KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Nyepi di Tanah Rantau: Menjaga Hening di Tengah Keramaian

Opini: Nyepi di Tanah Rantau: Menjaga Hening di Tengah Keramaian

Hari Raya Nyepi selalu membawa suasana yang khas bagi umat Hindu di Bali. Jalanan yang ramai mendadak sunyi, aktivitas masyarakat terhenti, dan suasana hening mejadi ruang refleksi yang mendalam. Namun bagi umat Hindu Bali yang merantau di luar pulau, pengalaman menjalani Nyepi sering sekali terasa berbeda. Di tengah lingkungan yang tidak sepenuhnya memahami tradisi ini, mereka harus menyesuaikan diri sekaligus menjaga tradisi spiritual yang terkandung dalam perayaan tersebut.

Nyepi bukan sekadar hari libur ataupun perayaan biasa. Dalam tradisi Hindu Bali, Nyepi merupakan momentum untuk melakukan yang namanya Catur Brata Penyepian, yaitu 4 bentuk pengendalian diri, yaitu tidak menyalakan api/cahaya (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan). Praktik ini dimaksudkan sebagai bentuk refleksi diri, membersihkan pikiran, serta memperbaiki hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Tuhan.

Bagi diriku sebagai perantauan yang berkuliah di luar Bali, menjalankan nilai-nilai tersebut tidak semudah ketika saya di Bali. Lingkungan sekitar tetap berjalan seperti biasa. Aktivitas kerja, kuliah, maupun kehidupan kota tidak berhenti. Ketika masyarakat sekitar tidak merasakan suasana hening seperti di Bali, umat Hindu yang merayakan Nyepi perlu menemukan cara sendiri untuk tetap menjaga makna spiritual dari hari tersebut.

Salah satu tantangan yang menurutku sering muncul ialah keterbatasan ruang untuk menjalankan Nyepi secara penuh, tidak semua tempat tinggal memungkinkan suasana yang benar-benar tenang. Di kos tetap ramai, suara kendaraan, atau aktivitas tetangga tetap terdengar seperti biasa. Kondisi ini membuat sebagian perantau harus lebih fleksibel dalam memaknai praktik Nyepi tanpa kehilangan esensi utamanya.

Selain itu, tantangan lain muncul dari kewajiban akademik atau pekerjaan. Tidak semua institusi di luar Bali menjadikan Nyepi sebagai hari libur. Mahasiswa atau pekerja yang merayakan Nyepi terkadang tetap memiliki jadwalnya atau tugasnya yang harus diselesaikan. Situasi ini menuntut kemampuan untuk menyeimbangkan tanggung jawa sehari-hari dengan komitmen menjalankan tradisi keagamaan.

Namun di balik berbagai tantangan tersebut, pengalaman merayakan Nyepi di perantauan juga memiliki sisi yang bermakna. Banyak perantau justru merasakan kedekatan spiritual yang lebih personal karena harus menjalani refleksi secara mandiri. Selain itu, perayaan Nyepi di luar Bali juga sering menjadi kesempatan untuk memperkenalkan tradisi Hindu Bali kepada teman-teman dari latar belakang budaya yang berbeda. Percakapan sederhana tentang makna Nyepi, tradisi ogoh-ogoh, maupun filosofi hening sering sekali membuka ruang dialog yang memperkaya pemahaman antarbudaya.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa makna sebuah tradisi tidak selalu bergantung pada tempat, namun juga kesadaran untuk terus menjaganya. Di tengah kesibukan kota dan kehidupan perantauan, Nyepi tetap menjadi pengingat bahwa setiap orang membutuhkan ruang hening untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali menata perjalanan hidupnya.

Yogyakarta, 12 Maret 2026

Ni Nyoman Kania Pradnya Suari
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UAJY Angkatan 2023
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9

Image by Pexels from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA