KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Berpuasa dan Berpantang

Opini: Berpuasa dan Berpantang

Bulan Maret tahun ini terasa sedikit berbeda bagi banyak mahasiswa. Di tengah kesibukan perkuliahan tugas kelompok dan berbagai aktivitas kampus suasana religius terasa lebih kuat karena beberapa perayaan iman hadir hampir bersamaan. Umat Islam menjalankan puasa Ramadan sementara umat Katolik juga sedang berada dalam masa Prapaskah yang ditandai dengan praktik puasa dan pantang sebagai bentuk refleksi dan pertobatan. Bagi mahasiswa yang hidup di lingkungan kampus yang beragam momen ini menjadi pengalaman yang menarik sekaligus bermakna. 

Puasa dalam berbagai tradisi keagamaan sebenarnya memiliki nilai yang sangat mirip. Puasa tidak hanya berbicara tentang menahan lapar dan haus tetapi juga tentang pengendalian diri kedisiplinan serta kesadaran untuk memperbaiki diri. Dalam Ramadan umat Islam berusaha meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak kebaikan. Sementara dalam masa Prapaskah umat Katolik diajak untuk hidup lebih sederhana melakukan refleksi dan memperbarui hubungan dengan Tuhan serta sesama. Meskipun bentuk dan aturannya berbeda semangat yang dibawa memiliki kesamaan yaitu mengajak manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 

Bagi mahasiswa situasi ini sering kali menghadirkan pengalaman kebersamaan yang unik. Di satu sisi ada teman yang menunggu waktu berbuka puasa di sore hari sementara di sisi lain ada yang sedang menjalani pantang atau mengurangi hal hal tertentu sebagai bagian dari praktik iman mereka. Percakapan sederhana tentang puasa makanan sederhana yang dibagikan bersama atau sekadar saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan sering kali menjadi bentuk kecil dari solidaritas yang tumbuh secara alami di lingkungan kampus. 

Momentum ini juga mengingatkan bahwa keberagaman bukan sekadar konsep yang sering dibicarakan tetapi sesuatu yang benar benar dialami dalam kehidupan sehari hari. Mahasiswa belajar untuk menghargai praktik iman orang lain sekaligus merefleksikan nilai nilai yang ada dalam tradisi iman masing masing. Ketika seseorang melihat temannya berusaha setia menjalankan puasa atau pantang ada semacam pengingat bahwa perjalanan iman juga membutuhkan komitmen dan ketekunan. 

Di tengah dunia yang sering dipenuhi dengan perbedaan pandangan bahkan konflik karena perbedaan keyakinan pengalaman kecil seperti ini menjadi sangat berharga. Kampus menjadi ruang belajar tidak hanya tentang ilmu pengetahuan tetapi juga tentang bagaimana hidup bersama dalam keberagaman. Puasa Ramadan yang berjalan berdampingan dengan masa Prapaskah menjadi pengingat bahwa berbagai tradisi keagamaan sebenarnya mengajarkan nilai nilai yang saling melengkapi seperti kesederhanaan kepedulian dan pengendalian diri. 

Bagi mahasiswa momen ini mungkin terlihat sederhana namun memiliki makna yang dalam. Ketika berbagai perayaan iman hadir hampir bersamaan ada kesempatan untuk melihat bahwa di balik perbedaan tradisi terdapat semangat yang sama yaitu mencari kebaikan memperbaiki diri dan membangun relasi yang lebih baik dengan sesama. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa keberagaman bukanlah jarak yang memisahkan tetapi ruang untuk saling belajar dan saling enghargai dalam perjalanan hidup bersama.


Yogyakarta, 5 Maret 2026

Joan Laksmita Kusuma Apsari
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UAJY Angkatan 2022
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-7


Image by congerdesign from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA