KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Semua Akan Baik-Baik Saja

Semua Akan Baik-Baik Saja

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, saya sudah menyelesaikan satu semester lagi dalam kuliah. Ada yang berbeda dari semester ini, yaitu setengah semester kuliah normal (offline) dan setengah semesternya lagi kuliah secara daring karena wabah Covid-19. Selalu ada hikmah di balik musibah. Saya masih bisa pulang ke kampung halaman, di kala ada teman-teman lain yang tidak bisa pulang. Bisa bertemu dengan keluarga setelah tidak pulang selama kurang lebih satu setengah tahun. Masih bisa mengikuti perkuliahan secara daring, di kala ada yang kesulitan karena sulitnya akses internet dan fasilitas yang tidak memadai. Meskipun, tidak bisa melakukan aktivitas di luar rumah dengan bebas dan kegiatan yang sudah direncanakan terpaksa dibatalkan.

Sebagian besar semester ini saya habiskan di rumah, sangat jarang keluar rumah bila tidak ada kepentingan. Kendala yang saya temui selama kuliah daring dari rumah adalah koneksi internet dan listrik. Daerah saya sering mengalami pemadaman listrik dan koneksi internetnya tidak stabil. Sehingga saat perkuliahan, saya tidak bisa mengikuti kuliah penuh secara langsung. Tapi untungnya, saya masih bisa mendengarkan ulang dari hasil rekaman yang ada di Microsoft Teams. Nilai semester ini sepertinya lebih baik dari sebelumnya. Saya tidak tahu pasti IP semester ini karena masih ada mata kuliah yang belum keluar nilainya. Semester ini dapat dikatakan lebih santai ketimbang semester sebelumnya karena saya hanya menjadi asisten dosen. Sisa waktu dihabiskan untuk kerja kelompok dan mengerjakan tugas individu. Selain itu, saya juga melamar bekerja part time monitoring di suatu perusahaan konsultasi teknologi cloud computing sejak ujian tengah semester. Dikarenakan mata kuliah di mana saya menjadi asisten dosen, dihentikan dan akan dilanjutkan semester berikutnya. Semester depan teman-teman angkatan 2017 akan disibukkan dengan Tugas Akhir. Saya sendiri sudah memilih dosen pembimbing dan topik besar. Sejak pertengahan Juli 2020 kemarin, kami sudah memulai bimbingan dengan dosen untuk mempelajari topik.

Berbicara soal lingkup pertemanan, saya rasa semakin lama lingkup pertemanan saya semakin kecil. Bukan karena saya ada masalah dengan mereka, namun saya yang menghindar dari mereka. Hal itu bukan tanpa alasan, saya baru menyadari selama ini sebenarnya saya memang tidak sefrekuensi dengan mereka dan tidak dianggap. Tapi saya harap, itu semua hanyalah perasaan saya saja yang berlebihan. Tak diherankan mengapa saya semakin jauh dengan mereka, setiap kali diajak bermain ke mall, bioskop, atau sekedar nongkrong, saya sering menolaknya. Saya memilih menghemat uang dan menghabiskan waktu santai dengan bersih-bersih di kost dan mengerjakan tugas. Tak heran mereka tidak menghiraukan saya karena saya sendiri sering menolak ajakan mereka. Hal yang sama terulang ketika saya SMA. Saya sempat berkecil hati, namun sadar bahwa teman banyak itu tidak penting, satu atau dua sahabat sudah cukup bagi saya.

Keuangan keluarga tidak jauh membaik dari sebelumnya. Kondisi pandemi ini membuat kakak kedua saya kehilangan pekerjaan dan saat ini dia sudah mencoba melamar di berbagai tempat namun hasilnya masih nihil. Kakak pertama saya masih dapat bekerja dan saya yang juga bekerja part time setidaknya bisa meringankan sedikit beban orang tua. Soal iman, saya masih belum memantapkan hati untuk menetap pada satu agama. Setelah mendapat saran dari konselor saat bimbingan awal tahun ini, saya sempat mencari tahu prosedur belajar agama Katolik di dua gereja terdekat dengan kost. Namun sayangnya, saya terlambat karena pembelajaran sudah dimulai dari akhir tahun kemarin dan saya dianjurkan untuk mengikuti periode selanjutnya.

Tidak tahu kenapa sejak tahun lalu saya mulai mengalami pergumulan dalam diri saya. Banyak hal mengganggu pikiran saya, seperti keuangan keluarga, kesehatan orangtua, perkuliahan, pertemanan, masa depan. Padahal biasanya, saya bisa mengendalikannya dengan mudah, tetap fokus belajar walaupun hati sedang bersedih, bisa menutupinya dengan memasang wajah ceria agar tak ada yang mengetahuinya. Namun kali ini, saya kesulitan mengendalikannya, saya sering menyendiri dan murung. Suasana hati juga dengan mudah berubah-ubah. Namun, saya yakin semuanya akan baik-baik saja. Saya hanya perlu bersabar, tegar dan terus melangkah hingga semuanya kembali membaik.

Jambi, 16 Juli 2020
Felicia Oktavia
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-3
Mahasiswa Pogram Studi Teknik Industri UAJY Angkatan 2017

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA