KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Eduardus Ardian Tanaya

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Eduardus Ardian Tanaya

Eduardus Ardian Tanaya

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

21 Maret 2000

Klaten

Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY Prodi Akuntansi semester 3 (Juli 2019)

Eduardus Ardian Tanaya

Mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY Prodi Akuntansi

Hidup Seperti Roda yang Berputar

“Life is like a wheel. Sometimes you’re at the up, sometimes you’re at the down” (Proverb)

Nama saya Eduardus Ardian Tanaya, saya biasa dipanggil “Ar” atau “Yan”. Lahir di kota Semarang tanggal 21 Maret 2000. Saya adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara yang semuanya adalah laki-laki. Kakak saya saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya di ITB dan adik saya akan lulus dari bangku SMA tahun ini. Di rumah, kami tinggal berlima bersama Bapak dan Ibu. Namun ketika adik saya masuk SMA, Bapak dan Ibu tinggal berdua di rumah karena anak-anaknya merantau ke luar kota untuk sekolah. Saya dan adik saya tinggal di Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, dan kakak saya tinggal di Kota Bandung.

Saya adalah anak yang selalu optimis dalam menghadapi masalah, bukan tipe yang mudah menyerah ketika dalam kondisi yang sulit. Saya mudah berbaur dan tinggal dalam situasi baru. Semuanya saya kerjakan dengan rapi dan tertata. Hampir setiap kali, saya merencanakan terlebih dahulu apa yang akan saya buat. Saya selalu bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain termasuk bertanggung jawab dalam mengelola keuangan. Namun saya menyadari juga bahwa saya masih kurang dalam beberapa hal, antara lain adalah dalam hal yang mendesak. Saya kurang percaya diri ketika harus menentukan keputusan dalam situasi yang singkat. Selain itu, saya juga cenderung menjadi orang yang pelupa ketika tidak mencatatnya.

Baru-baru ini bapak saya menerima kenyataan pahit karena perusahaan tempat dia bekerja kini tidak aktif beroperasi. Otomatis bapak saya tidak bisa mengandalkan lagi penghasilannya seperti semula sebagai karyawan administratif sebuah perusahaan kontraktor. Kini dengan bantuan saudara, bapak dan ibu saya beralih profesi demi kelangsungan hidup keluarga kami dengan berjualan bakso. Bapak dan ibu saya setiap hari buka warung pukul 09.00 WIB dan tutup warung pada pukul 21.00 WIB. Usaha yang dibuka dengan bantuan saudara, yaitu pakde saya, maka penghasilan per bulannya harus dibagi 2 dengan pakde saya. Memang penghasilannya tidak banyak, namun masih cukup untuk kami makan.

Setiap manusia pasti memiliki rencana untuk masa depannya. Saat ini saya ingin sekali tetap kuliah. Namun, masalah biaya membuat saya berpikir kembali. Apakah saya dan orang tua saya mampu menghadapinya? Dengan kondisi keuangan keluarga saat ini, dapat dikatakan sangat kekurangan. Dengan penghasilan tidak pasti, Bapak dan Ibu masih membiayai pendidikan 2 dari 3 orang anaknya. Kakak saya adalah seorang mahasiswa dalam proses mendapatkan gelar S2 di Institut Teknologi Bandung, memang sudah berpenghasilan, namun penghasilannya hanya cukup untuk biaya hidupnya sendiri. Sementara saya dan adik saya, masih membutuhkan biaya untuk pendidikan. Selain itu, adik saya tahun ini akan lulus SMA dan hendak menempuh jenjang perkuliahan. Ini memerlukan biaya yang tak sedikit juga.

Saya tumbuh dan besar di lingkungan pedesaan, hal ini mendorong saya untuk hidup sederhana menyesuaikan dengan masyarakat. Tak lupa, saya juga tinggal dalam komunitas rohani Lingkungan Santa Lusia Paroki Administratif Cawas. Saya aktif mengikuti kegiatan rohani di lingkungan seperti ibadat rutin dan kelompok koor. Selain itu, saya juga giat mengikuti kegiatan di Gereja, antara lain putra altar (misdinar) dan sekarang telah masuk dalam komunitas Orang Muda Katolik.

Berbicara keseharian saya saat ini, selain setiap hari kuliah di kampus, saya juga aktif di kegiatan organisasi kampus. BPM Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta adalah tempat saya bersosialisasi dan aktif berorganisasi. Di BPM, saya banyak belajar dari teman dan kakak tingkat dalam berorganisasi. Saya yakin bahwa kuliah tak hanya untuk mendapatkan ilmu akademis semata, namun juga ilmu menjalin hubungan dengan orang di sekitar kita. Nilai di kampus sudah cukup baik, namun saya masih beradaptasi dengan materi yang diberikan karena saya adalah lulusan dari jurusan IPA di SMA. Jadi, banyak hal baru yang benar-benar pertama kali saya pelajari dan membutuhkan lebih pemahaman.

Saya memilih Program Studi Akuntansi karena saya tertarik dengan manajemen yang berkaitan dengan keuangan. Saya percaya dengan belajar ilmu di Program Studi Akuntansi saya dapat mengatur keuangan pribadi saya dengan baik. Dengan begitu, masa depan saya akan lebih dipersiapkan dan terencana. Dimulai dari diri sendiri, pasti pekerjaan yang akan saya geluti di masa depan pun akan siap dan terencana juga. Cita-cita saya adalah menjadi seorang yang berperan penting di dalam pemerintahan. Karena menurut saya ikut campur dalam pembangunan negeri ini adalah salah satu cara untuk menjadi berguna bagi banyak orang. Perlu dipahami juga bahwa ikut serta dalam pembangunan negeri ini adalah kewajiban setiap pemuda bangsa. Maka dari itu demi terwujudnya impian saya, saya akan selalu menjadi orang yang pekerja keras dan selalu optimis menjalani proses kehidupan yang saya miliki.

Kehidupan ini seperti roda yang berputar. Tentu ada saat di mana kita berada di atas dan di bawah. Dulu, tahun 2006 keluarga saya mengalami pengalaman yang membuat kami berada di kondisi paling bawah. Bapak saya menjadi korban PHK PDAM saat itu. Situasi yang sangat kacau mengharuskan kami harus menjual rumah dan banyak barang lainnya. Mulai sejak itu, bapak dan ibu saya memulai hidupnya kembali mulai dari nol. Kami juga mulai mendekatkan diri dengan Tuhan. Bantuan Tuhan terasa selalu ada untuk kami. Hidup harus dijalani dengan optimis. Ketika kita berada di bawah, semangat untuk kembali ke atas harus lebih besar karena akan sangat berat mengupayakannya.

Kondisi saat ini adalah kondisi yang sangat berat untuk saya dan keluarga, karena biaya pendidikan yang semakin besar namun tak diikuti dengan penghasilan kedua orang tua. Orang tua saya juga menanggung beban pinjaman yang mengharuskan membayar cicilan setiap bulan. Jadi, mustahil jika saya kuliah tanpa bantuan dari orang lain, khususnya KAMAJAYA Scholarship. Cita-cita saya menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Dengan saya kuliah, saya berharap bisa membantu banyak orang ketika saya sukses nanti.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA