KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Doris Agusnita

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Doris Agusnita

Doris Agusnita

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

9 Agustus 2000

Pati

Fakultas Hukum Prodi Ilmu Hukum semester 3 (Oktober 2019)

Doris Agusnita

Mahasiswi Fakultas Hukum UAJY Prodi Ilmu Hukum

Pantang Menyerah dan Terus Berusaha

Nama saya Doris Agusnita, dari kecil saya biasa dipanggil Doris oleh keluarga dan teman-teman saya. Sejak memasuki dunia perkuliahan terutama lingkungan gereja di Yogyakarta, ada beberapa orang yang memanggil saya dengan nama panggilan Ois. Saya lahir di tempat yang kecil dan indah yaitu Dukuh Tawangrejo, Desa Tegalombo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati pada tanggal 9 Agustus 2000. Tahun ini, saya memasuki usia 19 tahun. Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saya dulu bersekolah di TK YASUKA Tawangrejo, SD Negeri Kembang 03, SMP Negeri 1 Tayu, dan SMA Negeri 02 Pati. Selama TK sampai SMA, saya mendapat prestasi akademik berupa peringkat di kelas maupun juara di suatu perlombaan. Meskipun sekolah-sekolah tersebut merupakan sekolah favorit dengan biaya yang tidak murah, tetapi saya mendapat keringanan berupa potongan SPP dari pihak sekolah. Saya sangat menyukai musik, terutama suka bernyanyi dan menyukai dunia perpolitikan.

Ayah saya bernama Sunarto dan ibu saya bernama Jamini, sedangkan adik saya bernama Diva Chrismanita, dia berumur 9 tahun. Saya lahir dari keluarga yang luar biasa. Saya bersyukur dilahirkan dari keluarga yang sangat mendukung pendidikan saya dan juga rohani saya. Ayah saya adalah seorang ayah yang selalu memotivasi saya untuk terus maju dan jangan takut untuk bermimpi. Sedangkan ibu saya adalah seorang ibu yang sangat sabar dan tegas dalam mendidik saya. Keluarga saya belum mempunyai rumah sendiri sehingga saya dan keluarga menumpang di rumah Tante. Sementara saya kuliah di Yogyakarta, ibu dan adik perempuan saya yang menempati rumah tersebut. Sedangkan ayah saya berada di Sungai Druju, Sumatera Selatan untuk bekerja sebagai buruh tani tambak dan biasanya pulang satu tahun sekali dengan hasil yang tidak menentu.

Saat saya menjadi panitia dan MC KOMUTASI SEMINAR NASIONAL dan Lomba Essay.

Pada tahun 2017, keluarga saya menghadapi suatu permasalahan yaitu ayah saya selingkuh. Saya sempat benci dengan ayah saya, bahkan saya mempunyai keinginan untuk bunuh diri karena permasalahan tersebut. Saat permasalahan terjadi, saya merasa malu karena keluarga saya mempunyai latar belakang pelayanan di gereja. Saya dan Ibu meminta ayah saya untuk pulang ke rumah, tetapi Ayah tidak mau pulang. Ayah ternyata memilih pindah ke Palembang, Sumatera Selatan dengan meninggalkan hutang di tempat kerja lamanya. Di Palembang, Ayah hanya bekerja seadanya dengan hasil yang tidak menentu, misalnya membantu memanen ikan. Karena permasalahan yang sedang dialami keluarga saya, ekonomi keluarga saya semakin hari semakin menurun sampai sekarang. Banyak orang yang dulu baik saat keluarga saya dalam kondisi baik-baik saja kemudian berubah menjadi orang yang mencaci-maki keluarga saya.

Tahun 2018, saya memasuki bangku kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan kondisi mental saya yang belum benar-benar pulih. Saat ini, saya memasuki semester 3 di Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum UAJY. Di kampus, saya tergabung dengan Partai Mahasiswa Peduli dan KOMUTASI (Komunitas Anti Korupsi) serta Leaders Community di tingkat universitas. Selama kuliah, saya mengikuti berbagai kegiatan dan kepanitiaan. Pengalaman baru yang saya dapatkan di kepanitiaan yaitu saya ditunjuk menjadi MC (Master of Ceremony) dalam sebuah seminar. Dari awal masuk kuliah sampai sekarang, biaya kehidupan saya di Yogyakarta berasal dari hutang. Mulai dari biaya kuliah (SPP Tetap dan SPP Variabel), biaya kost, biaya makan, dan keperluan lainnya berasal dari gali lubang tutup lubang. Maka dari itu selama saya di Yogyakarta, saya memutuskan untuk mengambil pekerjaan ringan sebagai reseller kaos YOLOGY milik anak seorang pendeta, menjadi reseller stainless steel straw milik teman SMA saya, dan menjadi content creator INDOMUSIKGRAM untuk meringankan sedikit beban orang tua saya terutama ibu saya. Hasil pekerjaan itu hanya bisa saya gunakan untuk uang transportasi saya karena saya tidak mengambil banyak keuntungan dalam pekerjaan tersebut.

Saya pernah berkesempatan mendapat beasiswa (kuliah gratis sampai lulus, biaya hidup gratis, dan tempat tinggal gratis) dari salah satu pengusaha di Jakarta, tetapi dengan syarat saya harus pindah ke Universitas Pelita Harapan. Banyak orang yang menyarankan saya untuk pindah saja daripada saya berhenti kuliah karena ekonomi keluarga saya yang tidak mampu untuk menguliahkan saya. Tetapi, saya dan keluarga memutuskan untuk tidak pindah dan akhirnya tidak lolos beasiswa tersebut. Saya memilih tetap di sini karena saya percaya bahwa Yogyakarta terutama Universitas Atma Jaya Yogyakarta adalah tempat yang sudah Tuhan tetapkan dan siapkan untuk saya. Meskipun saya tiga kali ditolak dalam tiga jalur penerimaan mahasiswa baru Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tapi saya sangat bersyukur dapat berkuliah di sini.

Selama saya di Yogyakarta, saya tertanam di sebuah gereja dan di komunitas sel yang ada di gereja tersebut. Di sana, saya dipertemukan dengan orang-orang yang mau mendengarkan keluh-kesah saya bahkan membantu saya saat saya tidak memiliki uang sepeser pun untuk makan atau untuk membayar Grab atau Gojek. Di sana, saya juga melanjutkan pelayanan saya sebagai choir, singer, worship leader, dan mendapat kesempatan untuk membimbing anak-anak Sekolah Minggu. Meskipun baru memasuki semester 3, saya mendapat banyak pembelajaran dan pengalaman baru selama di Yogyakarta. Meskipun banyak kegiatan di kampus dan luar kampus yang saya ikuti, saya harus mengatur waktu dengan sedemikian mungkin agar tidak bertabrakan satu sama lain dan juga agar tidak mengganggu kuliah saya. Saya adalah orang yang mudah bergaul dengan banyak orang, saya pendengar yang baik, saya dapat bekerja bersama. Saya memiliki perencanaan yang matang tentang apa yang menjadi harapan saya lewat tulisan. Saya juga menggunakan media sosial untuk mencari informasi-informasi terbaru. Kekurangan yang saya miliki adalah saya memiliki emosi yang tidak stabil saat kelelahan atau saat sedang terjadi sesuatu dalam hidup saya. Saya sering lupa menaruh handphone. Saya juga sering merasa tertuduh atas perlakuan orang lain atau peristiwa yang sedang saya alami. Tetapi, Pastor gereja saya di Yogyakarta pernah mengatakan bahwa kita harus menanggalkan jubah yang lama dan memakai jubah yang baru.

Mengenai cita-cita saya dari kecil memang selalu berubah-ubah. Ketika saya TK sampai SMP, saya sudah bercita-cita menjadi dokter umum. Menginjak SMA, saya masuk jurusan IPS. Dari situ, saya sempat kecewa dan orang tua saya juga kecewa. Tetapi, saya kembali bangkit untuk menjalani masa SMA. Kemudian, saya mencari-cari jurusan kuliah yang sejalan dengan jurusan SMA saya. Saya sempat mempunyai keinginan untuk masuk jurusan Hubungan Internasional. Tetapi, semua berubah semenjak banyak sekali berita mengenai koruptor yang selalu disiarkan di televisi dan juga kisruh tentang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Di saat itu saya berpikiran, kelak bisa membantu menyalurkan suara rakyat tanpa menindas golongan apapun. Lalu saya mencari jurusan yang membahas itu. Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih jurusan Ilmu Hukum. Tetapi, itu sempat tidak disetujui orang tua saya. Ibu saya menyarankan untuk menjadi seorang perawat atau pendeta yang bisa mendapatkan banyak beasiswa, sedangkan ayah saya tidak menyetujui saya kuliah di jurusan Ilmu Hukum karena ada salah satu tetangga saya yang sarjana hukum tetapi menganggur. Saya terus berdoa dan berusaha meyakinkan orang tua saya bahwa saya bisa meraih apa yang saya cita-citakan dan tidak akan menganggur serta berjanji akan mencari beasiswa saat kuliah untuk meringankan beban orang tua.

Sampai saat detik-detik kelulusan SMA, saat SNMPTN dan SBMPTN saya dinyatakan tidak lolos masuk Perguruan Tinggi Negeri yang saya pilih. Saya sekeluarga sempat merasa gagal. Akhirnya setelah ditolak beberapa kali juga di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Puji Tuhan saya akhirnya diterima di Fakuktas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Saya berterima kasih kepada KAMAJAYA Scholarship atas terpilihnya saya menjadi salah satu penerima beasiswa. Ini adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Karena selama ini, saya telah mendaftar ke berbagai beasiswa, namun saya selalu tidak lolos di tahap akhir untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Untuk rasa terima kasih saya dan melalui kelebihan saya, saya akan membantu mempromosikan KAMAJAYA Scholarship melalui media sosial saya. Semoga nantinya, banyak anak-anak yang mempunyai keinginan tinggi untuk kuliah tetapi terkendala biaya, bisa mendaftarkan diri di KAMAJAYA Scholarship.

Saat Saya menjadi panitia dan MC di acara KOMUTASI.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA