KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Adi Ageng Wahyu Pradana

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Adi Ageng Wahyu Pradana

Adi Ageng Wahyu Pradana

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

8 Mei 1997

Jakarta

Fakultas Hukum Prodi Ilmu Hukum semester 5 (September 2019)

Adi Ageng Wahyu Pradana

Mahasiswa Fakultas Hukum UAJY Prodi Ilmu Hukum

Semua Kebaikan yang Diperbuat akan Kembali

Saya diperkenankan hadir di dunia di Nusa Tenggara Barat pada tanggal 8 Mei 1997 bersama saudara kembar saya. Saudara kembar saya bernama Raka Ageng Wahyu Pradana. Dari kami kecil, kami sudah dibiasakan untuk akur dengan kembaran. Seperti anak kembar lainnya, pasti kami pernah bertengkar dengan hal-hal kecil, misalnya berebutan mainan. Makin besar, kami semakin sadar bahwa bertengkar tidak menyelesaikan masalah. Waktu kecil juga pernah bertengkar sampai pukul-pukulan, tetapi setelah beranjak dewasa kami tidak lagi bertengkar dengan tangan. Beradu argumen untuk mencari pembenaran. Tetapi, hal itu sangat jarang terjadi.

Masa kecil saya tidak seperti kebanyakan orang-orang yang lain. Sejak saya umur tiga tahun, orang tua saya sudah bercerai. Saya dan kembaran saya hidup dirawat oleh ibu saya. Dari kecil untuk biaya sehari-hari dan biaya sekolah, saya membantu ibu saya dengan berkeliling menjajakan gorengan. Saya bersyukur mempunyai ibu yang mempunyai jiwa pejuang untuk memenuhi semua kebutuhan saya tanpa sepeser pun biaya dari ayah saya. Dengan didikan yang mandiri, saya bisa bertahan tanpa mengeluh. Walaupun saya mempunyai masa yang sulit, hidup harus disyukuri dan perjuangan harus tetap dilakukan.

Foto bersama kembaran saya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, saya melanjutkan jenjang SMA di Seminari Menengah Mertoyudan. Pada awal saya masuk sebagai seminaris, saya mempunyai keinginan kuat untuk menjadi seorang pastor. Saya menjalani tes selama tiga hari di Magelang bersama kembaran saya. Ternyata, saya diterima sebagai seminaris. Saya menjalani masa SMA saya selama 4 tahun. Banyak pengalaman yang saya dapatkan di Seminari Menengah Mertoyudan. Dari awalnya harus dibangunkan orang tua untuk bangun pagi, di seminari saya latihan untuk bangun pagi jam 4:30 WIB selama 4 tahun. Mulai adaptasi dengan teman-teman satu atap yang baru. Perselisihan pasti ada. Terlebih, kami dikumpulkan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kebiasaan maupun adat istiadat pasti juga sulit untuk disesuaikan. Tetapi bila sudah kenal dengan teman-teman satu angkatan, saya tidak lagi menyebut mereka sebagai teman tetapi saudara. Saudara satu rasa. Satu rasa jauh dari orang tua. Satu rasa hidup mandiri. Satu rasa dalam panggilan menjadi seorang pastor.

Setelah lulus, saya melanjutkan ke Seminari Tinggi Jakarta. Penyesuaian di Seminari Jakarta menurut saya lebih mudah daripada penyesuaian di Seminari Menengah. Cara berpikir dan bertindak sudah bukan seperti anak SMA lagi. Hidup di Seminari Tinggi tidak kalah menarik dengan Seminari Mertoyudan. Fokus pada Seminari Tinggi adalah studi dan pengolahan hidup. Rutinitas yang saya lakukan di sana tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan di Seminari Menengah. Selama saya studi di Seminari Tinggi, saya berkuliah di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Dryarkara.

Setelah menjalani kehidupan di Seminari Tinggi selama 1 tahun, saya memutuskan untuk keluar dari Seminari, setelah mempertimbangkan banyak hal. Pada awalnya, saya sangat buta dengan studi saya berikutnya. Setelah berkonsultasi dengan teman-teman, saya memutuskan untuk melanjutkan studi di Universitas. Saya mendaftar di beberapa Universitas yaitu melanjutkan di STF Dryarkara, Unika Atma Jaya Jakarta dengan pilihan jurusan Ilmu Hukum, Universitas Sanata Dharma dengan pilihan jurusan Psikologi dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan pilihan jurusan Ilmu Hukum. Saya diterima di semua universitas. Tetapi, pilihan akhir saya jatuhkan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta karena menurut pertimbangan saya, saya akan paling berkembang di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Walaupun perbedaan umur dengan angkatan di Fakultas Hukum berbeda 2 tahun, tetapi saya berusaha untuk beradaptasi dengan cepat sehingga nilai Indeks Prestasi (IP) saya bisa dibilang bagus.

Setelah menjalani satu semester, saya merasa bahwa saya harus berkembang lagi. Saya tidak ingin membebani ibu saya lagi, sehingga saya mencoba dan berusaha agar mendapat beasiswa. Ibu saya hanya menjadi guru les panggilan untuk mengajar anak-anak SD. Karena hanya lulusan SMA, gaji ibu saya tidaklah banyak. Setiap bulan, ibu saya digaji dengan Rp 300.000,00 per anak. Ibu saya sudah mempunyai murid sebanyak 5 anak, berarti ibu saya mempunyai penghasilan per bulan hanya Rp 1.500.000,00. Sangat jauh dari cukup untuk mencukupi biaya dan kebutuhan saya dan kembaran saya untuk kuliah. Untuk mencukupi kebutuhan saya, ibu dibantu oleh adiknya dan juga berhutang. Dari motivasi untuk membantu ibu saya itu, saya mencoba untuk mendaftar Beasiswa KAMAJAYA. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, saya dinyatakan diterima di Beasiswa KAMAJAYA.

Tidak sedikit orang yang menanyakan kepada saya mengapa saya mau mendaftar Beasiswa KAMAJAYA karena ada persyaratan untuk pay it forward. Saya tidak keberatan dengan persyaratan tersebut, karena menurut saya ada ibarat untuk menggambarkan itu semua. Seumpama ada seorang anak yang dibuang oleh orang tuanya sewaktu masih bayi. Bayi itu dipungut oleh petugas panti asuhan. Anak itu dirawat dari kecil, diberi semua kebutuhan, makanan, pakaian, pendidikan dan banyak hal lainnya. Hal itu diberikan panti asuhan sampai anak itu besar. Dengan didikan yang baik, anak itu tumbuh menjadi orang yang hebat. Anak itu menjadi seorang yang banyak dikagumi orang banyak terlebih karena menginspirasi banyak orang. Anak tersebut telah mempunyai penghasilan yang banyak. Setelah ia mendapatkan semuanya itu, apakah anak itu akan diam saja terhadap yayasan panti asuhan yang telah merawatnya? Apakah dia akan diam saja bila adik-adik satu atapnya membutuhkan sesuatu? Tidak, ia pasti akan melakukan sesuatu untuk membalas segala kebaikan yang telah ia dapatkan dari panti asuhan tersebut. Caranya tidak memberi uang kepada perawatnya. Tetapi membagi kebaikan kepada adik-adik satu atapnya supaya mereka juga memiliki kesempatan seperti apa yang ia punyai dahulu. Sama halnya seperti saya yang telah dibiayai oleh para alumni/donatur yang telah berbaik hati untuk menyisihkan sebagian dari rezekinya. Saya yakin setiap orang yang telah dibantu dengan beasiswa apa saja, suatu saat para lulusan beasiswa akan membalas kebaikan yang telah diterimanya kepada orang lain, hanya bentuknya berbeda-beda. Bila ada seorang yang hanya ingin menerima melulu tanpa tidak ingin memberi sedikit pun, maka bisa dikatakan orang tersebut tidak tahu diri.

Saya mengimani Yesus Kristus. Bagi saya, setiap kebaikan yang saya perbuat akan kembali kepada saya. Bentuknya tidak selalu seperti apa yang saya berikan. Tetapi kebaikan yang kita berikan pasti akan kembali kepada diri sendiri, apapun bentuknya.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA