Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Felecianus Ian Rajendra Sancha Tany

Felecianus Ian Rajendra Sancha Tany
Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:
19 November 2004
Yogyakarta
Fakultas Teknologi Industri Prodi Informatika semester 7 (September 2025)
Felecianus Ian Rajendra Sancha Tany
Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri UAJY Prodi Informatika
Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar
Nama saya Felecianus Ian Rajendra Sancha Tany, biasa dipanggil Ian. Saya lahir di Yogyakarta, 19 November 2004, dan saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi sebagai mahasiswa aktif. Melalui esai ini, saya ingin memperkenalkan diri dan meyakinkan Tim Seleksi Beasiswa KAMAJAYA bahwa saya adalah pribadi yang layak dan tepat untuk menerima dukungan beasiswa ini demi masa depan yang lebih baik.
Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana yang tinggal di Yogyakarta. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Sejak kecil hingga sekarang, saya tinggal bersama kedua orang tua dan adik saya. Keluarga saya belum pernah pindah rumah, karena rumah ini adalah warisan dari kakek saya. Keluarga kami hidup dengan penuh kehangatan, walau sering kali harus berjuang dari segi ekonomi. Ayah saya dulunya bekerja sebagai buruh harian lepas dan sekarang bekerja serabutan, sementara ibu saya membuka usaha kecil-kecilan menjual makanan ringan. Karena penghasilan yang tidak tetap, kami mengalami masa-masa sulit, terutama sejak pandemi COVID-19, ketika ayah kehilangan banyak pekerjaan. Namun saya sangat menghargai kerja keras dan semangat mereka. Meski kondisi ekonomi tidak stabil, orang tua saya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi saya dan adik saya, termasuk dalam hal pendidikan.
Kehidupan spiritual dalam keluarga kami cukup kuat. Kami sekeluarga beragama Katolik dan selalu berusaha hadir dalam misa Minggu. Kami juga berdoa bersama setiap malam. Secara sosial, keluarga saya juga aktif di lingkungan gereja, misalnya menjadi panitia kegiatan lingkungan dan kerja bakti. Saya sangat bangga terhadap keluarga saya karena, meskipun sederhana, kami saling mendukung dan menjaga.
Saya menyadari bahwa diri saya memiliki sejumlah kekuatan yang mendukung perkembangan pribadi dan akademik. Di antaranya adalah pemahaman dasar yang cukup kuat dalam bidang pemrograman dan logika matematika, yang menjadi fondasi penting dalam studi saya di Program Studi Informatika. Saya juga memiliki keterampilan bekerja dalam tim, kemampuan menulis dan presentasi yang baik, serta kebiasaan belajar secara mandiri yang membantu saya menyerap materi secara efisien. Dari sisi sikap, saya dikenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab, tekun, dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi.
Namun, saya juga menyadari beberapa kelemahan yang perlu saya perbaiki. Saya merasa masih kurang dalam memahami materi praktikum secara mendalam, terutama ketika harus menerapkannya dalam bentuk proyek nyata. Selain itu, saya belum cukup percaya diri saat harus berbicara di depan umum dalam forum yang besar. Kebiasaan overthinking dan rasa cemas terhadap kualitas hasil kerja sendiri kadang menghambat produktivitas dan membuat saya ragu untuk melangkah lebih jauh.
Di sisi lain, saya melihat ada banyak peluang yang bisa saya manfaatkan untuk berkembang. Misalnya, saat ini tersedia berbagai program beasiswa dan pelatihan daring gratis yang sangat mendukung mahasiswa seperti saya. Lingkungan kampus juga sangat terbuka terhadap pengembangan minat dan bakat, sehingga memberi ruang untuk mengeksplorasi potensi diri lebih dalam. Meski begitu, saya juga menghadapi sejumlah ancaman. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas bisa menjadi kendala dalam kelangsungan studi dan pengembangan diri. Selain itu, padatnya tugas kuliah dan persaingan akademik yang ketat sering kali menjadi tekanan tersendiri. Oleh karena itu, penting bagi saya untuk terus menjaga semangat belajar, mengelola waktu dengan baik, serta tetap mencari peluang yang dapat membantu saya bertumbuh secara berkelanjutan.
Saya tinggal di daerah pinggiran Kota Yogyakarta, yang masih cukup asri dan tenang. Mayoritas warga di daerah saya bekerja sebagai buruh, pedagang kecil, atau pekerja lepas. Suasana lingkungan cukup mendukung untuk belajar, walau kadang bising karena aktivitas warga. Teman-teman sepergaulan saya adalah anak-anak muda yang sederhana dan ramah, kebanyakan dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Kami sering berbagi cerita dan motivasi untuk tetap semangat mengejar pendidikan.
Saya memulai pendidikan di TK Indriayana Pugeran, lalu melanjutkan ke SD Kanisius Kembaran dekat rumah. SMP dan SMA saya tempuh di sekolah negeri, yaitu SMP Negeri 1 Kasihan dan SMA Negeri 1 Kasihan, Yogyakarta. Saya selalu berusaha mempertahankan prestasi akademik. Di SMP, saya aktif dalam kegiatan OSIS dan pernah menjadi ketua kelas. Nilai saya cukup stabil di atas rata-rata. Semua biaya pendidikan saya ditanggung oleh orang tua.
Sekarang saya kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Program Studi Informatika. Saya merasa bersyukur bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Di perkuliahan, saya sudah belajar banyak hal baru, termasuk pemrograman, struktur data, dan analisis algoritma. Saya aktif mengikuti praktikum dan mendapatkan nilai A untuk beberapa mata kuliah. Namun, tekanan tugas dan kondisi ekonomi keluarga sering menjadi tantangan tersendiri.
Secara spiritual, saya tetap menjalankan ibadah secara rutin, hadir dalam misa Minggu, dan kadang terlibat dalam kegiatan OMK. Doa pribadi menjadi cara saya menguatkan diri saat menghadapi masalah. Dalam kehidupan sosial, saya memiliki sahabat dekat yang sering belajar bersama. Saya juga memiliki pacar yang sangat mendukung studi dan pengembangan diri saya. Saya hobi olahraga, terutama futsal dan sepak bola. Terkadang, saya merasa lelah dengan banyaknya tugas, namun saya sadar bahwa ini adalah proses yang harus dijalani.
Saya bercita-cita menjadi seorang software engineer atau data analyst yang bekerja di perusahaan teknologi besar. Saya ingin bisa membanggakan orang tua dan membalas semua jerih payah mereka. Modal yang saya miliki adalah semangat belajar dan ketekunan. Namun saya juga sadar bahwa saya perlu meningkatkan keahlian teknis dan kemampuan komunikasi. Oleh karena itu, saya bertekad untuk terus belajar, mengikuti pelatihan, dan mencari pengalaman sebanyak mungkin. Saya sadar bahwa perjalanan hidup saya masih panjang. Saya mungkin bukan berasal dari keluarga yang kaya, tapi saya percaya dengan kerja keras dan iman yang kuat, saya bisa meraih masa depan yang lebih baik. Saya ingin suatu saat nanti menjadi pribadi yang tidak hanya sukses secara materi, tapi juga bisa memberi dampak positif bagi masyarakat.














No Comments