KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2020/2021  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Clara Sidauruk

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Clara Sidauruk

Clara Sidauruk

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

30 Januari 2000

Pematangsiantar

Fakultas Teknologi Industri Prodi Sistem Informasi semester 7 (Agustus 2020)

Clara Sidauruk

Mahasiswi Fakultas Teknologi Industri UAJY Prodi Sistem Informasi

Tetap Berusaha meskipun Diremehkan

Nama saya Clara Sidauruk. Biasa dipanggil Clara. Saya lahir dan dibesarkan di Pematangsiantar pada tanggal 30 Januari 2000. Saya merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Selain Clara, saya juga sering dipanggil oleh teman dekat saya dengan sebutan “Sule” serta dipanggil “Lala” oleh keluarga saya. Alasan yang menjadikan saya dipanggil Sule bermula ketika saya berada di sekolah dasar kelas V. Teman saya secara spontan menjuluki saya Sule dikarenakan warna rambut saya yang menyerupai warna rambut dari komedian Sule. Awalnya saya mengira hal tersebut hanya akan berlaku ketika saya berada di sekolah dasar. Namun, beberapa dari teman saya dari sekolah dasar ternyata memilih melanjutkan ke sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi yang sama dengan saya sehingga julukan tersebut masih berlaku hingga saat ini walau bisa dibilang warna rambut saya sudah tidak semirip warna rambut Sule. Mengenai diri saya sendiri, saya merupakan pribadi yang family person di mana hal yang terutama bagi saya ialah keluarga saya. Saya juga pemalu, terutama ketika berkenalan dengan orang baru, tidak menyukai menjadi pusat perhatian, plin-plan ketika membuat keputusan, sensitif dan pelupa akan hal-hal kecil seperti kunci kost.

Sebagai Marshall dalam acara Mandiri Jogja Marathon.

Berbicara mengenai anggota keluarga saya, saya memiliki nenek dari ayah yang ikut tinggal dengan kami setelah kakek dari ayah meninggal pada tahun 2009. Orangtua saya bernama Ronaldy Sidauruk dan Rosmida Ambarita. Ayah memiliki sifat yang friendly, bertanggung jawab dan keras terutama mengenai pendidikan dan pelayanan di ibadah. Sedangkan ibu merupakan pribadi yang lembut dan sabar. Saya memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan yang memiliki selisih umur yang tidak terlalu jauh. Adik saya yang pertama (laki-laki) saat ini berumur 17 tahun dan berada pada kelas XII sebuah SMA negeri. Adik saya yang kedua (laki-laki) saat ini berumur 15 tahun dan berada pada kelas X di SMA swasta dikarenakan ia tidak memiliki nilai yang cukup ketika ingin masuk sekolah negeri. Adik saya yang paling kecil adalah seorang perempuan yang berumur 12 tahun dan berada pada kelas VII sebuah SMP negeri di daerah asal saya.

Di Pematangsiantar, saya tinggal dengan keluarga besar ayah saya yang dapat dikatakan kurang harmonis dikarenakan dari enam bersaudara, pihak laki-laki memiliki tingkat ekonomi yang berada di tingkat bawah. Hal tersebut menyebabkan adanya pandangan sebelah mata dari pihak perempuan yang berdampak kepada keturunan mereka. Seperti contoh saya dan orang tua saya yang dianggap remeh oleh keluarga saya sendiri. Bahkan, hal yang paling membekas ialah ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Yogyakarta terutama di perguruan tinggi swasta. Mereka seperti memiliki pandangan bahwa kedua orang tua saya tidak akan mampu untuk membayar segala keperluan saya jika saya berada di kota ini, hingga bahkan mereka tidak memberikan uang sepeser pun ketika saya akan mengikuti tes masuk di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Tapi meskipun demikian, saya bersyukur kedua orang tua saya tidak pernah memaksakan kehendak mereka terhadap saya dan adik-adik saya. Mereka membebaskan pilihan yang kami pilih ketika berurusan dengan pendidikan walaupun mereka harus berhutang di mana-mana. Oleh karena itu, saya memilih untuk melanjutkan mimpi saya untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta.

Tutor Kelompok Studi Application and Database.

Jika ditanya pekerjaan orang tua, dapat dikatakan pekerjaan orang tua saya selalu berubah-ubah dari masa ke masa, tergantung dengan peluang bisnis yang mereka miliki. Seperti halnya ketika saya masih di usia 5 tahun, ayah saya merupakan penjual minyak tanah yang diturunkan dari kakek saya dan ibu saya merupakan penjual pakaian. Pada saat itu, tingkat ekonomi keluarga saya dapat dikatakan berkecukupan dikarenakan minyak tanah yang menjadi salah satu kebutuhan memiliki peminat yang cukup banyak dilihat dari pembangunan rumah nenek saya yang saat ini saya dan orang tua saya tempati dan mobil yang kami miliki pada waktu itu. Tapi lama-kelamaan, minyak tanah tersebut digantikan dengan gas yang membuat masyarakat beralih dari minyak tanah ke gas. Mulai dari situ, tingkat ekonomi keluarga saya menurun perlahan-lahan. Hal tersebut terlihat ketika saya berada di sekolah menengah pertama di mana ketika setiap bulan saya selalu kesulitan membayar SPP.

Dalam acara Pengabdian Masyarakat di Gunung Kidul.

Setelah itu, ayah saya membuka usaha jasa rental mobil dengan menggunakan mobil yang kami miliki. Namun beberapa bulan setelah bisnis tersebut berjalan, ada kejadian di mana ketika mobil tersebut disewa dengan syarat lepas kunci. Pengguna yang menyewa mobil itu malah menggadaikan mobil tersebut tanpa sepengetahuan kedua orang tua saya. Kedua orang tua saya memilih untuk membawa masalah tersebut ke ranah hukum. Akan tetapi di sisi lain, kami menghabiskan banyak biaya untuk setiap persidangan dan uang inap mobil selama di kantor polisi yang menyebabkan kondisi ekonomi keluarga semakin susah. Mobil tersebut memang dapat kembali kepada kami, akan tetapi kami kekurangan uang dalam melanjutkan kredit mobil yang menyebabkan mobil tersebut ditarik oleh pihak penyedia di tahun berikutnya.

Setelah kasus tersebut, pekerjaan ayah saya sempat beralih menjadi debt collector yang berjalan hingga 1 tahun saja. Hal tersebut juga tidak dapat meningkatkan perekonomian kami dikarenakan uang yang didapatkan tidak berjalan lancar, dalam artian hanya mendapatkan uang ketika ada kasus yang memerlukan jasa debt collector saja. Setelah itu saya lupa di tahun berapa, orang tua saya membuka usaha isi ulang air minum di rumah. Sayangnya, usaha tersebut juga tidak berjalan lancar sehingga usaha kedua orang tua saya beralih ke toko kelontong dan ayah saya menjadi driver Gojek.

Dengan kondisi yang seperti itu, saya memilih untuk melanjutkan kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta di Program Studi Sistem Informasi. Selama masa perkuliahan, saya selalu berusaha untuk bisa mendapatkan beasiswa yang akan membantu saya selama menempuh pendidikan. Saya bersyukur dapat menjadi salah satu kandidat yang mendapatkan kesempatan untuk menerima Beasiswa KAMAJAYA. Semoga dengan adanya beasiswa ini saya dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik dan kelak mendapatkan pekerjaan yang baik juga.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA