Opini: Di Balik Wisata Kota Jogja

Wisata di Yogyakarta atau yang kerap dikenal Kota Jogja dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan yang sangat pesat. Kota ini semakin dikenal luas sebagai destinasi yang menawarkan perpaduan budaya, sejarah, kuliner, dan suasana ramah yang membuat banyak orang ingin datang kembali. Dari Malioboro yang selalu ramai hingga kawasan wisata alam di Gunungkidul yang terus berkembang. Jogja seolah-olah tidak pernah kehabisan daya tarik. Pertumbuhan pariwisata ini tentu membawa dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat sekitar. Banyak lapangan kerja tercipta, usaha kecil berkembang, dan roda perekonomian bergerak lebih cepat.
Namun, di balik geliat wisata yang terlihat indah, terdapat persoalan yang mulai mengganggu kenyamanan wisatawan. Salah satu masalah yang sering dibicarakan adalah munculnya praktik pemalakan atau pungutan liar yang dilakukan oleh oknum tertentu. Hal ini tidak hanya terjadi di satu tempat, tetapi mulai terasa di beberapa kawasan wisata yang ramai. Wisatawan yang seharusnya menikmati perjalanan dengan tenang justru dihadapkan pada situasi tidak nyaman ketika diminta membayar biaya tambahan yang tidak jelas.
Praktik seperti ini biasanya muncul dalam bentuk pungutan parkir yang tidak wajar, biaya masuk tambahan yang tidak resmi, atau bahkan tekanan secara langsung kepada pengunjung agar memberikan sejumlah uang. Banyak wisatawan yang akhirnya merasa kapok karena pengalaman buruk tersebut. Mereka datang dengan harapan menikmati keramahan Jogja, namun pulang dengan kesan bahwa ada sisi lain yang membuat perjalanan menjadi tidak menyenangkan.
Masalah ini sebenarnya sangat berbahaya bagi citra pariwisata Yogyakarta. Jogja selama ini dikenal sebagai kota yang bersahabat dan penuh kehangatan. Jika wisatawan mulai merasa tidak aman atau tidak nyaman, maka dampaknya bisa sangat besar. Mereka mungkin tidak akan kembali lagi dan lebih jauh mereka bisa menceritakan pengalaman buruk itu kepada orang lain. Dalam era media sosial, satu pengalaman negatif dapat menyebar dengan cepat dan mempengaruhi keputusan banyak calon wisatawan.
Pariwisata bukan hanya soal jumlah pengunjung yang meningkat, tetapi juga soal kualitas pengalaman yang mereka dapatkan. Ketika wisatawan merasa dipalak, maka yang hilang bukan hanya uang, tetapi juga rasa percaya. Mereka merasa dimanfaatkan, bukan dilayani. Padahal, keberhasilan wisata Jogja seharusnya dibangun dari rasa nyaman dan kesan positif yang membuat orang ingin datang lagi.
Pemerintah daerah, pengelola wisata, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mengatasi persoalan ini. Pengawasan harus diperketat, aturan harus ditegakkan, dan edukasi kepada warga sekitar penting dilakukan agar semua pihak memahami bahwa pariwisata yang sehat tidak bisa berjalan dengan praktik semacam itu. Wisatawan datang membawa manfaat ekonomi, tetapi manfaat itu harus diperoleh dengan cara yang benar, bukan dengan memaksa atau menekan.
Selain itu, wisatawan juga perlu diberikan akses informasi yang jelas mengenai tarif resmi parkir, tiket masuk, dan biaya lain sehingga mereka tidak mudah menjadi korban pungutan liar. Transparansi menjadi kunci agar tidak ada ruang bagi oknum untuk memanfaatkan situasi. Jika Jogja ingin terus berkembang sebagai destinasi unggulan, maka keamanan dan kenyamanan pengunjung harus menjadi prioritas utama.
Jogja memiliki potensi luar biasa untuk menjadi kota wisata yang semakin maju. Namun, potensi itu bisa terancam jika masalah pemalakan dibiarkan. Wisata yang meningkat pesat seharusnya menjadi kebanggaan bersama, bukan justru membuka peluang bagi praktik yang merusak pengalaman orang lain. Pada akhirnya, pariwisata yang berkelanjutan bukan hanya soal ramai, tetapi soal bagaimana semua orang bisa menikmati dengan rasa aman, nyaman, dan penuh kesan baik ketika pulang dari Yogyakarta.
Yogyakarta, 12 Februari 2026
Avrilla Putri Indraprasta
Mahasiswa Program Studi Manajemen UAJY Angkatan 2022
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-7
Oleh Photo by CEphoto, Uwe Aranas or alternatively © CEphoto, Uwe Aranas, CC BY-SA 3.0, Pranala












No Comments