KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Brigitta Pramesthi Saraswati

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Brigitta Pramesthi Saraswati

Brigitta Pramesthi Saraswati

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

7 Juli 1998

Temanggung

Fakultas Teknik UAJY Prodi Arsitektur semester 5 (Agustus 2019)

Brigitta Pramesthi Saraswati

Mahasiswi Fakultas Teknik UAJY Prodi Arsitektur

LINIMASA

Nama saya Brigitta Pramesthi Saraswati. Saya dipanggil Raras sejak kecil hingga SMA. Di kampus, lebih banyak teman yang memanggil saya dengan nama Brigit. Saya memilih nama Brigit karena ketika saya memperkenalkan diri dengan nama Raras, di dalam pikiran orang nama saya adalah ‘Laras’. Saya kurang suka dipanggil ‘Laras’. Saya lahir di Temanggung, 7 Juli 1998. Saya anak ketiga dari tiga bersaudara yang semuanya adalah putri.

Sejak kecil, saya terbiasa tinggal bersama keluarga besar yang terdiri dari keluarga inti, nenek, bulik, dan tante dari pihak Ibu (anak kedua dan keempat). Saat saya kecil, saya sering dititipkan di rumah nenek, karena Bapak dan Ibu pergi bekerja sebagai guru–Bapak guru SMK Temanggung, Ibu guru SMA swasta Magelang–dan kedua kakak pergi ke sekolah. Rumah kami dengan rumah Nenek cukup jauh namun masih satu kabupaten. Setiap sore setelah Bapak dan Ibu pulang, kami pulang ke rumah kami.

Ketika tahun 2003, bulan Mei (3 bulan lagi saya ulang tahun ke-5 dan akan masuk TK), Bapak meninggal secara mendadak karena jantung koroner. Sejak saat itu, Ibu menjadi single parent, ia memiliki peran sebagai ibu sekaligus bapak. Ibu mengajarkan kepada anak-anaknya tentang kedisiplinan dan kejujuran. Waktu berlalu begitu saja sampai saya kelas 5 SD. Setelah pulang sekolah, saya mendapat kabar dari Nenek bahwa Ibu dan Kakak pertama mengalami kecelakaan di Magelang. Ibu tidak sadar dan masuk ICU, serta sudah dipindah ke RS Panti Rapih Yogyakarta. Lalu, sore itu kami berangkat ke Yogyakarta dengan mobil sewaan. Paginya, Ibu mengalami kondisi yang tidak stabil dan pada akhirnya di siang hari, Ibu Rengkuh Ing Pangeran. Saya menangis dan sangat sedih. Hari-hari yang dilalui menjadi kosong, ada yang kurang. Saya dan kakak-kakak saya tinggal di rumah Nenek, sedangkan rumah kami dikontrakkan. Memang saya tidak sendiri, saya masih punya saudara, nenek, tante, om yang bersedia membantu kami. Namun, saya sering merasa kesepian, rindu sendiri dan ujung-ujungnya menangis sendiri. Saya lebih sering rindu kepada Ibu daripada Bapak, karena saya mengenal Bapak hanya 4 tahun saja. Saya merasa saat ini hubungan kami terutama saya dan kakak-kakak menjadi dekat dan sering berbagi, sudah jarang bertengkar. Kami menjadi saling menjaga satu sama lain untuk saling menguatkan.

Saya tinggal di Temanggung. Kota kecil yang penuh kesederhanaan. Tidak ada mall, jauh dari hiruk-pikuk, dan bila jam 9 malam jalan mulai sepi. Hawa dingin pun masih terasa, memberi kesan sudah jam 11 malam, padahal masih jam 9 malam. Saya tinggal di lingkungan yang dekat dengan SD, SMP, dan gereja. Rata-rata pekerjaan tetangga adalah wirausaha dan guru/PNS. Di Yogyakarta, saya tinggal di sebuah kost di Komplek Yadara Blok IV No. 4 Babarsari. Di lingkungan kost-kostan, didominasi oleh mahasiswi yang berasal dari Nusa Tenggara. Kadang saya merasa terganggu dengan mereka karena sering berisik/berbicara lantang walaupun jarak lawan bicara dekat. Namun di sisi lain, walaupun kami tidak dekat, mereka tidak pernah mengganggu secara fisik, mereka orang baik. Ibu kost dikenal sangat baik, ramah, dan bila saat bercerita, sulit bagi saya untuk memotong pembicaraannya (sangat cerewet).

Mulai semester 4, saya berani mengikuti UKM, karena saya merasa butuh bertemu dengan orang-orang lain, mencari relasi baru, dan ingin menyegarkan pikiran dengan mengikuti kegiatan baru. Saya mengikuti UKM Pro Patria (Pencak Silat). Pro Patria dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis, namun sejak pertengahan Mei sampai Juni, saya absen. Karena saat itu, sedang banyak tugas yang harus saya kejar untuk evaluasi dan pengumpulan-pengumpulan sebelum UAS. Selain itu, saya tidak berani bila saya tidak tidur lalu mengikuti UKM tersebut. Terakhir kali saya mengikuti kegiatan gereja adalah saat Hari Raya Paskah kemarin. Sebenarnya, banyak jadwal untuk koor di gereja, tetapi saya tidak bisa pulang untuk ikut latihan, terkendala dengan tugas-tugas dan kegiatan kepanitiaan.

Arsitektur adalah prodi yang paling pertama saya lirik. Saat itu, saya tertarik karena di Arsitektur banyak kegiatan menggambar. Saya suka menggambar sejak SMP, saya sering menggambar tokoh-tokoh kartun (Detektif Conan, Tintin, dan lain-lain). Selain itu ketika saya SMA, saya memiliki sebuah pemikiran bagaimana cara membuat desain rumah yang efisien, karena rumah tinggal yang pernah saya tinggali sering bermasalah. Lalu saya memantapkan untuk memilih Arsitektur karena saya lebih menyukai seni dan estetika daripada perhitungan. Setelah saya bekerja dan memiliki cukup uang, saya ingin merenovasi rumah saya sesuai dengan keinginan dan standar-standar yang berlaku.

Ketika saya memasuki dunia perkuliahan, saya merasa kelimpungan, karena saya belum pernah mendapat tugas sebanyak ini ketika saya sekolah dulu. Awalnya, saya sulit memahami materi, karena Arsitektur masih asing bagi saya. Saya berjuang untuk mendapat nilai yang baik, walau saya terseok-seok. Biasanya, beberapa mata kuliah memberikan tugas besar yang dikumpul pada akhir semester yang memerlukan progress sebagai nilai mingguan. Setiap minggunya, pasti ada tugas yang harus dikerjakan. Saya mengalami penurunan nilai saat semester 3. Pada semester 3, mahasiswa memilih dosen sendiri. Saya kurang mengenal dosen-dosen di semester 3. Saya mempertimbangkan berdasarkan pengalaman kakak tingkat. Dulu, saya mendapat dosen yang memiliki target yang jelas, namun saat itu dosen tidak memberi target yang jelas dan pada akhirnya saya kelimpungan. Lalu, pernah mengalami pergantian dosen. Saya sengaja memilih dosen A karena lebih fleksibel dan murah hati, tetapi karena dosen tersebut mempunyai tugas ke luar negeri, maka digantikan oleh dosen B yang sangat ketat dan mendetail. Pada akhirnya, saya mendapat nilai C+ karena tugas besar tidak selesai. Banyak teman yang juga tidak selesai tugas tersebut. Saat ini, saya mengkhawatirkan nilai mata kuliah Sistem Bangunan, karena dosen yang saya pilih ternyata kurang menyenangkan, selalu mengkritik dengan kata-kata yang menampar, tapi saya mengakui bahwa dengan dosen ini pengetahuan saya bertambah daripada teman-teman kelas sebelah.

Banyak hal yang saya pelajari dari masa lalu dan masa sekarang. Saya harus mampu merelakan yang telah pergi, bangkit dari kesedihan, memupuk daya juang untuk bersaing dengan teman-teman. Kemampuan yang saya miliki saat ini ternyata belum sebanding dengan teman-teman. Saya mulai bergaul supaya saya bisa mengembangkan kemampuan melalui teman-teman. Selain mempelajari tentang arsitektur, saya juga belajar mengapresiasi karya orang lain, belajar untuk lebih berani dalam berekspresi, belajar dari berbagai media. Di sinilah, saya dipaksa untuk maju dan berkembang, dari yang tadinya tidak bisa menjadi mulai terbiasa dan malah merasakan suatu kesenangan tersendiri ketika mendesain. Saya bisa membantu untuk menyusun dan me-layout poster. Saya bergabung dalam tim yang mengurus website Beasiswa KAMAJAYA. Untuk cita-cita kedepannya, saya ingin menjadi seorang arsitek yang berfokus pada pelestarian rumah adat di Indonesia dan hal-hal yang berbudaya. Sehingga pada akhirnya, saya dapat membantu Beasiswa KAMAJAYA sesuai dengan kemampuan saya, bisa melalui tenaga/secara materi.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA