KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Mengapa Bakti Tak Pernah Satu Arah

Lentera Atma: Mengapa Bakti Tak Pernah Satu Arah

Selama ini, telinga kita akrab dengan narasi bahwa anak adalah pihak yang memegang hutang budi. Anak harus berbakti, anak harus membalas, anak harus menjadi muara bagi segala pengorbanan orang tua. Namun, jarang sekali kita berani bertanya, bukankah orang tua pun memiliki bentuk ‘bakti’ mereka sendiri kepada anak. Bakti seorang anak adalah bentuk rasa syukur atas akar yang kuat. Namun, bakti orang tua adalah bentuk tanggung jawab atas daun yang ingin tumbuh.

Jika anak diminta untuk patuh, maka orang tua seharusnya “berbakti” dengan cara memahami. Berbakti kepada anak berarti memberikan ruang bagi mereka untuk memiliki mimpinya sendiri, bukan menjadikannya wadah untuk ambisi yang belum sempat tercapai. Orang tua yang berbakti adalah mereka yang sadar bahwa anak bukan sekadar “tabungan hari tua”, melainkan manusia utuh yang berhak atas dukungannya tanpa syarat.

Dukungan itu bisa berupa peluh yang tak pernah diceritakan lelahnya, atau doa-doa yang tak pernah ditagih imbalannya. Ketika orang tua berbakti pada pertumbuhan anaknya baik secara mental maupun kesempatan hidup, mereka sebenarnya sedang menanam cahaya.

Bakti yang timbal balik ini menciptakan sebuah harmoni. Bukan tentang siapa yang memberi lebih banyak, tapi tentang bagaimana satu sama lain saling menjaga martabat. Orang tua tidak “menjajah” masa depan anak dengan kata balas budi, dan anak tidak mengabaikan masa tua orang tua karena merasa itu adalah kewajiban yang melelahkan.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa berhutang pada siapa. Hidup adalah tentang bagaimana kita saling menyalakan cahaya di dalam diri masing-masing. Karena hanya dengan bakti yang saling memberi itulah, sebuah keluarga tidak akan pernah kehilangan arah di tengah gelapnya dunia.

Image by Ryan McGuire from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA