sebenarnya dari perayaan ini. Kita sibuk memikirkan hadiah apa yang harus dibeli, dekorasi apa yang harus dipasang, atau acara apa yang harus dihadiri. Seolah-olah Natal hanya tentang seberapa meriah perayaan kita, bukan tentang apa yang sebenarnya kita rayakan. Media sosial justru memperparah keadaan ini. Kita dituntut untuk melihat foto-foto pohon Natal yang megah, meja makan yang penuh hidangan mewah, dan keluarga-keluarga yang tampak begitu sempurna. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan dengan orang lain. Kita merasa Natal kita kurang istimewa jika tidak semeriah milik orang lain. Kita lupa bahwa pertama kali perayaan Natal dirayakan justru terjadi di tempat yang paling sederhana yakni di sebuah kandang yang sunyi namun hangat.
Kisah kelahiran Yesus mengingatkan kita bahwa hal-hal besar tidak selalu datang dengan gemerlap. Tidak ada kemewahan, tidak ada sorotan kamera, tidak ada publikasi di media sosial. Yang ada hanya seorang bayi yang lahir dalam kesunyian malam, ditemani oleh orang tua yang sederhana dan para gembala yang tidak punya apa-apa. Tapi justru dalam kesederhanaan itulah hadir kabar gembira yang mengubah dunia. Mungkin Natal tahun ini mengajak kita untuk kembali pada esensi yang sederhana itu. Bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita beli atau seberapa ramai pesta yang kita adakan, tapi tentang setulus apa kehadiran kita bagi orang-orang di sekitar. Kehadiran yang tidak terburu-buru, yang benar-benar mendengarkan, yang memberi perhatian tanpa mengharapkan imbalan. Kadang kita begitu sibuk mempersiapkan Natal sampai lupa bahwa orang-orang terdekat kita sebenarnya tidak butuh hadiah mahal atau acara yang sempurna. Mereka hanya butuh kita yang hadir secara utuh, tanpa distraksi, tanpa terbagi dengan kesibukan lain. Mereka butuh waktu kita, perhatian kita, dan kehangatan yang tulus dari hati kita. Natal juga mengingatkan kita untuk melihat mereka yang sering terlupakan.
Sama seperti para gembala yang dipilih menjadi saksi pertama kelahiran Yesus, mungkin ada orang-orang di sekitar kita yang merasa sendirian di tengah meriahnya perayaan. Tetangga yang tinggal sendiri, teman yang jauh dari keluarga, atau bahkan orang-orang yang sedang berjuang dengan kesulitan mereka sendiri. Kehadiran kita yang sederhana bahkan bisa jadi hadiah terindah bagi mereka. Di dunia yang terus menuntut kita untuk berbuat lebih, punya lebih, dan tampil lebih, Natal justru mengajarkan bahwa cukup itu berharga, yaitu bahwa sederhana itu bermakna, bahwa kehadiran yang tulus lebih berarti daripada kemewahan yang kosong. Oleh karena itu, di Natal tahun ini, cobalah untuk tidak terlalu sibuk pada masalah kita, tetapi biarkan diri kita merasakan ketenangan di balik semua hiruk pikuk dunia. Habiskan waktu bersama orang-orang yang kita cintai. Jauhkan handphone, dengarkan cerita mereka, tatap mata mereka dan rasakan kehangatan kebersamaan yang sederhana. Hadiah Natal yang paling indah bukanlah bungkusan hadiah dengan pita mewah tapi kehadiran kita yang utuh dan tulus bagi orang-orang tercinta.
Yogyakarta, 26 Desember 2025
Gordon Calcarine Samosir
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAJY Angkatan 2024
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9
Image by congerdesign from Pixabay












No Comments