Opini: Resolusi Tahun Baru: Versi Terbaik Tidak Harus Mengejar Standar Orang Lain

Setiap akhir tahun, media sosial kita dibanjiri dengan postingan refleksi: “2025 Recap”, “my growth journey“, dan tentu saja dilengkapi dengan trend “resolusi diri di tahun yang baru”. Kita melihat orang-orang merayakan pencapaian mereka, ada yang dapat beasiswa luar negeri, ada yang magang di perusahaan besar, ada yang artikelnya dimuat di jurnal. Sementara kita duduk di depan layar, diam-diam bertanya, “Apa yang sudah saya capai tahun ini?”
Sebagai anak muda, kita tumbuh dengan narasi bahwa setiap tahun harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Kita harus produktif, harus berkembang, harus punya cerita sukses untuk dibagikan. Tahun baru menjadi semacam deadline yang tidak tertulis seolah-olah jika kita belum mencapai target tertentu di usia tertentu, maka kita sudah tertinggal oleh yang lain. Kita pun membuat resolusi yang panjang. “Tahun ini harus lulus tepat waktu”, “Harus dapat nilai A semua”, “Harus ikut organisasi”, “Harus belajar skill baru”, “Harus mulai cari koneksi untuk kerja nanti.” Kita menulis semua itu dengan penuh semangat di awal Januari, lalu melupakan semuanya di bulan Februari. Bukan karena kita malas, tapi karena kita menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri. Standar yang bahkan tidak kita tahu dari mana asalnya dan bagaimana mencapainya.
Lebih menyedihkannya lagi, kita sering mengukur kesuksesan diri kita dengan membandingkan orang lain. Teman sekelas yang sudah dapat tawaran kerja meskipun belum lulus, Junior yang lebih aktif di organisasi, atau influencer seumuran yang hidupnya tampak sempurna. Kita lupa bahwa setiap orang punya jalan hidup dan perjuangannya sendiri. Berapa kali mereka gagal sebelum berhasil, atau seberapa lelah mereka di balik semua pencapaian itu.
Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri. Kita menyalahkan diri karena tidak seproduktif yang kita harapkan, tidak sekuat yang seharusnya, atau tidak sebahagia yang tampak di foto-foto orang lain. Kita lupa bahwa dengan bertahan saja di tahun 2025 yang berat sudah merupakan suatu pencapaian. Bangun pagi untuk kuliah setiap hari, meskipun lelah, itu sudah luar biasa.
Mungkin tahun baru 2026 ini bisa jadi momen untuk mengubah cara pandang kita. Alih-alih menetapkan resolusi yang penuh tekanan, bagaimana kalau kita mulai dengan lebih lembut pada diri sendiri? Bagaimana kalau kita berhenti mengejar versi “terbaik” dari diri kita dan mulai menerima versi “apa adanya” kita? Bukan berarti kita tidak boleh punya mimpi atau target. Tapi mungkin kita perlu belajar bahwa bertumbuh tidak selalu terlihat spektakuler. Kadang bertumbuh itu sesederhana belajar bilang “tidak” untuk hal yang menguras energi, mulai lebih jujur dengan perasaan sendiri. Alih-alih target IPK harus 4.0, mungkin kita bisa mulai dengan berusaha konsisten belajar dan memahami materi.
Tahun baru juga bukan berarti kita harus meninggalkan semua yang “buruk” di tahun lalu. Kegagalan, kesedihan, dan momen-momen sulit yang kita alami di 2025 adalah bagian dari diri kita. Mereka mengajarkan kita sesuatu, membentuk kita menjadi lebih tangguh. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semua harus dimulai dari nol dengan sempurna di tanggal 1 Januari. Yang kita butuhkan mungkin bukan resolusi yang panjang, tapi niat yang sederhana untuk lebih menghargai proses, untuk tidak terburu-buru, untuk memberi ruang bagi diri kita melakukan kesalahan dan belajar dari situ. Untuk tidak selalu membandingkan semester 5 kita dengan semester 5 orang lain.
Di tahun 2026 nanti, mungkin kita tidak akan menjadi versi yang paling sempurna dari diri kita. Mungkin kita masih akan menghadapi masalah dan jatuh bangun yang sama, masih akan merasa bingung dengan arah hidup. Tapi itu tidak apa-apa. Hidup bukan lomba sprint tapi maraton yang panjang dan yang penting adalah kita tetap melangkah, meskipun pelan.
Daripada membuat daftar resolusi yang membuat kita merasa bersalah jika tidak tercapai, bagaimana kalau kita mulai dengan pertanyaan sederhana seperti, “Apa yang ingin saya rasakan di tahun 2026?” Mungkin jawabannya bukan “sukses” atau “produktif”, tapi “lebih tenang”, “lebih jujur pada diri sendiri”, atau “lebih bahagia dengan hal-hal kecil”. Karena pada akhirnya, tahun baru yang berarti bukanlah tahun di mana kita menjadi sempurna, tapi tahun di mana kita belajar menerima diri kita dengan lebih baik dengan segala kekurangan, proses perjuangan yang belum selesai, dan mimpi yang masih dalam perjalanan.
Yogyakarta, 1 Januari 2026
Gordon Calcarine Samosir
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAJY Angkatan 2024
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9
Image by Ryan McGuire from Pixabay












No Comments