KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2020/2021  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Selma Oktavia Widayat

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Selma Oktavia Widayat

Selma Oktavia Widayat

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

6 Oktober 2000

Pekalongan

Fakultas Teknologi Industri Prodi Teknik Industri semester 5 (Oktober 2020)

Selma Oktavia Widayat

Mahasiswi Fakultas Teknologi Industri UAJY Prodi Teknik Industri

Hadiah dari Surga

Nama saya Selma Oktavia Widayat. Saya biasa dipanggil Selma. Saya lahir di Pekalongan, tanggal 6 Oktober 2000. Mama saya berkata kepada saya sejak kecil bahwa Selma berarti “Dia yang diberkati Kristus”. Orang tua saya memang berharap supaya saya tidak hanya hidup diberkati, tetapi juga hidup memberi berkat untuk orang lain. Saya memiliki seorang adik laki-laki yang usianya selisih tiga tahun dengan saya. Tentu saja, uang yang dikeluarkan orang tua saya sangat ekstra untuk membiayai pendidikan kedua anaknya. Hal itu terjadi karena ketika saya akan memasuki SMA, adik saya juga akan memasuki SMP. Begitu pula saat saya akan kuliah, adik saya akan masuk SMA.

Ketika saya masuk lulus SMA dan akan memasuki jenjang kuliah, saya pernah berbohong kepada Papa saya. Saya berkata kepada beliau, “Pa, aku ga apa-apa ga usah kuliah. Aku kerja aja, bantu cari uang.” Kenapa saya berkata bohong? Saya adalah gadis yang memiliki banyak cita-cita. Bagaimanapun, saya sangat ingin menempuh jenjang pendidikan hingga S1. Namun, sebagai seorang anak yang sadar perekonomian keluarga, saya mengalahkan ego saya untuk kuliah. Beruntung orang tua saya mengerti dan mendukung cita-cita saya. Saya tetap diberi kesempatan untuk kuliah, yang berarti keluarga saya juga harus berkorban lebih banyak.

Papa saya adalah seorang karyawan bagian printing di salah satu pabrik tekstil di Pekalongan. Papa bekerja di sana dari umur beliau 19 tahun hingga saat ini. Tentu saja dengan rentang waktu bekerja selama itu, pasti Papa mengalami kenaikan gaji. Hingga saya kuliah, gaji Papa (puji Tuhan) sudah di atas UMR. Meskipun gaji Papa di atas UMR, bukan berarti kami merupakan golongan keluarga menengah ke atas. Gaji Papa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari dengan gaya hidup yang sederhana. Sisanya, mau tidak mau Papa berhutang ke perusahaan tempat beliau bekerja.

Saya dan keluarga tinggal di suatu perumahan yang sering terendam rob besar. Hal tersebut membuat keluarga kami terdesak untuk berhutang supaya bisa meninggikan rumah tempat kami tinggal. Biaya untuk meninggikan rumah tentu saja tidak murah bagi kami. Hingga saat ini, rumah kami masih terendam rob terutama jika musim hujan dan pasang naik air laut (rumah tempat saya tinggal di Pekalongan berjarak sekitar 2 km dari pantai).

Hutang Papa ke perusahaan dibayar secara dicicil dengan memotong gaji Papa per bulannya. Saat saya masuk kuliah, keluarga saya juga tidak mampu untuk membayar SPP sebesar kurang lebih 30 juta. Dengan sangat terpaksa, Papa mengajukan hutang lagi kepada perusahaan untuk biaya kuliah saya.

Awal saya kuliah, saya tertekan dengan kondisi perekonomian saya. Saya kuliah juga tidak tinggal di kost karena orang tua saya tidak mampu untuk membayar biaya kost. Saya dititipkan (menumpang) di rumah tante, kakak Papa saya, di Wedomartani. Di masa itu, saya juga sering menyalahkan diri saya sendiri. Di dalam hati saya sering berkata, “Selma, kenapa sih kamu nekad kuliah? Padahal mungkin jika kamu kerja, kondisi Mama, Papa, dan Adek bisa lebih baik dari sekarang.” Selama saya kuliah, keluarga saya benar-benar hidup sangat sederhana. Bahkan, mereka makan dengan lauk sayur yang diberi oleh tetangga. Hati saya sangat teriris ketika mengetahui hal tersebut. Terlebih lagi, saya mengetahui jika selama ini hutang Papa juga bertambah karena untuk membayar SPP pun Papa harus meminjam uang lagi kepada perusahaan.

Dengan kondisi perekonomian yang demikian, saya sadar bahwa saya harus mencari beasiswa. Namun, bagi saya untuk mencari beasiswa sedikit menghambat saya. Mengapa demikian? Salah satu syarat yang SELALU ADA di dalam pendaftaran beasiswa adalah Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Orang dengan gaji di atas UMR tidak bisa mendapatkan surat tersebut. Tentu saja surat tersebut bisa dimanipulasi. Namun, saya tidak mau menjadi pribadi yang demikian. Keluarga saya selalu mengajarkan kejujuran dalam hidup.

Saya sangat bersyukur karena ketika semester tiga kuliah (tahun 2019), saya melihat pengumuman Beasiswa KAMAJAYA. Saya mencoba melihat persyaratan yang tertera dan puji Tuhan SKTM bisa diganti dengan slip gaji orang tua yang resmi dari perusahaan. Saya pun mencoba mendaftar. Namun, saat itu, Tuhan mengizinkan saya untuk berproses lebih dalam lagi. Saya belum diterima Beasiswa KAMAJAYA waktu itu. Saya sedih saat itu, tetapi saya yakin hal tersebut adalah hal terbaik yang diberikan Tuhan untuk saya.

Saya tidak menyerah. Ketika saya berada di akhir semester empat (tahun 2020), saya mencoba mendaftar Beasiswa KAMAJAYA lagi. Saya sangat bersyukur karena saya akhirnya diberikan kepercayaan untuk memperoleh beasiswa ini. Ketika saya memberitahu Mama bahwa saya diterima Beasiswa KAMAJAYA, mata Mama berkaca-kaca. Beliau berkata bahwa sebenarnya saya tidak bisa melanjutkan lagi kuliah untuk semester lima karena keadaan ekonomi semakin memburuk akibat pandemi COVID-19. Intinya, sebenarnya saya tidak bisa melanjutkan kuliah. Namun, Beasiswa KAMAJAYA membantu saya untuk melanjutkan pendidikan. Mama sampai berkata bahwa Beasiswa KAMAJAYA adalah “hadiah dari surga” yang diberikan Tuhan untuk keluarga kami. Detik itu saya juga bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan membimbing dan menggerakkan hati para pengurus dan donatur KAMAJAYA Scholarship untuk memberikan kesempatan kepada saya untuk menerima beasiswa ini.

Saya teringat saat saya diwawancara, seorang Bapak bertanya kepada saya, “Selma, di essay kamu menulis bahwa kamu setelah lulus juga ingin gantian memberi donasi kepada KAMAJAYA Scholarship. Apakah hal tersebut hanyalah gimmick atau benar-benar dari hati kamu?”

Saya dengan mantab langsung menjawab, “Itu benar dari hati saya, Pak.”

Saya berani berkata demikian karena selama ini saya sadar betul bahwa banyak sekali orang, yang baik secara langsung maupun tidak langsung, berperan dalam kehidupan saya. Saya juga sudah terbiasa untuk memberi dalam kekurangan karena itulah hal yang diajarkan keluarga saya. Di Jogja, saya pernah memberi seluruh sisa uang saya kepada gereja (dialokasikan untuk memberi yang sangat membutuhkan). Saya menangis ketika memberi uang tersebut karena itu uang terakhir yang benar-benar saya miliki dan tabungan saya habis untuk membayar keperluan kuliah lainnya. Namun, saya yakin Tuhan selalu memelihara hidup saya. Benar saja. Mujizat Tuhan bekerja atas saya. Selama dua minggu saya hidup tidak kekurangan (masih bisa makan, minum, dan memenuhi kebutuhan kuliah) meski uang terakhir saya sudah habis. Jika sehebat itu kasih Tuhan Yesus dalam hidup saya, masak saya sebagai umat-Nya tidak bisa berbagi kasih kepada orang lain juga, begitu pikir saya.

Saya percaya bahwa KAMAJAYA Scholarship adalah sebuah keluarga yang Tuhan izinkan untuk masuk dalam kehidupan saya. Bagaimana pun, saya merasa bertanggungjawab untuk ikut berkontribusi dalam keluarga ini. Memang sekarang saya belum bisa berkontribusi dalam bentuk uang. Namun, saya masih bisa memberi waktu, tenaga, dan kemampuan saya untuk KAMAJAYA Scholarship. Saya selalu berharap agar KAMAJAYA Scholarship dapat terus memberkati orang-orang yang membutuhkan. Saya juga berharap melalui KAMAJAYA Scholarship, nama yang diberikan orang tua saya bukan sekadar nama, tapi saya berharap saya memang seorang pribadi yang diberkati Tuhan dan dapat memberi berkat juga bagi orang lain.

Saya saat menjadi panitia Inisiasi FTI UAJY 2019.
Saya saat sedang melakukan salah satu praktikum semester tiga di kampus.
Saya saat sedang melayani sebagai VJ (Video Jockey / semacam pemberi informasi) di GBI Agape Pekalongan bulan Juli 2020.
Saya saat sedang melakukan proses shooting untuk video informasi gereja.
Saya ketika melayani sebagai Service Management (semacam EO) di GMS Yogyakarta tahun 2019.

No Comments

Post a Comment

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA