Kisah: Epilog

Tidak terasa selama 5,5 tahun saya menjalani masa perkuliahan yang tentunya tidaklah mudah. Secara pribadi, saya juga mempunyai keraguan untuk memulai langkah keluar dari rumah dan memilih merantau ke Kota Jogja. Dari awal saya menginjakkan kaki di kampus Universitas Atma Jaya Yogyakarta di Babarsari, saya sudah mulai ciut dan kadang pesimis akan nasib keberlangsungan kuliah saya. Saya membuat pilihan yang cukup nekat mengingat posisi saya yang banyak berkekurangan pada kala saya mulai merantau.

Bersama ibu dan adik.

Saya seorang anak sulung dari keluarga broken home. Saya memiliki adik perempuan yang sekaligus menjadi anak bungsu dari keluarga kami. Tanggung jawab saya sangat besar untuk menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan ayah saya. Pada saat pendaftaran di UAJY, masih terdapat nama ayah saya di kartu keluarga yang mengurungkan niat saya untuk mendaftar melalui program bidikmisi. Setelah dinyatakan lulus melalui seleksi program reguler, titik awal masalah perkuliahan saya bermulai.

Ayah saya sempat menjanjikan untuk membiayai kuliah saya. Namun sejak periode pembayaran pertama, kerap kali ayah saya hanya mengirimkan seadanya sehingga membuat tumpukan denda dan tagihan yang memberatkan saya pada proses pembayaran perkuliahan selanjutnya. Hal itulah yang sempat membuat saya memutuskan untuk cuti kuliah pada semester 5 dan memilih bekerja serabutan. Tingginya denda dan beban studi membuat saya tidak fokus lagi menjalani kuliah selama 2 tahun pertama. Setelah cuti, saya mendapatkan banyak pengalaman dan mulai kembali membangun kepercayaan diri untuk kembali melanjutkan kuliah. Saya sangat bersemangat menjalani kuliah dan mulai aktif mengejar ketertinggalan saya dari teman seangkatan. Saya belajar lebih giat, saya mulai memperbaiki IPK saya setiap semester, dan aktif dalam kegiatan lomba dan workshop untuk berjejaring dengan beragam keilmuan. Dengan bekal tersebut, akhirnya saya mulai mendaftar di beberapa beasiswa dan syukurnya mendapat beberapa bantuan untuk meringankan biaya studi saya yang sempat tertumpuk.

Kemudian, saya melihat pengumuman KAMAJAYA Scholarship dan mendaftar dengan rasa optimis. Saya dinyatakan gagal masuk ke dalam list anak-anak yang mendapatkan beasiswa, namun setelah pengumuman Kak Hana, sekretaris KAMAJAYA mendatangi saya dan berkata untuk tetap optimis karena masih ada harapan untuk masuk ke dalam list penerima beasiswa. Pada saat pengumuman dibuat, beberapa mahasiswa (termasuk saya) masih dalam proses menunggu konfirmasi ke donatur/sponsor. Kak Hana memberi semangat bahwa akan ada pihak sponsor yang tertarik dengan saya dan bersedia membantu. Benar saja, seminggu kemudian saya dihubungi dan segera melanjutkan proses daftar ulang sebagai penerima beasiswa. Satelah menyelesaikan studi, saya baru diberitahu siapa donatur/sponsor saya. Kepada beliau saya sungguh mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kebaikan dan kesediaan beliau untuk membantu saya menyelesaikan kuliah.

Kurang lebih 2 tahun saya dibantu oleh Beasiswa KAMAJAYA. Saya sangat terbantu dan termotivasi dalam meningkatkan prestasi akademik. Beberapa kegiatan dan perlombaan skala nasional hingga internasional saya ikuti untuk meningkatkan kualitas diri. Berkat beasiswa ini juga, saya dapat meringankan beban ibu saya untuk membantu adik saya membayar biaya sekolahnya. Sungguh besar dampak yang saya rasakan, semoga beasiswa ini tumbuh semakin besar lagi.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih atas segala bantuan yang diberikan para donatur dan pengurus KAMAJAYA Scholarship. Jika saya tidak dapat mengucapkan namanya satu per satu, saya memohon maaf. Mengingat beasiswa ini dibangun atas dasar kebersamaan, saya juga berharap kedepannya akan lebih banyak alumni yang ikut andil membantu tumbuh-kembangnya KAMAJAYA Scholarship.

Yogyakarta, 29 Februari 2020
Rifandi Febrianto
Penerima Beasiswa KAMAJAYA
Alumni Arsitektur UAJY Angkatan 2014

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA