KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Triyoga Surya Agung Nugraha

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Triyoga Surya Agung Nugraha

Triyoga Surya Agung Nugraha

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

18 Februari 1999

Salatiga

Fakultas Teknik UAJY Prodi Arsitektur semester 5 (September 2019)

Triyoga Surya Agung Nugraha

Mahasiswa Fakultas Teknik UAJY Prodi Arsitektur

Ingin Mendirikan Sekolah Gratis

Nama saya Triyoga Surya Agung Nugraha, biasa dipanggil Yoga. Lahir di Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 18 Febuari 1999. Saya merupakan anak ke-3 dari tiga bersaudara. Saya memiliki keinginan atau cita-cita untuk mendirikan sekolah gratis untuk anak tidak mampu dan anak jalanan agar mereka mendapat pendidikan yang dapat digunaan kelak untuk membangun kehidupan yang lebih layak. Untuk mewujudkan visi masa depan tersebut, saya berencana mendirikan biro arsitektur agar dapat membangun sekolah tersebut, serta dapat membiayai siswanya untuk bersekolah.

Ayah saya bernama Yudi Suryo Putranto dan ibu saya bernama Ratri Purwandari. Saya dilahirkan di keluarga Kristen, kami sering beribadah bersama ke gereja pada hari Minggu. Ayah jarang di rumah, bertemu hanya Sabtu malam sampai Minggu sore. Saya dididik dan mendapat teladan dari Ibu. Jika dilihat dari keaktifan dalam bidang kerohanian, saya rasa saya yang paling aktif terlibat dalam kegiatan rohani dibandingkan kakak saya maupun ayah saya. Ibu saya cukup aktif dalam mengikuti kegiatan rohani.

Ketika saya berada di kelas 9 (kelas 3 SMP), Kakek yang berasal dari Ayah menghilang. Beliau memiliki hobi jalan-jalan, kondisi fisiknya sangat kuat seperti usia muda, namun ia pikun karena usianya. Karena kondisi fisiknya yang kuat, ia mampu berjalan sampai jauh atau berkilo-kilometer, namun ia lupa jalan untuk pulang. Hilangnya Kakek memberi tekanan pada ayah. Tekanan ini membuat semua sisi Ayah terungkap. Sampai pada suatu titik, Ayah malah mencari orang pintar atau dukun. Ibu dan kami anaknya kecewa melihat tingkah laku ayah kami. Ia makin berubah ke arah yang lebih buruk; menjadi orang yang temperamental, mudah tersinggung, sangat tinggi gengsinya, sering seenaknya di rumah, tidak mau mendengarkan pendapat anggota keluarga, terkadang sering menyalahkan anggota keluarga saat kondisi yang ia hadapi tidak sesuai yang ia mau. Kondisi ini ditambah dengan respon adik-adik Ayah yang ingin membagi harta orang tua. Kakek hilang di usia 82 tahun dan sudah enam tahun di luar rumah, mereka menganggap Kakek sudah tiada.

Ayah saya hingga saat ini masih mencari Kakek dan beranggapan bahwa Kakek masih hidup, sehingga ia tidak mau harta orang tua dibagi. Kondisi ini semakin buruk karena Ayah disudutkan oleh adik-adiknya dan ditambah dengan permasalahan ekonomi di keluarga. Ayah saya dulunya seorang pegawai di BUMN (Perum Perhutani). Namun saat ini, Ayah sudah pensiun. Dengan kondisi pensiun ini, Ayah mendapat gaji Rp 1.000.000,00 per bulan. Ketika ayah saya pensiun, sebenarnya kondisi perekonomian keluarga tidak terlalu buruk dikarenakan adanya tabungan dari Ayah. Satu sampai dua tahun setelah masa pensiunnya, tiba-tiba ia mengabarkan pada keluarga kalau ia tidak memiliki uang lagi. Kondisi ini membuat saya kaget, karena saat itu saya harus membayar SPP Semester 3. Pada awalnya, saya bertanya-tanya mengapa uang tabungan sekitar Rp 60 juta dapat habis begitu saja dalam waktu satu tahun. Ternyata, Ayah sedang membangun usaha dengan membuka jasa cuci motor di rumahnya di Semarang. Namun sampai sekarang, usaha itu belum berjalan, sehingga uang tabungan Ayah lama-lama habis. Kondisi ini juga membuat saya hampir saja tidak dapat membayar uang kuliah pada Semester 4. Saya melihat Ayah sudah mulai tidak memikirkan biaya hidup dan kuliah saya di Jogja. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga, sehingga tidak dapat membantu perekonomian keluarga. Melihat kondisi Ayah yang semakin tidak membangun hubungan dengan Tuhan, Ibu dan kami anak-anaknya hanya dapat berdoa secara tekun.

Saya tinggal di Jln. Karangmalang Blok C No. 7, Sleman. Letak dari tempat tinggal berjarak 5 km dari Kampus II UAJY. Teman-teman pergaulan ada yang baik dan ada yang buruk. Namun orang yang dekat dengan saya merupakan orang yang baik, yang hidupnya jauh dari minuman keras, walaupun mereka kebanyakan adalah perokok. Dalam lingkungan sekitar, saya cenderung lebih pasif dalam menjalin hubungan dengan lingkungan, hanya dengan tetangga yang berdekatan saja.

Saya mengikuti ibadah hari Minggu, biasanya saya ke GBI Aletheia pukul 06.00 pagi. Selain itu, saya juga tergabung dalam komunitas CMNI (Christian Man’s Network Indonesia) wilayah Salatiga dan Jogja. Saat ini saya banyak di Jogja, maka saya lebih sering datang ke pertemuan di Jogja. Komunitas ini adalah komunitas rohani yang membangun setiap pria agar menjadi pria sejati. Selain ibadah, saya juga aktif dalam mengikuti rapat-rapat yang diselenggarakan oleh komunitas ini. Teman-teman dekat selalu mendorong saya untuk selalu berhubungan dengan Tuhan, segala keluh kesah saya dibawa mereka dalam doa. Dengan sikap teman-teman, saya mendapat semangat untuk tetap menjalani hidup saya dan tetap beriman pada Tuhan Yesus. Saat ini, sebenarnya saya sedang memulai usaha untuk dapat membantu orang tua saya dalam mencukupi kebutuhan kuliah saya. Dalam upaya ini, saya terkendala dengan pembagian waktu dengan kuliah saya. Saya tidak ingin kalau IP (Indeks Prestasi) turun karena adanya usaha ini.

Saya merasa memiliki keunggulan dalam menciptakan ide, konsep, atau sesuatu yang kreatif. Hal ini juga didukung saat SMA saya aktif di OSIS bagian perlengkapan dan bagian acara di kepanitiaan-kepanitiaan. Namun, saya memiliki kelemahan dalam mengeksekusi ide karena saya kesulitan mengatur waktu.

Saat ini, saya telah menyelesaikan Semester IV. Di semester ini menurut saya berjalan seperti biasanya, namun saya merasa gagal karena banyak nilai yang hasilnya jelek. Saya sudah berusaha keras, namun hasilnya sangat buruk, di luar prediksi saya. Saya sedikit terhibur karena di semester ini saya memenangkan Juara III Lomba Short Movie tingkat Nasional yang diselengarakan Himpunan Mahasiswa Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Untuk semester depan, saya bertekad untuk memperbaiki IP dan berharap dapat mengikuti berbagai lomba design. Saya ingin cepat lulus kuliah dan membahagiakan orangtua. Kemudian, saya ingin bekerja untuk mengumpulkan modal dan pengalaman. Setelah itu, saya ingin mendirikan biro arsitektur. Impian saya di masa depan adalah ingin mendirikan sekolah gratis untuk orang yang tidak mampu agar mereka juga dapat mengenyam pendidikan sehingga mereka dapat mempunyai masa depan yang lebih baik.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA