KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Menghitung Hari sebelum Nyepi

Lentera Atma: Menghitung Hari sebelum Nyepi

Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di Denpasar dan Badung dipenuhi oleh semangat kreativitas anak-anak muda banjar yang menyiapkan ogoh-ogoh terbaik mereka. Beberapa hari lalu, berbagai wilayah di dua daerah ini menggelar lomba ogoh-ogoh yang menghadirkan karya-karya besar, detail, dan penuh imajinasi.

Di sepanjang jalan dan lapangan tempat lomba digelar, warga berkumpul menyaksikan patung-patung raksasa itu dipamerkan. Ogoh-ogoh dengan berbagai bentuk—mulai dari raksasa, tokoh pewayangan, hingga makhluk-makhluk mitologi—ditampilkan dengan pencahayaan dan iringan musik baleganjur yang menggema. Suasananya meriah, dipenuhi sorak penonton dan kebanggaan para pemuda yang berbulan-bulan menyiapkan karya mereka.

Di Denpasar dan Badung, lomba ogoh-ogoh memang dikenal memiliki standar kreativitas yang tinggi. Banyak banjar menampilkan ogoh-ogoh dengan teknik pembuatan yang semakin kompleks, bahkan dilengkapi dengan gerakan mekanis dan konsep cerita tertentu. Tidak jarang, ogoh-ogoh yang ditampilkan menjadi bahan perbincangan karena detail dan gagasan artistiknya yang memukau.

Namun di balik kemegahan itu, ogoh-ogoh bukan sekadar ajang lomba atau pameran seni. Dalam tradisi Bali, ogoh-ogoh melambangkan sifat-sifat negatif atau energi buruk yang ada dalam diri manusia. Melalui arak-arakan dan ritual sebelum Nyepi, simbol tersebut kemudian dilepaskan sebagai bagian dari proses penyucian. Menariknya, keramaian ini justru terjadi tepat sebelum hari yang paling sunyi di Bali. Setelah malam pengerupukan, ketika ogoh-ogoh diarak dan suasana mencapai puncak keramaian, pulau ini akan memasuki Nyepi—hari ketika semua aktivitas dihentikan.

Di hari itu, Denpasar dan Badung yang biasanya ramai akan berubah drastis. Jalanan yang sebelumnya dipenuhi penonton arak-arakan ogoh-ogoh akan kosong. Tidak ada kendaraan, tidak ada keramaian, bahkan lampu-lampu kota diredupkan. Kontras inilah yang membuat rangkaian menjelang Nyepi terasa begitu khas. Dari riuh kreativitas ogoh-ogoh hingga keheningan total saat Nyepi, masyarakat Bali seolah diajak melewati proses simbolik: melepaskan segala hal yang buruk, lalu memberi ruang bagi ketenangan dan refleksi.

Keramaian lomba ogoh-ogoh di Denpasar dan Badung beberapa hari lalu mungkin hanya berlangsung singkat. Namun semangat gotong royong, kreativitas, dan kebersamaan yang tercermin dalam proses pembuatannya menjadi bagian penting dari tradisi yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Image by anncapictures from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA