KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kartini di Tengah Wabah

Kartini di Tengah Wabah

“Nduk, kapan manthuk? (Kapan pulang nak)”, suara Opung yang terdengar pada saat sedang kuliah di luar provinsi.

Bulan Kartini merupakan bulan yang sangat berarti untuk saya dan perempuan-perempuan di Indonesia. Bulan yang membuat perempuan Indonesia memiliki kemampuan, kesetaraan dan pengakuan dari dunia. Pengakuan terlihat dari kata “perempuan”. Perempuan berasal dari kata empu yang berarti tuan atau orang yang mahir atau berkuasa. Dengan arti kata yang singkat tersebut telah membuktikan bahwa perempuan mempunyai peran yang sangat penting dalam setiap kehidupan. Dahulu, Ibu Raden Ajeng Kartini harus berjuang keras agar dia dapat bersekolah, mengutarakan pemikirannya namun dengan resiko nyawanya sendiri. Dengan kegigihan dan kerja kerasnya sehingga dapat mencapai kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

Lalu apakah ada bukti nyata sosok seorang Kartini dalam kehidupan saya saat ini? Tentu ada. Bahkan jika harus dituliskan, begitu banyak cerita bukti nyata sosok seorang Kartini dalam kehidupan saya. Sosok seorang Kartini dalam kehidupan saya adalah Nenek, namun saya memanggilnya Opung Boru. Opung Boru adalah orang tua saya di rumah yang sangat pandai mengatur rumah tangga dan mencukupkan keuangan kami yang selalu cukup bagi kami untuk makan. Saya tumbuh dan berkembang bersama Opung dari umur 5 bulan, hal ini terjadi karena Mama dan Papa harus bekerja di luar provinsi. Saat mendidik saya, Opung tidak pernah memaksa saya untuk belajar. Namun saya dapat membaca dan menulis itu karena didikan beliau. Beberapa pesan dari beliau yang selalu diberikan kepada saya adalah “Jangan lupa untuk selalu berdoa, jangan mengeluh, jangan lupa bersyukur, jangan menyerah, dan saling memaafkan” dan masih banyak lagi beberapa pesan beliau yang selalu saya dengar. Namun yang paling membuat saya harus mencontoh beliau adalah beliau yang selalu bangun pagi, memberikan waktu saat teduh untuk bertemu Tuhan dan setelah itu memasak untuk kami makan dalam 1 hari. Saya mendengar dalam doanya, beliau selalu mendoakan semua anak, cucu dan saudara kami agar dapat selamat saat berada di tengah wabah yang sedang melanda Indonesia saat ini. Di tengah wabah ini, beliau mengajarkan saya untuk bersyukur dengan keadaan kami saat ini. Kami masih diberikan kesempatan untuk makan, tinggal di rumah dalam keadaan sehat. Di luar sana, masih banyak sekali orang-orang yang kurang beruntung seperti kami. Kami harus mencukupkan kebutuhan kami dengan makan seadanya namun selalu dengan ucapan syukur. Bagi saya, Opung adalah Kartini terbaik yang ada dalam kehidupan saya hingga saya dewasa saat ini. Saya sangat berharap dapat melihat senyumnya setiap hari dan beliau dapat melihat saya wisuda nanti.

Kediri, 20 April 2020
Agnes Diah Puspitasari
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAJY Angkatan 2017

Sumber Gambar:
– https://banjarmasin.tribunnews.com/2020/04/19/kata-kata-mutiara-peringatan-hari-kartini-2020-dilengkapi-ucapan-dalam-bahasa-asing
– https://republika.co.id/berita/q7rp32354/pb-hmi-nilai-wabah-corona-momentum-refleksi-sosial-ekonomi

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA