Coretan Mahasiswa: Puasa Pejuang Skripsi
Ramadan tahun ini rasanya benar-benar beda. Kalau biasanya kesibukan paling mentok cuma cari waktu atau bingung mau buka bersama dengan teman-teman lama di mana, sekarang fokus saya terbelah dua. Ada satu beban keramat yang mendadak muncul di kalender semester ini yaitu skripsi. Menjalani awal penelitian di tengah bulan suci itu rasanya campur aduk. Di satu sisi ingin fokus ibadah, tapi di sisi lain, revisi dan tenggat waktu dosen pembimbing yang diberi waktu setiap mahasiswa tujuh hari saja. Rasanya benar-benar seperti sedang diuji luar dalam; fisik menahan lapar, otak dipaksa kerja keras.
​Ada seni tersendiri saat harus mengerjakan bab satu atau mencari jurnal di waktu sahur. Biasanya, momen setelah makan sahur itu paling enak dipakai tidur lagi sampai pagi. Tapi buat pejuang skripsi, waktu subuh justru jadi “jam emas”. Di saat suasana masih sepi dan perut sudah terisi, di situlah biasanya ide-ide yang macet mendadak lancar. Ternyata, keheningan sebelum imsak itu lebih manjur buat fokus daripada kafein di siang hari. Meskipun jujur saja, godaan untuk menarik selimut setelah shalat Subuh itu berkali-kali lipat lebih berat daripada godaan aroma gorengan di sore hari.
​Kadang saya merasa kalau arti sabar yang sesungguhnya itu ya di semester ini. Sabar itu bukan cuma menunggu adzan magrib, tapi sabar saat menahan diri demi menyelesaikan satu bab atau merapikan tata kalimat penulisan yang harus teliti, atau saat otak tiba-tiba nge-blank mendadak error di siang bolong saat tenggorokan lagi kering-keringnya. Ngabuburit saya sekarang juga bukan keliling mencari es buah bersama teman-teman, tapi lebih sering “nongkrong” di depan laptop sambil sesekali memeriksa whatsapp grup, berharap ada mukjizat berupa balasan ACC dari dosen. Rasanya, notifikasi dari dosen pembimbing itu jauh lebih manis daripada takjil manapun.
​Pada akhirnya, saya mencoba melihat semua lelah ini sebagai bagian dari ibadah juga. Setiap ketikan di keyboard dan tiap lembar jurnal yang saya baca semoga dihitung sebagai amal kebaikan. Harapan saya tidak muluk-muluk, saat gema takbir Idul Fitri nanti, saya tidak cuma menang melawan hawa nafsu, tapi juga menang merayakan progres pengerjaan skripsi. Biar nanti saat kumpul keluarga dan ditanya “kapan lulus?”, saya bisa menjawab dengan tenang kalau progresnya sudah sampai bab empat. Semangat buat kita semua yang lagi mengejar gelar di bulan penuh berkah ini!
Image by Phong Bùi Nam from Pixabay












No Comments