Kisah Penerima Beasiswa: Kehilangan Bukan Berarti Segalanya
Setiap orang pasti takut dengan kata kehilangan. Kehilangan bukan berarti segalanya, tetapi kehilangan berarti diri kita diminta untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Kata kehilangan ini tak pernah terpikirkan olehku pada saat itu. Sebelum lanjut, perkenalkan saya Titania Eka Wulandari. Penerima Beasiswa KAMAJAYA Batch 8. Saya lahir dan tumbuh besar di Yogyakarta. Saat ini, saya berkuliah dengan mengambil Prodi Informatika. Jika flashback kembali mengingat 6 tahun yang lalu tepatnya tahun 2020, saya kehilangan sosok ayah saya yang merupakan figur utama di dalam keluarga saya. Saat itu, saya juga tidak menyangka akan kehilangan sosok ayah dalam hidup saya. Saat itu juga bertepatan dengan adanya wabah COVID-19 di mana semua orang diminta untuk tidak keluar rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah.
Saat itu, saya masih duduk di bangku SMA kelas 10 tepatnya. Pada saat itu di hari libur, ibu saya mendapat telepon dari teman kantor ayah saya yang mengabarkan kalau beliau terjatuh di kamar mandi dan telah dibawa ke rumah sakit. Saat itu posisinya ayah saya sedang bertugas di Jakarta. Setelah mendapat kabar itu, saya dan ibu saya kira semuanya akan baik-baik saja, namun ternyata tidak sesuai dugaan kami. Ternyata ayah saya sudah dinyatakan meninggal dunia saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Kami masih tidak menyangka akan kepergian sosok kepala rumah tangga yang menjadi panutan kami.
Sejak kepergian ayah saya, ibu saya menjadi tulang punggung di keluarga saya. Awalnya, ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga dan hidup kami hanya bergantung pada ayah saya. Ibu saya pun membuka usaha laundry rumahan dengan memanfaatkan tempat tinggal kami yang berdekatan dengan asrama STTKD. Kehidupan saya saat itu dibantu juga oleh om saya untuk uang saku bulanan. Ketika saya memasuki perkuliahan dan saya memilih untuk masuk di UAJY tentunya biaya yang dibutuhkan sangat besar. Saat itu, saya hanya mengandalkan uang dari tabungan yang sudah dipersiapkan dari SD, namun hal tersebut tidak cukup karena digunakan juga untuk kebutuhan hidup keluarga kami.
Saat memasuki Semester 2, saya mendapatkan informasi dari grup WA mata kuliah Agama yang memberikan informasi mengenai KAMAJAYA Scholarship. Di situlah saya mencoba untuk mendaftar beasiswa tersebut untuk meringankan beban ibu saya yang posisinya single parent. Puji Tuhan setelah melewati proses pendaftaran sampai wawancara hingga pada saat pengumuman nama penerima beasiswa saya dinyatakan lolos mendapatkan Beasiswa KAMAJAYA tersebut. Di situ saya merasa senang dan bangga karena saya dapat menjadi bagian dari keluarga KAMAJAYA Scholarship. Tentunya kesempatan mendapatkan beasiswa tersebut sangatlah kesempatan emas bagi saya karena saya dapat berkuliah tanpa memikirkan biaya. Kesempatan itu saya manfaatkan sebaik mungkin dengan rajin kuliah dan semangat dalam belajar.
Selama menjadi bagian dari KAMAJAYA Scholarship, saya banyak mengikuti kegiatan seperti rapat bulanan, jaga ruang di kantor PP KAMAJAYA, Career Insight, event KBC, Laporan Tahunan, dan juga acara makrab. Saya juga dipercaya untuk menjadi BPH pada saat ini dan saya juga dapat mengenal teman-teman penerima beasiswa lain secara langsung serta menambah teman dari berbagai macam jurusan dan dapat bertukar cerita yang menarik.
Pengalaman yang diberikan oleh KAMAJAYA Scholarship ini mengajarkan saya untuk tidak patah semangat dalam meraih cita-cita saya karena masih banyak orang di luar sana yang belum beruntung dalam meraih cita-citanya. Jadi kata kehilangan tersebut bukan dari segalanya, kita harus bisa terus berjalan ke depan untuk melanjutkan hidup yang lebih baik. Saya juga percaya di setiap kehilangan pasti akan menemukan jalan yang terbaik untuk langkah selanjutnya.



Yogyakarta, 2 Februari 2026
Titania Eka Wulandari Kusuma Astuty
Mahasiswa Program Studi Informatika UAJY Angkatan 2023
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-8












No Comments