KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Puasa Pra Paskah Sebagai Refleksi

Lentera Atma: Puasa Pra Paskah Sebagai Refleksi

Setiap tahun umat Katolik memasuki masa Prapaskah selama empat puluh hari sebelum perayaan Paskah. Masa ini dimulai pada Rabu Abu ketika umat menerima tanda abu di dahi sebagai simbol pertobatan dan kerendahan hati. Abu tersebut mengingatkan bahwa manusia rapuh dan memiliki keterbatasan sehingga membutuhkan pembaruan diri secara terus menerus.

Puasa dalam Prapaskah sering dimaknai sebagai menahan lapar dan pantang dari makanan tertentu. Namun maknanya tidak berhenti pada aspek fisik semata. Puasa adalah latihan pengendalian diri dan kesadaran batin. Dalam kehidupan mahasiswa yang dipenuhi jadwal kuliah tugas organisasi dan berbagai tuntutan akademik puasa menjadi ruang jeda untuk menata kembali prioritas. Tidak semua keinginan harus segera dipenuhi dan tidak semua ambisi harus dikejar tanpa refleksi.

Di tengah dunia yang serba cepat mahasiswa kerap terjebak pada rutinitas yang melelahkan. Target nilai prestasi dan pencapaian kadang menjadi pusat perhatian utama. Prapaskah mengajak setiap pribadi untuk melihat lebih dalam apakah proses belajar masih dilandasi niat yang tulus. Refleksi ini penting agar pendidikan tidak hanya menghasilkan kecerdasan intelektual tetapi juga kedewasaan karakter.

Selain puasa Gereja juga menekankan pentingnya doa dan karya amal. Doa menghadirkan keheningan yang menenangkan di tengah tekanan hidup. Dalam doa seseorang belajar jujur terhadap diri sendiri dan membuka hati pada bimbingan Tuhan. Sementara itu karya amal mengarahkan perhatian kepada sesama terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan. Berbagi waktu tenaga maupun materi melatih empati dan solidaritas sosial.

Bagi mahasiswa Penerima Beasiswa KAMAJAYA, masa Prapaskah dapat menjadi momen evaluasi diri. Kesempatan studi yang diterima bukan hanya sarana meraih kesuksesan pribadi tetapi juga panggilan untuk memberi dampak bagi lingkungan sekitar. Dengan semangat puasa doa dan amal mahasiswa diajak membangun integritas tanggung jawab dan kepedulian sosial.

Empat puluh hari Prapaskah bukanlah perjalanan yang instan. Perubahan tidak terjadi dalam satu malam melainkan melalui langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. Mengurangi kebiasaan yang kurang baik memperbaiki relasi yang renggang serta meluangkan waktu untuk refleksi adalah bentuk nyata pertobatan sehari hari. Proses ini membentuk pribadi yang lebih matang dan tangguh.

Ketika akhirnya Paskah dirayakan sukacita, kebangkitan menjadi lebih bermakna karena lahir dari perjalanan refleksi dan pengendalian diri. Prapaskah bukan sekadar tradisi tahunan tetapi kesempatan untuk bertumbuh secara rohani dan manusiawi. Di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan kampus masa ini menjadi lentera yang menerangi langkah agar setiap mahasiswa tidak hanya unggul dalam prestasi tetapi juga dalam nilai dan kepedulian.

Image by Tumisu from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA