KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Caesario Adi Perdana

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Caesario Adi Perdana

Caesario Adi Perdana

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

4 Maret 1999

Solo

Fakultas Teknik UAJY Prodi Arsitektur semester 5 (September 2019)

Caesario Adi Perdana

Mahasiswa Fakultas Teknik UAJY Prodi Arsitektur

Menjadi Berguna

Saya Caesario Adi Perdana, lahir tanggal 4 Maret 1999, biasa dipanggil Rio Sudrun. Entah mengapa dipanggil Sudrun. Yang saya tahu, dulu waktu SMA ada juga teman saya yang bernama Rio dan dia biasa dipanggil Rio Sudrun. Semenjak dia keluar dari SMA, nama panggilan itu tiba-tiba disematkan pada saya. Saya mulai terbiasa dengan panggilan itu, bahkan teman-teman luar sekolah mengenal saya dengan nama ini.

Saya tinggal dan besar di Kampung Sudiroprajan, Pasar Gede, Solo. Sebuah kampung di mana saya bisa mengenal lebih jauh lagi tentang toleransi dan saya bersyukur akan hal itu. Lingkungan saya berisi semua orang baik dengan latar belakangnya masing-masing. Saya banyak belajar dari tetangga sekitar dan teman-teman saya, seperti jika ada orang yang punya acara, orang-orang di kampung saling salur-tangan membantu atau paling tidak memperlihatkan diri sebentar apabila memang benar-benar sibuk. Mereka tidak mengharap imbalan/timbal balik, karena memang tahu jika besok butuh bantuan, pasti orang-orang di sekitar rumah akan hadir dengan sendirinya.

Saya tinggal dengan keluarga kakek dari ibu saya di Solo karena kakek dari bapak saya orang Sragen. Jadi, orangtua saya berpikir untuk membesarkan saya di Solo karena lebih enak di Solo, apa-apa dekat. Nama saya pun dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga (KK) Kakek. Mungkin, dulu dengan pertimbangan bahwa urusan administrasi saat sekolah di Solo akan lebih mudah jika nama saya tercantum pada KK orang Solo. Kakek dan nenek saya (yang saya panggil Mbah) mempunyai 6 orang anak, ibu saya nomor 2. Mbah saya adalah orang yang paling menyayangi saya setelah kedua orangtua saya.

Saya anak tunggal, orangtua saya dulu keduanya adalah guru PNS. Bapak saya guru IPS, mama saya guru PKN dan Bahasa Jawa. Itulah salah satu alasan saya bisa berbahasa Jawa halus (karma inggil) dengan baik karena Mama selalu memarahi jika ketahuan berbicara dengan orang yang lebih tua tidak dengan Bahasa Jawa halus. Mama saya galak. Mengenai almarhum bapak saya, saya tidak terlalu mengingatnya dengan baik karena bapak meninggal waktu saya umur 4 tahun, umur di mana saya harus masuk TK. Saya tidak sedih, karena memang belum tahu apa-apa. Lalu lambat-laun saya sadar, ternyata enak juga jika dijemput seorang bapak walaupun sekolah saya berada sangat dekat dengan rumah. Saya bersekolah di TK Warga Surakarta, dan rumah saya tepat di belakangnya.

Saya benar-benar mulai merasakan kehilangan sosok seorang bapak waktu mengambil raport SD (SD saya di SD Warga Surakarta). Teman-teman saya raport-nya diambil orangtuanya, sedangkan saya diambilkan adik mama saya nomer 4, Sartini, bulik saya. Saya bersyukur, paling tidak raport saya ada yang mengambilkan, karena memang mama juga seorang guru. Jadi, mama harus mengurus raport juga di sekolahnya, SMPN 2 Taraman, Sragen, yang memang sangat jauh dari rumah saya di Solo. Saya tidak menyalahkan Mama, namun bagaimanapun juga waktu itu saya masih anak-anak yang punya rasa iri dengan teman-teman lain. Iri ketika teman saya dimarahi saat nilainya kurang memuaskan, saya juga iri dan ingin dibelikan hadiah ketika nilai saya memuaskan seperti teman-teman saya yang lain. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Selanjutnya, saya merasakan dampak psikologis menjadi tidak terurus, karena Mama sibuk dengan pekerjaan sekolahnya, sehingga saya di sekolah mulai menjadi anak yang cari perhatian ke semua orang dengan usil, berbuat kenakalan-kenakalan yang mengharuskan saya menghadap guru dan kepala sekolah berkali-kali.

Saya bebas karena tidak ada pengawasan orangtua. Keluarga saya tahunya saya baik-baik saja. Karena bebas inilah, maka saya tersesat. Saya mulai “minum-minum” waktu malam minggu saat SMA. Saya termasuk orang yang tidak terlalu pintar di SMA. Saya tidak menyalahkan pergaulan, karena itu salah saya sendiri. Namun saya bukan perokok. Sama seperti almarhum Bapak, saya tidak suka merokok. Mungkin karena sudah ditanamkan sejak kecil oleh orangtua bahwa merokok itu tidak ada manfaatnya, lebih baik uangnya untuk beli makanan. Waktu berjalan terus, hingga suatu saat saya mendengar kabar bahwa mama sakit diabetes. Mulai saat itu saya mengurangi minum alkohol, saya takut karena diabetes itu penyakit keturunan. Tapi saya masih belum bisa lepas dari alkohol. Sakit mama tambah parah sehingga harus cuci darah setiap minggu. Orang rumah bergantian mengantar Mama, tetapi yang paling sering mengantar adalah mbah saya, saya jarang mengantar karena harus masuk sekolah. Akhirnya, Mama menyusul Bapak, meninggalkan saya pada 4 Februari 2017, beberapa bulan sebelum ujian nasional SMA berlangsung. Setelah Mama tidak ada, saya dirawat seluruh keluarga saya. Semua saya anggap orang tua saya sekarang. Saya mulai bisa merasakan kasih sayang dari semua orang, saya mulai bisa lepas dari alkohol.

Saya khawatir tentang biaya perkuliahan karena semua di luar dugaan. Waktu Mama meninggal, mendapat uang santunan dan waktu itu saya harus berpikir dua kali untuk masuk kuliah, apakah cukup? Masih banyak biaya yang harus dibayarkan seperti biaya balik nama sertifikat rumah yang ternyata belum balik nama sejak dibeli Bapak dulu. Ini adalah hal yang paling mendesak karena si penjual sudah sangat tua dan akan sangat susah mengurus dan bertambah mahal apabila si penjual meninggal. Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan untuk memilih program studi yang jika memang terpaksa tidak lulus, masih bisa bekerja. Dan pilihan itu adalah program studi Arsitektur. Walaupun belum lulus, tapi sudah bisa bekerja, jadi drafter atau jadi illustrator (mengingat saya juga hobi menggambar). Saya tertarik dan memutuskan untuk kuliah. Memang benar, uang tabungan saya sudah benar-benar mepet. Saya mendapat uang santunan Rp 1,5 juta per bulan, itu sudah cukup untuk biaya sehari-hari, print tugas, beli alat tulis, dan makan. Hanya tersisa sedikit saja, untuk ditabung buat biaya sewa kontrakan. Namun untuk membayar SPP Tetap dan Variabel, saya masih mengandalkan sisa dari uang santunan yang sisanya tidak seberapa. Saya harus berhati-hati dalam pengeluaran uang.

Waktu kuliah, saya bertemu teman-teman baru dan dengan latar belakang berbeda. Saya agak lama beradaptasi karena pergaulan semasa SMA dengan kuliah sangat berbeda. Beruntung, saya punya teman kontrakan yang bisa diajak berkeluh-kesah tentang apa saja, mereka menjadi keluarga saya di Jogja. Saya tidak aktif di HIMA (Himpunan Mahasiswa Arsitektur) karena saya tidak terlalu berminat. Namun semester ini, saya ingin mencoba mendaftar di bidang minat bakat atau pengabdian. Saya ikut dalam anggota Kandang Karya (komunitas seni menggambar di Prodi Arsitektur). Saya juga ikut organisasi pemuda Katolik atau yang biasa disebut OMK di wilayah rumah saya, namun saya sudah tidak terlalu aktif. Tetapi kalau pulang ke Solo, saya tetap mengikuti kegiatan OMK seperti parkir, atau kumpul-kumpul di Kapel.

Saya suka menggambar sejak kecil dan saya berlatih terus. Kadang, saya juga mencari uang lewat hobi saya ini, menggambar teman-teman saya, mendesain kaos, dan lain-lain. Namun, saya masih bingung menentukan harga. Jadi, saya hanya minta seikhlasnya saja atau malah saya kasih cuma-cuma jika yang meminta bantuan adalah teman dekat saya. Saya tidak pandai dalam hal bisnis. Saya punya keinginan kuat untuk mendalami bidang saya di Arsitektur lalu membantu sesama lewat kemampuan saya, seperti salah satu idola saya, Romo Mangun. Saya tidak berharap menjadi arsitek terkenal, namun saya ingin sekali menjadi berguna bagi sesama lewat bidang saya, Arsitektur. Saya berpendapat bahwa roda semesta berputar tidak hanya untuk kehidupan saya seorang. Jadi menurut saya, dalam hidup tidak usahlah mau menang sendiri atau terlalu berambisi menjadi nomor satu. Mungkin, kita ahli hanya dalam beberapa bidang, selebihnya kita awam. Itulah konsep yang saya pegang agar mau untuk terus belajar. Yang saya lakukan sekarang adalah belajar dengan baik, mendalami bidang Arsitektur dan lingkungan, lalu kelak dapat menerapkannya untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Dengan berbekal sedikit keahlian menggambar dan mendesain saya, saya berharap dapat berguna bagi KAMAJAYA Scholarship. Kedepannya, saya ingin membantu adik-adik mahasiswa UAJY seperti bantuan yang saya terima ini melalui KAMAJAYA Scholarship. Salah satu keunggulan beasiswa ini menurut saya adalah adanya semangat untuk meneruskan kebaikan dengan menyisihkan rezeki yang didapat setelah bekerja esok. Jadi, ada semacam tanggung jawab yang saya emban untuk meneruskan kebaikan yang saya terima kepada adik-adik mahasiswa UAJY yang membutuhkan. Semangat ini mendorong saya untuk terus belajar giat dan bekerja keras. Jangan sampai menyia-nyiakan kebaikan yang sudah diterima.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA