Coretan Mahasiswa: Fear of Public Speaking
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan tinggi. Perguruan tinggi saat ini semakin mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran, seperti penggunaan platform pembelajaran daring, konferensi video, dan berbagai aplikasi digital untuk menunjang kegiatan akademik. Transformasi ini menciptakan lingkungan yang sering disebut sebagai kampus digital, di mana interaksi akademik tidak lagi terbatas pada ruang kelas fisik, tetapi juga berlangsung melalui media digital. Di tengah perubahan tersebut, muncul berbagai dinamika baru yang memengaruhi pengalaman belajar mahasiswa, salah satunya adalah fenomena fear of public speaking atau ketakutan berbicara di depan umum.
Fear of public speaking merupakan salah satu bentuk kecemasan sosial yang dialami individu ketika harus berbicara di hadapan audiens (Suttinarto dkk., 2026). Kondisi ini dapat ditandai dengan munculnya rasa gugup, kecemasan berlebihan, kesulitan dalam menyampaikan gagasan, hingga kecenderungan untuk menghindari situasi yang menuntut kemampuan berbicara di depan publik. Dalam konteks pendidikan tinggi, kemampuan berbicara di depan umum menjadi keterampilan yang sangat penting karena mahasiswa sering dihadapkan pada kegiatan presentasi, diskusi kelas, seminar, maupun forum akademik lainnya.
Fenomena fear of public speaking juga banyak dialami oleh mahasiswa Generasi Z, yaitu generasi yang lahir sekitar pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an dan tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Generasi ini dikenal sangat akrab dengan internet, media sosial, dan berbagai perangkat digital. Mereka terbiasa berkomunikasi secara cepat melalui pesan instan, komentar daring, maupun berbagai bentuk interaksi digital lainnya. Namun demikian, kedekatan dengan teknologi tidak selalu diikuti dengan kemampuan komunikasi lisan yang kuat, terutama ketika harus berbicara secara langsung di depan audiens. Dalam lingkungan akademik berbasis digital, interaksi antara mahasiswa sering berlangsung melalui berbagai platform teknologi, seperti aplikasi konferensi video, forum diskusi daring, maupun presentasi virtual. Meskipun format ini memberikan fleksibilitas dalam proses pembelajaran, bagi sebagian mahasiswa kondisi tersebut justru dapat menimbulkan tekanan psikologis. Ketika melakukan presentasi secara daring, mahasiswa tidak hanya berbicara di hadapan teman sekelas, tetapi juga menghadapi kamera, rekaman video, serta kemungkinan evaluasi yang lebih luas. Situasi ini dapat meningkatkan kecemasan karena mahasiswa merasa bahwa setiap kesalahan yang dilakukan dapat direkam dan dilihat kembali oleh orang lain.
Salah satu faktor yang memengaruhi munculnya fear of public speaking pada mahasiswa Generasi Z adalah meningkatnya kesadaran terhadap penilaian sosial. Kehadiran media sosial dan budaya berbagi konten membuat banyak mahasiswa menjadi lebih sensitif terhadap bagaimana mereka dipersepsikan oleh orang lain. Ketika melakukan presentasi atau berbicara dalam forum akademik, mereka sering kali merasa khawatir akan melakukan kesalahan, dianggap kurang kompeten, atau menerima kritik dari audiens. Kekhawatiran tersebut dapat memicu kecemasan yang akhirnya memengaruhi performa komunikasi mereka.
Selain faktor sosial, kebiasaan komunikasi digital juga turut berperan dalam membentuk pola interaksi Generasi Z. Banyak mahasiswa lebih terbiasa mengekspresikan pendapat melalui teks dibandingkan melalui komunikasi verbal secara langsung. Dalam komunikasi berbasis teks, individu memiliki waktu untuk memikirkan kata-kata yang akan digunakan, mengedit pesan, serta menyusun argumen dengan lebih tenang. Sebaliknya, ketika harus berbicara secara langsung, terutama di depan audiens, mereka dituntut untuk menyampaikan gagasan secara spontan dan terstruktur. Perbedaan karakteristik komunikasi ini sering kali membuat mahasiswa merasa kurang percaya diri dalam situasi public speaking. Lingkungan pembelajaran digital juga menghadirkan sejumlah tantangan teknis yang terkadang dapat memengaruhi kenyamanan mahasiswa saat melakukan presentasi atau berbicara di depan kelas. Gangguan koneksi internet, keterlambatan audio, maupun kendala dalam penggunaan perangkat presentasi dapat menghambat kelancaran komunikasi. Bagi sebagian mahasiswa yang sudah merasa gugup, kondisi tersebut dapat menambah rasa cemas ketika menyampaikan materi. Selain itu, tampilan kamera dan layar yang menampilkan wajah sendiri selama presentasi daring juga dapat meningkatkan kesadaran diri secara berlebihan, sehingga memicu rasa kurang percaya diri.
Dampak dari fear of public speaking dalam interaksi akademik dapat terlihat dari tingkat partisipasi mahasiswa dalam kegiatan diskusi atau presentasi kelas. Mahasiswa yang mengalami kecemasan berbicara di depan umum terkadang menjadi kurang aktif dalam menyampaikan pendapat, meskipun sebenarnya memiliki pemahaman yang baik terhadap materi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan komunikasi akademik, padahal keterampilan tersebut merupakan salah satu kompetensi penting bagi mahasiswa. Selain dalam konteks akademik, kemampuan public speaking juga sangat dibutuhkan dalam dunia kerja, seperti saat menyampaikan ide, mempresentasikan proyek, maupun bekerja dalam tim.
Untuk membantu mahasiswa menghadapi tantangan tersebut, diperlukan upaya bersama dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berlatih berkomunikasi secara lebih percaya diri. Kesempatan untuk berlatih berbicara secara bertahap, misalnya melalui diskusi kelompok kecil sebelum tampil dalam forum yang lebih besar, dapat membantu mahasiswa membangun keberanian secara perlahan. Selain itu, suasana pembelajaran yang memberikan dukungan dan umpan balik yang konstruktif juga dapat membantu mahasiswa memahami potensi dan meningkatkan kemampuan komunikasi mereka. Di sisi lain, penting bagi mahasiswa untuk menyadari bahwa rasa gugup ketika berbicara di depan umum merupakan hal yang wajar dan sering dialami oleh banyak orang. Bahkan individu yang sudah berpengalaman sekalipun masih dapat merasakan ketegangan sebelum melakukan presentasi. Melalui latihan yang konsisten, pengalaman yang berulang, dan kemauan untuk terus belajar, kecemasan tersebut dapat berkurang secara bertahap. Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana latihan, misalnya dengan merekam presentasi secara mandiri atau berlatih berbicara melalui platform virtual bersama teman.
Pada akhirnya, fenomena fear of public speaking pada mahasiswa Generasi Z dalam interaksi akademik berbasis digital menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak sepenuhnya menghilangkan tantangan dalam komunikasi interpersonal. Meskipun generasi ini sangat akrab dengan teknologi digital, kemampuan berbicara di depan umum tetap memerlukan proses latihan, pengalaman, serta dukungan dari lingkungan akademik. Dengan adanya perhatian yang lebih besar terhadap pengembangan keterampilan komunikasi, diharapkan mahasiswa Generasi Z dapat semakin percaya diri dalam menyampaikan gagasan dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan akademik. Kemampuan berbicara secara efektif tidak hanya membantu mahasiswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan dunia profesional di masa depan.
“Satu presentasi mungkin terasa menegangkan, tetapi setiap kali kamu mencoba, keberanianmu akan semakin kuat.” – Diah Ariyanti
Referensi: Suttinarto, Agung, M., & Himmah, R. (2026). Fenomena fear of public speaking pada mahasiswa Generasi Z di lingkungan kampus digital. Jurnal Neo Societal, 11(1), 72-79.












No Comments