KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Wahyu Candra Buana

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Wahyu Candra Buana

Wahyu Candra Buana

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

18 November 1996

Klaten

Fakultas Teknologi Industri Prodi Teknik Informatika semester 5 (Desember 2019)

Wahyu Candra Buana

Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri UAJY Prodi Teknik Informatika

Si Bulan dari Klaten

Pada tanggal 18 November 1996 di Sidoarjo, lahirlah seorang anak laki-laki. Ia lahir pada saat malam hari, di mana bulan sedang bersinar dengan terang, sehingga anak ini diberi nama Wahyu Candra Buana. Wahyu artinya anugerah, Candra artinya bulan, dan Buana artinya bumi. Ia diberi nama ini agar kelak ia dapat menjadi cahaya yang menerangi kegelapan layaknya bulan yang menerangi bumi, dan anak itu adalah saya. Sekarang, saya berumur 23 tahun. Saya merupakan anak kedua sekaligus anak laki-laki sendiri dari tiga bersaudara. Kakak saya berumur 25 tahun, saat ini sedang kuliah semester akhir Strata 1 Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, sedangkan adik saya berumur 18 tahun dan sekarang baru masuk kuliah Diploma 3 Jurusan Keperawatan. Kami semua kuliah karena ini merupakan cita-cita dari ibu saya.

Sidoarjo merupakan tempat pertama saya dibesarkan. Ibu saya bekerja sebagai ibu rumah tangga dan ayah saya bekerja sebagai buruh pabrik. Saya memiliki seorang kakak perempuan berumur 2 tahun. Pada saat itu saya masih berumur 1 bulan. Waktu itu, keluarga saya tinggal di sebuah rumah kontrakan. Rumah inilah tempat pertama belajar mengenal kehidupan.

Tiga tahun kemudian, kedua orang tua saya memutuskan untuk pindah kembali ke tempat asal ayah saya dilahirkan, yaitu di Banyuwangi. Pada saat pindah, orang tua saya berkeinginan menjadi pengepul barang bekas, tetapi Tuhan menghendaki hal lain. Di sana, ibu saya berjualan di kantin sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Genteng, dan ayah saya bekerja sebagai guru Matematika di SMP tersebut. Pada waktu itu, kakak saya sudah mulai masuk Sekolah Dasar (SD), dan saya masih berumur tiga tahun.

Pada suatu hari, ayah saya mengalami kecelakaan motor dan mengalami gegar otak. Di sinilah, ayah saya mengalami kehilangan memori sementara. Pada saat itu, kondisi keuangan keluarga kami mulai mengalami penurunan. Setiap hari ibu saya bekerja untuk membayar biaya pengobatan ayah saya. Untungnya pada waktu itu, banyak saudara dari ayah saya yang membantu kami. Tetapi setelah sembuh, ayah saya menjadi orang yang pemarah. Keluarga yang dulunya harmonis menjadi hilang.

Tiga tahun kemudian, ayah dan ibu saya memutuskan untuk berpisah. Setahun sebelum berpisah, waktu itu adik perempuan saya baru saja lahir. Hal yang membuat berpisah yaitu karena adanya orang ketiga dan ayah saya yang menjadi pemarah. Setelah berpisah, saya dan kedua saudara saya ikut dengan Ibu ke rumah orang tua di Klaten. Setelah sampai di Klaten, ibu saya ingin lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Ibu saya mulai menjadi aktivis gereja dan mendirikan Sekolah Minggu di gereja bagi anak-anak dan remaja. Sampai saat ini, keluarga saya masih menjadi pelayan gereja. Perekonomian keluarga kami semakin terpuruk, kami hanya bergantung kepada Kakek dan Nenek untuk kehidupan sehari-hari. Tetapi, ibu saya merupakan wanita yang tangguh, sekarang ia bekerja sebagai guru Taman Kanak-Kanak (TK) dan sorenya membuka les membaca.

Tetapi penghasilan dari ibu dan nenek-kakek saya tidak mencukupi untuk membayar kuliah, karena nenek dan kakek saya menanggung 7 orang anggota keluarga (keluarga Ibu dan keluarga adik ibu saya). Untuk menghidupi keseharian, nenek dan kakek saya berjualan soto, sedangkan ibu saya menjadi guru Taman Kanak-Kanak (TK) dan sorenya membuka les membaca, sedangkan om saya bekerja serabutan. Jadi, keluarga kami untuk hidup bergantung dari berjulan soto ini. Kakek dan nenek saya sudah berumur lebih dari 70 tahun. Pada saat saya libur atau pun tidak kuliah, saya terkadang membantu berjulan soto.

Saya sempat bekerja selama 2,5 tahun di PT Torabika Eka Semesta sebagai Quality Control (QC) Field dan menunda rencana untuk kuliah di tahun 2014. Saya bekerja agar dapat membantu biaya masuk kuliah, dan pada saat itu menunggu kakak saya selesai kuliah agar biaya kuliah tidak bertabrakan dengan kakak saya. Saya juga sempat bekerja di PT Larissa Anugerah Sejahtera sebagai QC dan analis selama tiga bulan untuk menunggu masuk kuliah di tahun 2017.

Saya tinggal di Bendan, Manisrenggo, Klaten di rumah nenek saya. Tempatnya merupakan kawasan pedesaan yang sedang berkembang yang letaknya sekitar 17 km dari puncak Gunung Merapi. Rumah saya merupakan perbatasan antara Kota Klaten dan Kabupaten Sleman. Tempat ini banyak lewat truk penambang pasir. Perjalanan dari rumah ke kampus sekitar 45 menit. Mayoritas penduduk di sini adalah petani, pedagang, dan buruh. Karakteristik masyarakatnya seperti masyarakat pedesaan pada umumnya.

Kegiatan mahasiswa yang pernah saya ikuti adalah menjadi tentor Kelompok Studi Linux (KSL) dan menjadi panitia usaha dana di acara Informatics Festival yang merupakan acara tahunan Prodi Teknik Informatika. Untuk kegiatan di luar kuliah, saya menjadi anggota pelayanan ibadah di Gereja Kristen Jawa Manisrenggo dan ikut menjadi anggota Komisi Pemuda dan Remaja. Untuk kegiatan pemuda di desa dulu saya pernah ikut, tetapi keluarga melarang karena pergaulan pemuda di desa kurang baik. Sebagian pemuda suka mabuk-mabukan, sehingga keluarga melarang saya. Untuk mengatur waktu, terkadang saya cukup kewalahan. Jadi terkadang saya mengorbankan salah satu dari kegiatan tersebut. Tetapi jika bisa hadir, maka saya akan hadir.

Saya memilih Progam Studi Teknik Informatika karena prospek kerja di bidang teknologi yang semakin berkembang. Sekarang sebagian besar pekerjaan membutuhkan Teknologi Informasi, sehingga peluang lapangan pekerjaan cukup besar. Saya di Teknik Informatika belajar melakukan pemrograman. Sampai sejauh ini, saya belum mengalami kesulitan karena progam studi ini sesuai dengan passion saya. Menjadi seorang programmer dan menjadi dosen merupakan mimpi saya. Saya juga ingin belajar menjadi seorang pengusaha. Usaha yang saya lakukan yaitu jika ada waktu luang saya belajar berbagai macam bahasa pemrogaman agar dapat menunjang dalam perkuliahan, rajin belajar, dan tak lupa untuk berdoa.

Pengalaman hidup saya yang berkesan adalah saya dulu pernah mendaftar SMK Negeri 2 Klaten di jurusan permesinan dan tidak diterima, sehingga saya masuk di SMK SMTI Yogyakarta jurusan kimia analis. Dengan sekolah di SMTI, saya lalu mendapat kerja di perusahaan kopi yang cukup terkenal di Tangerang, PT Torabika Eka Semesta, yang merupakan bagian dari Mayora Grup. Lalu setelah mengundurkan diri, saya mulai mencari universitas untuk kuliah. Pertama, saya mencoba mendaftar di Universitas Sanata Dharma Jurusan Teknik Informatika (TI), tetapi saya tidak diterima. Kemudian, saya mencoba mendaftar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan diterima. Ternyata setelah saya melihat peringkat Akreditasi di UAJY untuk Jurusan Teknik Informatika adalah A, lebih tinggi dari Universitas Sanata Dharma yang masih B. Saat menunggu masuk kuliah, saya sempat melamar kerja di PT Larissa Anugerah Sejahtera di Jalan Kaliurang, Yogyakarta, dan diterima. Dari sinilah, saya selalu merasa Tuhan selalu mempunyai rencana terbaik bagi saya. Jadi jika mengalami kegagalan jangan mudah putus asa, Tuhan pasti sudah punya rencana yang paling baik bagi kita.

Dukungan yang dapat saya berikan untuk KAMAJAYA Scholarship adalah membantu dalam mempromosikan beasiswa ini lewat web. Dan jika ada kegiatan dari KAMAJAYA Scholarship, saya akan membantu membagikan infonya melalui media sosial. Rencana saya untuk Beasiswa KAMAJAYA di masa depan yaitu saya dapat ambil bagian dalam mengembangkan beasiswa ini seperti menjadi donatur maupun pengurus. Semoga nantinya, Beasiswa KAMAJAYA ini dapat terus berkembang dan menjadi semakin baik.

Pelayanan di gereja.
Bersama Ibu, Kakek, dan Nenek.
Praktikum pemrograman.
Di Lab Komputasi Dasar, Kampus 3.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA