KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Hana Ariana

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Hana Ariana

Hana Ariana

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

22 April 1998

Yogyakarta

Fakultas Teknik Prodi Teknik Sipil semester 7 (Oktober 2019)

Hana Ariana

Mahasiswi Fakultas Teknik UAJY Prodi Teknik Sipil

Perjalanan Masih Panjang

Nama saya Hana Ariana, biasa dipanggil Hana. Saya lahir di Sleman, pada tanggal 22 April 1998. Ayah saya bernama Yonathan Kunto Ari Bagyo (almarhum), bekerja sebagai PNS di PU Binamarga. Ibu saya bernama Astuti Wardani, seorang ibu rumah tangga dengan pendapatan dari pensiun janda. Saya adalah anak bungsu dari 3 bersaudara dengan 2 kakak laki-laki. Kakak saya yang pertama bernama Daniel Ari Wardana, ia sudah berpulang ke rumah Bapa ketika saya masih kelas 6 SD. Daniel adalah kakak saya yang paling dekat dengan saya. Saat itu ia tinggal meminta tanda tangan dosen untuk skripsinya, namun dalam perjalanan ke kampusnya yaitu di UNY, ia mengalami kecelakaan tabrak lari dengan truk dan meninggal. Kakak kedua saya bernama Agaphe Mahanani Ageng Pracaya. Ia telah di-DO dari kampusnya karena masa studi yang terlalu lama. Sebenarnya ia tinggal mengambil skripsi saja, namun ia tidak mau mengambilnya entah apa alasannya, hingga mau tidak mau akhirnya di-DO. Kegiatannya sehari-hari hanya di rumah dengan laptopnya, dan relasi saya dengannya sangat tidak baik bahkan tidak pernah berbicara lagi sejak saya duduk di SMP.

Perjalanan saya dimulai ketika SMP menuju SMA, mewujudkan harapan ayah saya untuk masuk ke SMA yang beliau inginkan. Dengan usaha dan segala fasilitas yang telah beliau berikan untuk saya, hingga saya berhasil memenuhi harapannya. Namun, selang menuju kenaikan kelas 2 SMA, ayah saya telah berpulang karena menderita penyakit jantung. Hingga tinggallah saya, ibu, dan kakak saya Agaphe.

Tinjau lapangan Bendungan Kamijoro.

Masa SMA waktu itu saya lalui dengan sedih karena banyak ditinggal orang-orang terdekat, sehingga yang saya tahu hanya terus belajar saja. Saya mengalami banyak pergumulan dan pembentukan diri yang saya lalui sendirian tanpa didampingi orang-orang terdekat. Pada masa pendaftaran mahasiswa baru, saya mendaftar di banyak perguruan tinggi. Mulai dari bidang statistika, kesehatan, seni, dan keguruan. Saat itu, saya lolos seleksi di salah satu universitas swasta dengan prodi Arsitektur, namun ibu saya tidak setuju entah apa alasannya. Kemudian, saya juga lolos di salah satu politeknik kesehatan, hanya tinggal melakukan registrasi namun masih sama, ibu saya tidak setuju. Perguruan tinggi terakhir yang saya tidak diberi restu untuk studi, yakni di institut seni. Entah mungkin karena rasa gengsi atau apa. Namun, saya masih mendengarkan apa yang beliau minta. Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan prodi Teknik Sipil, menjadi pilihan terakhirku dan direstui Ibu.

Saya sempat khawatir ibu saya akan sangat terbebani dengan biayanya, namun beliau terus meyakinkan saya, “Ibu punya tabungan untuk pendidikan anak, sangat cukup untuk kamu sampai selesai kuliah nanti,” begitu katanya. Hingga akhirnya, saya habiskan 2 semester pertama dengan rajin. Selama itu juga saya mengikuti kegiatan pers, majalah Teknik Sipil SIGMA sebagai jurnalis foto selama 2 periode. Selain itu, saya juga mengikuti kegiatan volunteer di luar kampus dengan lembaga sosial anak bernama Dream House di bagian fundraising. Menuju semester 3, saya mencari kesibukan lain yang menjadi salah satu passion saya, yaitu tentor les privat Fisika dan Matematika. Oleh karena ketidakcocokan jam kerja dan saat itu saya masih duduk di semester awal (sedang padat-padatnya kuliah), saya hanya bertahan 1-2 bulan saja.

Saya merasakan perbedaan kesibukan ketika menyambi kegiatan di luar perkuliahan. Saya sempat mendaftarkan diri untuk mengikuti kepanitiaan untuk acara kampus, namun tidak lolos. Saya merasa kalau saya membutuhkan kehidupan sosial, sehingga saya terus mencari kesibukan di luar kampus. Namun, kesibukan yang saya cari adalah kesibukan yang produktif. Setelah itu pada semester 4 dan 5, saya beranikan diri untuk kerja part time di Origins Amplaz. Bagi saya, itu adalah tantangan yang menarik untuk kuliah sambil kerja, tidak perlu minta uang Ibu lagi kalau mau jajan.

Tantangan terbesar adalah apakah saya bisa mempertahankan nilai, apakah bisa me-manage waktu dengan baik, dan lain-lain. Selama setahun saya bekerja di sana, setiap hari dengan kesibukan pagi kuliah lalu sore kerja part time. Saya menyempatkan diri juga ketika ambil cuti kerja part time untuk kembali menjadi volunteer event anak-anak di halaman luar JEC. Saya ingat, saat itu bulan Desember. Seorang bapak-bapak yang tidak terlalu tua usianya berbincang-bincang dengan saya kurang lebih selama satu jam. Beliau sangat banyak memotivasi saya dan menyemangati saya. Satu kalimat yang membekas di ingatan saya sampai hari ini, “Kuliah sambil kerja itu tidak apa-apa, tapi bagaimana caranya kamu bisa menyelesaikan semua kegiatan kamu tanpa menelantarkan salah satunya, kuliah 90% kopi 10%”. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk resign karena tidak ada lagi jam kosong di luar kuliah. Saya merasa sudah cukup bekerja dan saya pun merasa kurang aktif di kampus sendiri.

Selama setahun sambil kerja part time, nilai saya turun cukup drastis. Hingga semester 6, saya perbaiki lagi dan menata kembali. Pada masa itu, tiba-tiba perekonomian keluarga menjadi jatuh karena hilang komunikasi antara Ibu dengan saya. Tanpa saya ketahui, tiba-tiba saja beliau menginvestasikan uang yang cukup besar untuk modal usaha, namun tidak berbuah sama sekali. Jujur, saya kecewa karena di sini saya tidak mendapatkan adanya peran seorang kakak. Banyak orang berkata seharusnya kakak memiliki peran dominan dalam keluarga, apalagi kakak laki-laki.

Saya bersyukur atas setiap kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Ketika saya jenuh dan tidak tahan akan kondisi keluarga saya, saya masih bisa menempatkan diri saya dengan baik. Saya tidak jatuh pada pergaulan bebas dan pergaulan negatif lainnya yang menjurus untuk anak-anak broken home. Selalu teringat pada ayat emas Mazmur 134:19, bahwa “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya”.

Pembayaran kuliah menjadi masalah besar, saya sampai meminjam uang saudara dan ditambah dengan tabungan hasil kerja part time. Belum lagi untuk biaya KKN, kaos, PDL, iuran mingguan, serta biaya tidak terprediksi lainnya. Belum lagi pengeluaran untuk tugas-tugas besar, servis printer, dan lain-lain. Bersyukur akhirnya ada saudara Ibu yang membantu membiayai kebutuhan kuliah saya. Saya sangat berterima kasih karena saya sangat terbantu, walau kadang saya merasa seperti “berhutang”. Yang saya pikirkan saat ini adalah bagaimana agar tidak bergantung dan merepotkan orang lain lagi.

Menuju semester 7 ini, saya ingin cepat-cepat menyelesaikan studi dan memperbanyak belajar serta pengalaman, cepat lulus, dan bekerja untuk memperbaiki kualitas hidup keluarga kecil saya. Entah bagaimana dengan kakak saya, yang pasti saya tidak mau berharap banyak padanya. Saya hanya mendoakan semoga dia menemukan jati dirinya kembali. Saya ingin membahagiakan ibu saya di usia senjanya nanti, tidak ingin membuatnya banyak pikiran, karena hanya tinggal kakak saya dan beliau saja yang saya punya. Dan ketika saya berhasil, saya ingin membantu anak-anak yang kesulitan biaya pendidikan seperti saya, seperti anak-anak di Dream House, dan anak-anak broken home. Saya sangat berterima kasih untuk KAMAJAYA Scholarship karena telah membantu saya dalam proses studi S1 saya di sini.

Dokumentasi KKN Ketapang.
Pengujian hidrometer (salah satu pengujian pada tanah).
Pengujian hidrometer (salah satu pengujian pada tanah).

1 Comment

  • Ladrang

    Reply 22 October 2019 00:27

    Teruslah berjuang Nak.
    Waktu Tuhan pasti yang terbaik.
    Tekun dan hayati serta yakini semua Firman Tuhan dalam Al Kitab.
    Jadilah anak terang.

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA