KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Yohanes Kuncoro Isprihan Jati

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Yohanes Kuncoro Isprihan Jati

Yohanes Kuncoro Isprihan Jati

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

5 November 1999

Yogyakarta

Fakultas Teknik Prodi Teknik Sipil semester 6 (Januari 2020)

Yohanes Kuncoro Isprihan Jati

Mahasiswa Fakultas Teknik UAJY Prodi Teknik Sipil

Keluargaku Semangatku

Namaku Yohanes Kuncoro Isprihan Jati, lahir di Sleman, 5 November 1999. Di desa tempatku tinggal, mereka memanggilku “Kuncung”, karena dulu waktu kecil aku sering potong rambut model kuncung. Aku punya banyak teman sejak dulu dan sampai sekarang masih erat dengan panggilan itu kalau di desa. Saat di SMP-SMA, teman sekolah memberiku nama “Kunthet”. Kunthet itu dalam bahasa Jawa artinya kecil dan itu cocok dengan ukuran tubuhku yang kecil saat itu. Namun hingga sekarang, kalau bertemu mereka, mereka masih memanggilku “Kunthet”. Aku senang mereka memberiku nama itu, bukan berarti mereka memncemoohku, namun karena mereka sayang dan perhatian terhadapku.

Sejak aku berumur 3 bulan, aku sudah ditinggal bapak dan ibuku pergi ke Jakarta untuk bekerja. Kata Nenek, aku cuma minum ASI selama 2 bulan. Karena orang tuaku bekerja di Jakarta, maka aku dititipkan ke Kakek dan Nenek. Waktu pabrik tempat orang tuaku bekerja kebakaran, mereka kemudian pulang ke Yogyakarta. Namun sampai saat ini, aku justru tinggal dengan Kakek dan Nenek. Aku sudah terbiasa dan nyaman tinggal bersama Kakek dan Nenek, karena aku juga sekalian menjaga mereka. Yang jelas, pesan orang tuaku supaya aku jangan nakal, menurut dengan Kakek dan Nenek, dan selalu membantu Kakek dan Nenek. Setiap minggu atau kalau libur, aku juga sering ke rumah orang tuaku karena kangen dengan adikku.

Jarak rumah Kakek dan Nenek ke rumah orang tuaku sekitar 4 km, jadi tidak begitu jauh. Orang tuaku bekerja serabutan. Bapakku bekerja sebagai buruh bangunan dan ibuku membuat “besek” jika ada yang pesan. Aku punya adik perempuan namanya Kuncari. Dia tinggal bersama orang tuaku. Kakek nenekku punya usaha kerajinan batu bata. Penghasilan dari batu bata memang tidak banyak, namun setidaknya cukup untuk kami bertiga makan. Setiap hari aku sudah sering melihat kakek nenekku bercucuran keringat untuk bekerja demi kami semua. Untuk itu, aku juga harus tahu diri. Sebagai cucu, aku juga sering membantu mereka bekerja. Misalnya kalau ada kuliah sesi 2, maka paginya aku bangun jam 5 untuk membantu mereka membuat batu bata terlebih dulu. Kalau sudah jam 8 lebih, baru aku siap-siap untuk berangkat kuliah. Kalau libur atau senggang, aku bantu kerja lagi, setidaknya aku harus selalu membantu mereka.

Gaji orang tuaku tidak menentu. Gaji bapakku per hari hanya Rp 50.000,00 dan hari Minggu libur, itu pun kalau ada panggilan kerja. Tapi aku agak lega, karena sejak SMP-SMA aku selalu mendapatkan beasiswa. Sedangkan penghasilan kakek dan nenekku juga tidak tentu. Batu bata per 1.000 buah dihargai Rp 300.000,00, sedangkan untuk menghasilkan 1.000 batu bata butuh waktu pengeringan 5 hari di musim kemarau, tetapi di musim hujan butuh waktu lebih lama, yaitu 10 hari. Jadi, tergantung cuaca.

Pada saat malam hari, saat di mana aku sering ngobrol dengan Nenek, beliau sering bilang begini, “Awak dewe iki uwong ora due, dadio bocah sek pinter, lan simbah dongakke ben koe kui sukses.” Sampai saat ini, kata-kata itu menjadi motivasi bagiku untuk membahagiakan keluargaku. Keluargaku adalah keluarga Katholik. Jadi dari kecil aku sudah diikutkan oleh Nenek untuk mengikuti kegiatan gereja, misal PIA, PIR, OMK, PPA, koor wilayah, dan lain sebagainya.

Aku tinggal di desa, secara geografis kondisinya di antara bukit-bukit, tepatnya di Desa Kleben, Sidorejo, Godean, Sleman, Yogyakarta. Budaya dan sosial di desaku masih sangat tradisional, kami menjunjung tinggi sopan-santun dan kebersamaan. Kegiatan desa yang aku ikuti bermacam-macam. Yang jelas gotong royong, kerja bakti bersih desa, kenduri, itu sudah hal biasa bagi warga Kleben. Di sini, aku menjadi pribadi yang tertata. Maksudnya, aku lebih tahu kapan saat untuk berbicara, sopan santun dan tata krama yang harus dilakukan saat berada di tengah masyarakat, belajar unggah-ungguh yang benar melewati orang-orang yang lebih tua dariku. Warga di desaku saling bertoleransi, kami saling menjaga saat umat Islam merayakan Idul Fitri, dan sebaliknya.

Sekarang, aku sudah kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sebuah kebanggaan bisa menuntut ilmu di sini. Di bangku kuliah ini, aku mengikuti Komunitas Paskawijaya dan UKM Volley. Dari kecil, aku sudah suka seni budaya Jawa dan olahraga bola voli untuk menjaga supaya badanku tetap sehat di tengah kesibukan kuliah. Di lingkungan masyarakat, aku mengikuti OMK Wilayah St. Maria dan St. Yosep Kleben, Karang Taruna Pelita Bangsa, serta Pemuda RT. Aku mengatur waktu belajarku dan waktu organisasiku dengan baik supaya keduanya dapat berjalan dengan baik.

Aku kuliah di Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Angkatan 2018. Aku memilih Program Studi Teknik Sipil karena Program Studi Teknik Sipil UAJY terakreditasi A. Aku suka bekerja di luar ruangan. Aku memilih Teknik Sipil karena dari sejak kecil aku bercita-cita untuk mengembangkan pembangunan Indonesia.

Kontribusi yang dapat aku berikan untuk KAMAJAYA Scholarship adalah dengan cara memberikan informasi tentang Beasiswa KAMAJAYA dan mempromosikannya melalui media sosial atau melalui orang-orang yang aku temui. Aku siap memberikan waktu dan tenagaku untuk membantu apa yang dibutuhkan KAMAJAYA Scholarship dari saya. Yang aku harapkan untuk masa depanku tentunya adalah membanggakan keluargaku terutama orang tuaku dan kakek nenekku. Aku ingin mereka bahagia melihat aku menjadi seorang Insinyur yang sukses. Semoga dengan bantuan semangat, doa, dan semua usaha yang sudah mereka berikan, aku harus bisa menjadi seperti yang mereka harapkan.

Praktek menggunakan Theodolite (Praktikum Pengukuran dan Pemetaan di Bumi Perkemahan Babarsari).
Mengerjakan Tugas Ilmu Ukur Tanah.
Melakukan Praktikum Pengukuran dan Pemetaan di Selokan Mataram.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA