KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2020/2021  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Pius Bagas Vando Kinesto

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Pius Bagas Vando Kinesto

Pius Bagas Vando Kinesto

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

26 Agustus 1999

Pringsewu

Fakultas Teknologi Industri Prodi Teknik Industri semester 7 (September 2020)

Pius Bagas Vando Kinesto

Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri UAJY Prodi Teknik Industri

Semangat Berjuang dan Mengasihi

Nama saya Pius Bagas Vando Kinesto, lahir pada 26 Agustus 1999, biasa dipanggil Vando. Saya lahir dan besar di sebuah kampung bernama Dadirejo, Waringinsari Timur, Kecamatan Adiluih, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Kampung transmigrasi dari Pulau Jawa yang memiliki keberagaman latar belakang daerah dan agama. Di kampung ini, saya belajar saling menghargai, toleransi, gotong royong dan eratnya persaudaraan senasib sepenanggungan. Mungkin semua itu dipantik oleh latar belakang kakek-nenek kami sebagai seorang transmigran dari luar pulau sehingga muncullah rasa senasib sepenanggungan yang mendasari gotong royong tersebut.

Saya dilahirkan dari buah cinta seorang ibu bernama Agnes Sri Lestari dan bapak AG. Sukisto. Saya lahir di tengah keluarga yang bahagia dan penuh cinta. Bapak adalah seorang tukang kayu yang bekerja keras untuk mencukupi keluarganya dan Ibu seorang ibu rumah tangga yang sangat setia mencintai keluarganya.

Ketika saya lahir, Bapak dan Ibu belum memiliki rumah sendiri, jadi kami tinggal di rumah Nenek dari Ibu. Sampai berumur 3 tahun, keluarga kami tinggal bersama Nenek. Selama 3 tahun, Bapak dan Ibu menabung dengan sistem arisan untuk membuat rumah. Akhirnya, kami memiliki rumah sendiri. Rumah dengan lantai tanah dan tanpa listrik. Ayah bekerja menjadi tukang kayu di perusahaan mebel milik temannya. Karena pendapatannya kecil, Ibu menjual gula merah di pasar, barang dagangan adalah milik orang lain dan ibu saya yang menjualkannya, hanya gula merah tidak ada yang lain.

Ketika saya umur 4 tahun, adik saya lahir. Seolah menjadi semangat bagi mereka, sedikit demi sedikit Bapak mulai menerima pesanan kusen di rumah sehingga keadaan ekonomi mulai membaik. Bapak mulai bisa mencicil sepetak pekarangan belakang rumah milik tetangga kami. Tiba saatnya saya lulus SD, saya melanjutkan ke SMP Xaverius Pringsewu (sekolah swasta Katholik) sesuai dengan arahan orangtua saya. Tentu bukan biaya yang sedikit untuk masuk ke SMP swasta mahal yang berlokasi di kota kabupaten. Tetapi orangtua selalu memberikan yang terbaik untuk saya. Dari hal itu, saya belajar dari mereka untuk selalu memberikan yang terbaik kepada orang yang disayangi. Oleh sebab itu, saya serius dalam belajar. Berlanjut ketika saya SMA, saya masuk ke SMA Xaverius Pringsewu. Alasan saya dimasukkan ke sekolah swasta Katholik adalah untuk mendukung perkembangan spiritual saya sebagai seorang remaja. Sekolah di desa waktu itu tidak ada guru agama Katholik, sehingga saya disekolahkan di kabupaten. Bapak adalah seorang ketua lingkungan saat itu, ia ingin saya maju.

Orangtua saya selalu memberikan yang terbaik untuk saya, tidak peduli harus seberapa keras mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan saya. Mereka mengajarkan nilai-nilai luhur yang harus dimiliki manusia seperti kejujuran, kerja keras, ketekunan, pantang menyerah dan saling menghargai. Pelajaran tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang jujur, pekerja keras, percaya diri, penyabar dan menghormati keberadaan orang lain. Hal tersebut berpengaruh di kehidupan saya sekarang ini, sehingga saya mudah beradaptasi di lingkungan sosial yang memiliki keanekaragaman, meskipun terkadang saya teledor dalam menjalankan nasehat dari orangtua

Salah satu hal terberat yang saya hadapi adalah ketika di akhir masa SMA. Rasa bimbang yang saya rasakan adalah apakah saya bisa kuliah. Masa-masa bimbang dimulai ketika sekolah mengadakan education fair. Tak berhenti di situ. Jika saya kuliah, bagaimanna biayanya, dan jurusan apa yang harus saya pilih? Tetapi, Bapak selalu meyakinkan saya untuk lanjut kuliah, padahal saya sangat paham keadaan ekonomi tidak memungkinkan untuk lanjut kuliah. Saya tidak ingin membebani orang tua saya dengan semua itu.

Seolah kekuatan Tuhan sungguh nyata dan memang sangat nyata, saat saya mengkomunikasikan bahwa saya ingin kuilah di Jogja, dengan tatapan wajah itu, Bapak menjawab silahkan. Tapi saya masih ragu, jika melihat keseharian Bapak dan Ibu yang bekerja sebagai tukang. Saya hampir mengurungkan niat saya untuk kuliah. Tapi mereka selalu menyemangati saya dan berkata dengan Bahasa Jawa, “Le, percoyo karo Gusti, Bapak Mamak nyekolahke koe tekan Jogja. Pasti ono dalan, percoyo wae supoyo koe iso maju pikiran, perbuatan, lan akhlakmu. Ayo Le maju.

Dari sana, saya membangkitkan semangat dan tidak akan menyia-nyiakan keringat dan perjuangan Bapak dan Ibu saya. Setelah melewati masa pertimbangan yang panjang, saya memutuskan untuk kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan mengambil Program Studi Teknik Industri. Saya mengambil jurusan itu dengan cita-cita suatu saat saya ingin membuat industri yang bisa membantu banyak orang dengan menciptakan lapangan pekerjaan.

Biaya yang sangat mahal, Bapak kaget melihat biayanya. Saya sempat ingin mundur dari pilihan saya ini karena posisi saya sudah diterima lewat jalur raport. Bapak dan Ibu mencoba melihat keyakinan saya terhadap yang saya pilih, saya dituntut mengkomunikasikan pilihan saya, kelebihannya bagaimana, keberlanjutannya bagaimana, dan kerjanya apa setelah lulus. Ya, Bapak memang selalu berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, ia tidak ingin salah langkah untuk anaknya.

Bapak dan Ibu menjual tanah pekarangan untuk biaya masuk kuliah saya. Saya syok ketika tahu hal itu. Sebesar ini pengorbanan untuk anaknya. Perasaan saya campur aduk. Karena satu sisi angan saya kuliah di Jogja tercapai, tetapi di lain sisi, saya melihat kenyataan Bapak dan Ibu yang menjual aset berharga yang dulu mereka beli dengan susah payah untuk saya. Saya harus lebih serius lagi dengan pendidikan saya.

Setelah melewati perjuangan yang cukup panjang, dari mulai awal kuliah sampai sekarang sudah melewati semester 6 sudah setengah perjalanan lebih untuk menuju ke kelulusan. Tugas-tugas kuliah pada awalnya cukup berat tetapi dapat dilewati. Pada semester ke-7 ini, saya mendapatkan Beasiswa KAMAJAYA Scholarship yang sangat membantu keberlangsungan kuliah saya. Saya sangat bersyukur atas bantuan ini, sehingga saya dapat melanjutkan kuliah saya dan menyelesaikannya dengan baik.

Selain berkuliah, saya juga bekerja sebagai student staff di Kantor Humas Sekretariat, dan protokol Universitas Atma Jaya. Di KHSP, saya membantu membuat desain konten media sosial, liputan webinar, membuat rilis, dan membuat majalah universitas. Berawal dari kecintaan saya akan seni, khususnya seni visual sedari kecil saya suka menggambar, di mana saja dengan apa saja. Hobi dari kecil tersebut membawa saya ke dunia desain. untuk menambah uang jajan saya, saya menjual jasa saya untuk melukis jaket teman-teman. Selain itu, saya juga membuat desain kaos untuk teman-teman saya yang memiliki brand.

Kegiatan lain yang saya sukai adalah mendaki gunung. Saya bersama teman-teman kampus melakukan pendakian untuk menghilangkan stress setelah kuliah. Kami menyisihkan uang untuk melakukan pendakian di gunung sekitaran Jawa Tengah setahun sekali. Mendaki gunung juga salah satu momen untuk melatih kesabaran dan rasa saling memperhatikan terhadap sesama. Mengingatkan saya akan kehidupan di desa.

Saya berharap, dengan semua kebaikan Tuhan yang sudah diberikan kepada saya, ke depan saya ingin bermanfaat bagi orang lain, dengan apa yang saya miliki saya membantu kepada penerima beasiswa yang selanjutnya. Hal ini adalah merupakan ingatan untuk saling bahu-membahu yang memupuk semangat persaudaraan layaknya kebersamaan di tempat saya berasal. Semangat ini selalu dipupuk dalam KAMAJAYA Scholarship di mana saya selaku penerima beasiswa juga diberikan tanggung jawab untuk menyalurkan kasih kepada orang lain.

Melukis untuk dekorasi acara fakultas.
Mendaki Gunung Merbabu.
Melaksanakan liputan webinar untuk KHSP.
Salah satu hasil lukisan "lidah api".

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA